Jumat, 19 Jan 2018
radarjember
icon featured
Features

Mereka Memburu “Harta Karun Soekarno” di Bukit Mandigu

Selasa, 12 Dec 2017 09:40 | editor : Dzikri Abdi Setia

pemburu harta karun soekarno, radar jember,

SEMPIT: Pintu masuk gua sangat sempit. Meseki demikian para pemburu harta karun nekat keluar masuk untuk mengambil sesuatu yang diyakininya sebagai harta karun di dalam gua. (Jumai/Radar Jember)

Tak semua informasi benar adanya. Apalagi cerita tentang harta karun. Bisa-bisa, seperti empat orang yang menjadi korban di dalam gua di Bukit Mandigu, Mumbulsari ini. Nyawa menjadi akhir perburuan mereka. 

Gua di Bukit Mandigu di Petak 42 Mumbulsari, itu lumayan mistis. Pintu masuk gua, ada semacam tulisan kuno berpadu Arab. Meski saat mencoba membaca tulisan Arab, tidak begitu jelas maksudnya. Tambah lagi ada gambar bintang, seperti bendera Israel berwarna kuning.

Sisi kanan pintu masuk gua, ada batu besar tertulis lirik lagu Indonesia Raya. Tulisan lirik lagu itu juga dicat sama, warna kuning. Bahkan di bawah tulisannya, ada tanda-tangannya. Mungkin yang dimaksud, tanda-tangan itu milik pecinta lagu nasional, Wage Rudolf Supratman.

Semakin merinding, di beberapa sudut pintu gua, ada dupa hio yang biasa digunakan untuk ritual. Dupa masih menyala. Bahkan aroma khasnya, begitu menyengat. Bertambah kental suasana mistis, karena di sana juga ada sesajen. 

Memang sesajen di sana tidak begitu lengkap. Hanya ada bunga yang mengering. Disandingkan satu kelapa kering. Namun di antara sesajen tersebut, ada dua bendera merah putih, bersanding gambar sang proklamator Ir Soekarno.

Gua itu sedari siang kemarin, ramai menjadi perbincangan. Penyebabnya, ada empat orang di dalam gua yang tak bisa keluar. Mereka lemas. Tiga meninggal dunia dan seorang di antara mereka, selamat meski masih kritis.

Mencari gua yang dimaksud, sebenarnya tidak begitu sulit. Melintas melewati jalan samping kantor Desa Suco, Mumbulsari, menuju Puncak Mandigu di Desa Lampeji. Supaya tidak tersesat, tanya masyarakat sekitar arah ke lokasi paralayang.

Ya. Gua itu tak jauh dari puncak yang biasa dipakai olahraga paralayang Bukit Mandigu. Namun, jika ke lokasi paralayang harus ambil arah kanan, sedangkan ke gua itu harus memilih jalan yang ke kiri. Semakin mudah menemukan gua itu, karena atap terpal warna biru tampak begitu mencolok.

Mantri Perhutani yang bertanggungjawab di Bukit Mandigu, Adi Yulianto, sejak tiga bulan lalu, mengaku menerima laporan warga sekitar, bahwa gua tersebut banyak di tempati orang luar desa. “Kabarnya memang dijadikan tempat ritual,” tuturnya.

Merasa tidak pernah mengeluarkan izin, pihaknya pun sempat meminta orang yang di gua untuk pulang. Namun seminggu lalu, ada lagi laporan demikian. “Pernah kami obrak-abrik tempatnya. Tapi mereka datang lagi,” akunya.

Diakui Adi, lahan di petak sekitar gua memang tidak ada yang rusak. Karena mereka bukan penambang emas. Melainkan pemburu emas harta karun, yang konon peninggalan Soekarno. “Kabar berburu harta karun, sudah banyak diketahui warga di bawah bukit,” imbuhnya.

Seorang warga yang mengaku bernama Sutris, beberapa kali papasan dengan mereka “penghuni” gua. Saat ditanya, mereka cukup tertutup. Awalnya mengaku penambang emas. Namun saat didatangi petugas Perhutani bersama warga, mereka beralih mengaku datang hanya sekedar ritual. “Tapi ada satu diantara mereka, dengan polosnya datang ke gua untuk mencari harta karun,” tuturnya.

Beberapa kali, Sutris, melihat ada sejumlah orang mengendarai mobil dan parkir di perkampungan. Kemudian, orang tersebut naik ke bukit sambil membawa sesuatu. Dia meyakini, mereka yang datang dengan mobil itu, mengirimkan logistik kebutuhan hidup yang ada di sekitar gua.

Kini, gua yang mereka yakini mengubur harta karun Soekarno itu telah mengubur tiga pemburunya. Tiga pemburu harta karun harus meregang nyawa di dalamnya. Polisipun akhirnya menutupnya. Garis polisi warna kuning dipasang  mengeliling gua yang menandakan, tidak boleh lagi ada orang masuk ke sana. 

(jr/rul/jum/ras/das/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia