Sabtu, 24 Feb 2018
radarjember
icon featured
Kesehatan

Dua Pelajar Kecanduan Game

Kamis, 18 Jan 2018 09:40 | editor : Dzikri Abdi Setia

Kecanduan Game, RSUD dr Koesnadi, Radar Ijen,

BERI PENDAMPINGAN: dr Dewi Prisca Sembiring SpKj berinteraksi dengan pasien ODGJ di ruang jiwa RSU dr Koesnadi, kemarin (16/1). (WAWAN DWI / RADAR IJEN)

Kecanggihan smartphone tak bisa dihindari dari kehidupan sehari-hari.  Semakin canggih perangkat gadget ini tidak hanya berdampak positif, tapi juga negatif. Seperti yang terjadi di dua pelajar SMP dan SMA yang alami gangguan kejiwaan, akibat ketagihan bermain smartphone 

Dokter poli jiwa RSU dr Kosenadi dr Dewi Prisca Sembiring SpKj mengakui, ada dua pasien yang alami gangguan jiwa akibat pemakaian smartphone. “Sekarang kondisinya membaik, dan sudah mau sekolah,” katanya. 

Awal kali menemukan hal yang aneh kedua pelajar tersebut, karena orang tua membawa ke poli jiwa lantaran anaknya tidak mau sekolah berbulan-bulan. “Sekitar September 2017, ya hampir bersamaan antara dua pelajar itu,” imbuhnya.

Saat berjumpa, Dewi sudah mengira terdapat perilaku yang menyimpang di dua pelajar itu. Diantaranya suka mengurung diri di kamar, sensitif, tidak mau sosialisasi, dan suka marah-marah. “Kami wawancarai. Mereka asyik sendiri dengan main game online di handphonenya,” katanya. 

Ditelusuri lebih dalam lagi, pasien yang masih anak-anak itu ada rasa membenci orang tuanya. Bahkan, hasil psikotes menunjukkan anak tersebut ada rasa ingin membunuh ayahnya karena marah tidak segera membelikan laptop.  “Laptop pernah hilang dicuri, anak itu merasa menyalahkan keteledoran ibunya,” katanya.

Lanjut Dewi, saat gadget smartphone yang digunakan main game online itu tidak diberikan. Terjadi perubahan emosional, marah, menendang, memukul, hingga membenturkan kepala.  “Seperti orang sakau,” tambahnya.

Game yang tak lepas darinya pun game berbasis perang online. Bahkan, dua pasiennya itu cita-citanya nyeleneh. “Cita-citanya ingin jadi gamer. Katanya bisa dapat poin, dan dijual. Pekerjaan ini kan tidak nyata,” terangnya.

Dia menjelaskan, OMDK seperti main game yang berakibat tidak mau sekolah, dan berprilaku menyimpang lainnya. Diantaranya kecanduan judi, alkohol, seks, dan tindakan tak bermoral tersebut karena ada gangguan di otak. Berdasarkan penelitian, kata Dewi, otak bagian depan mengecil. Fungsi otak bagian depan ini menyaring tentang kebenaran, dan keadilan moral. 

Bahaya game pun juga diakui oleh organisasi kesehatan dunia World Health Organization (WHO) yang dinamakan gaming disorder atau diterjemahkan gangguan permainan. Gaming disorder itu pun masuk kepada gangguan jiwa. “Sebenarnya banyak hal karena game terjadi gangguan jiwa. Tapi banyak orang tak mengetahui, dan tak terekspos saja,” katanya. 

(jr/dwi/wah/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia