Selasa, 20 Feb 2018
radarjember
icon-featured
Spotlight

Hasilkan Limbah Medis Lebih dari Satu Ton Per Hari

Selasa, 16 Jan 2018 06:40 | editor : Dzikri Abdi Setia

Limbah Medis, Spotlight Radar Jember,

PROSES: Incinerator limbah B3 RSD Soebandi yang diharapkan bisa menjadi pusat pengelolaan limbah berbahaya rumah sakit. (KHAWAS AUSKARNI/RADAR JEMBER)

Di Jember, dalam sehari diperkirakan lebih satu ton limbah medis dihasilkan akibat operasional rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya. Tapi nyatanya, pengolah limbah nya boleh dibilang masih jauh dari memadai. Dulu limbah padatnya dibuat di TPA Pakusari. Kini, karena banyak yang belum  bisa mengolah sedniri, akhirnya menggandeng pihak ketiga.

SAMPAI satu ton sehari? Limbah apa sajakah itu? Begitulah. Faktanya, dari penelusuran Jawa Pos Radar Jember, diperkirakan lebih satu ton limbah medis dihasilkan dalam 24 jam. 

Angka itu dirata-rata dari banyaknya rumah sakit, klinik, maupun fasilitas kesehatan lainnya di Jember.  Di Jember, ada 11 rumah sakit negeri maupun swasta. Ada 50 Puskesmas, dan 62 klinik. Belum lagi puskesmas pembantu.  

Layanan kesehatan itu terus beroperasi. Bahkan, untuk rumah sakit tak mengenal yang namanya libur. Dan setiap kali beroperasi, sudah tentu limbah dihasilkan. Limbah itu dikenal dengan sebutan limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun).

Ada dua jenis limbah yang dihasilkan dari proses medis, cair dan padat. Sesuai standar, limbah cair ditangani melalui Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL). Sementara yang padat dimusnahkan dengan cara lain, salah satunya dengan incinerator B3. 

Terbitnya aturan Kementerian Lingkungan Hidup Nomor 56 Tahun 2015 secara otomatis mengubah pola penanganan limbah B3. Sebelum aturan itu keluar, pemusnahan limbah B3 di Jember diatasi dengan incinerator B3 yang ada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari di bawah naungan  Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jember. 

Koordinator Pengelola Sampah TPA Pakusari Masbud menyebut, incinerator B3 yang dimiliki TPA Pakusari tidak bisa memenuhi standar yang diharuskan oleh Permen LHK Nomor 56 Tahun 2015. Hal itu pula yang lantas membuat izin operasional incinerator B3 pada TPA tersebut tidak keluar. “Saat masih difungsikan, incinerator B3 TPA Pakusari menerima kisaran 1 ton limbah B3 per hari,” terangnya.

Tidak berfungsinya incinerator B3 TPA Pakusari lantas membuat sejumlah fasilitas kesehatan yang selama ini memanfaatkannya terpaksa beralih tempat. Tidak terkecuali tiga rumah sakit daerah milik Pemkab Jember. 

Kepala Instalasi Penyehatan Lingkungan/Sanitasi RSD Soebandi, Harifin mengatakan, saat ini RSD Soebandi bekerja sama dengan PT Putra Restu Ibu Abadi (PT PRIA). Perusahaan ini bergerak dalam bidang jasa pengangkutan, pemanfaatan, dan pengolahan limbah B3, berpusat di Mojokerto. “Sejak pertengahan 2016 kami sudah memindahkan penanganan limbah medis kami dari incinerator B3 di TPA Pakusari ke PT PRIA,” terang Harifin.

Dalam sehari, RSD Soebandi memproduksi kisaran 200 hingga 250 kg  limbah medis padat. Sebelum diambil PT PRIA, kata Harifin, limbah tersebut terlebih dulu ditimbun dalam depo B3 berukuran 48 kubik. “Sesuai MoU, tiap dua hari sekali limbah medis kami diambil pihak rekanan (PT PRIA, Red),” ujarnya. 

Sambil sementara mengandalkan pihak ketiga untuk menangani limbah, lanjut Harifin, saat ini RSD Soebandi tengah berupaya merampungkan pembangunan incinerator B3 yang bernilai Rp 1,9 miliar lebih. Menggunakan dana Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), di luar APBD. Perencanaan proyek yang mulai dikerjakan sejak 7 November itu menargetkan penyelesaiannya akhir 27 Desember lalu. “Setelah incinerator ini jadi, kami bisa menangani limbah B3 secara mandiri,” kata dia. 

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jember Siti Nurul Qamariyah menjelaskan, setelah incinerator B3 RSD Soebandi beroperasi, maka pengelolaan limbah B3 pada seluruh fasilitas kesehatan pemerintah akan diarahkan ke sana. Mulai dari puskesmas hingga tiga rumah sakit milik Pemkab Jember, limbahnya semua akan diproses di sana. “Dalam pejalanannya nanti juga kami upayakan untuk mengakomodasi dari limbah B3 dari fasilitas kesehatan swasta,” terang Nurul.

Namun apa yang disampaikan Nurul sepertinya tidak gampang. Pasalnya, sementara ini, incinerator B3 RSD Soebandi hanya berbekal SK Gubernur tentang Baku Mutu Limbah Cair. Sementara untuk bisa dipakai oleh fasilitas kesehatan di luar RSD Soebandi, incinerator tersebut harus lebih dulu mengantongi perizinan tingkat nasional.

Di balik semua itu, penanganan limbah B3 ternyata tidak murah. Sepanjang 2017, Rumah Sakit Daerah (RSD) Balung mesti menganggarkan dana Rp 168 juta khusus untuk menangani B3. Direktur RSD Balung Nur Cahyo Hadi menuturkan, dana sebesar itu ternyata tidak cukup untuk membayar penanganan limbah B3 pada PT PRIA. ”Biaya limbah B3 per satu kilogramnya seharga Rp 27 ribu. Jika volume kunjungannya semakin padat, maka sampah medis yang dihasilkan juga semakin banyak,” terangnya. 

(jr/was/ras/das/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia