Selasa, 16 Jan 2018
radarjember
icon featured
Features
Melongok Eksistensi PAUD di Lokalisasi Besini

Ruang Mulai Ambrol, Terpaksa Belajarnya Ngungsi ke Masjid

Senin, 11 Dec 2017 10:10 | editor : Dzikri Abdi Setia

pendidikan anak usia dini, eks losisi besini, Radar Jember,

MENGENASKAN: Dulu bangunan ini adalah dipakai untuk balai kesehatan lokalisasi Puger. Sekarang, dialihfungsikan untuk pendidikan PAUD. (Hadi sumarsono/Radar Jember)

Di tengah hingar bingar eks lokalisasi Besini di Dusun Krajan, Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger ternyata ada sebuah pusat pendidikan anak usia dini (PAUD). Namanya PAUD Nurul Ikhsan. Meski ruangnya mulai bobrok, namun bangunan yang dulu dipakai sebagai ruang kesehatan itu tetap dioptimalkan.

Gedung yang kondisinya sangat tidak layak itu memiliki tiga ruangan. Dua ruangan dipakai sebagai tempat belajar, yang masing-masing luasnya hanya sekitar 5 x 4 meter saja. Sementara satu ruangan sisanya, difungsikan sebagai kantor. 

Tidak ada kursi belajar dalam semua ruangan itu. Hanya meja pendek (dampar) dan alas lantai sebagai tempat duduk para siswa. Bahkan, di ruang utama yang dipakai belajar, juga teronggok sebuah kasur plus bantal. 

Bahkan ruang kantor sekarang nyaris sudah tak berani pakai, karena atapnya jebol. Rupanya, anak-anak juga takut roboh.

Ruangan itu benar-benar salbut. Ruang hanya kelihatan sebagai tempat belajar anak-anak, ketika di seluruh tembok banyak hiasan anak-anak. ”Ini rata-rata kreasi anak-anak,” tutur Kepala PAUD Nurul Ikhsan, Nur Nabaiyah, 39, kemarin.

Dia menyebut, di kelas darurat itu  ada sekitar 15 belas siswa. Sebagian siswa adalah anak warga perkampungan nelayan di Dusun Tendas, Desa Puger Kulon. Sebagian lainnya adalah anak-anak warga penghuni eks lokalisasi Besini.  

”Awal-awal berjalannya kegiatan belajar di tempat ini, siswanya mencapai 25 anak. Namun, seiring berjalannya waktu jumlahnya terus menyusut hingga sekarang tersisa 15 saja,” katanya.

Musim hujan saat ini ternyata membawa bencana bagi kegiatan belajar di PAUD tersebut. Pada akhir November lalu (tepatnya tanggal 27/11) salah satu atap ambrol. Ruang bagian tengah yang paling parah. 

”Kami lantas berinisiatif untuk sementara waktu ngampung di Masjid Nurul Hidayah yang terletak beberapa meter di sebelah barat PAUD tersebut,” kata Kepala PAUD Nurul Ikhsan ini. 

Nur Nabaiyah adalah sosok di balik perintisan dan pendirian PAUD tersebut. Dia menyebut, niat awal hanyalah memanfaatkan ruangan (yang tidak dipakai sejak penutupan lokalisasi Besini pada 2007 silam) tersebut sebagai tempat belajar. Sebab, di kawasan hitam itu pendidikan anak-anak sangat terabaikan. ”Di sini jauh dari sekolah,” ujar ibu dua anak itu.

Lantar jauh dari akses pendidikan, banyak anak-anak di Tendas  yang tidak pernah merasakan duduk di bangku sekolah, sekalipun sekolah tingkat dasar. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang belum bisa melihat sisi penting dari pendidikan. 

“Ada satu keluarga yang terdiri dari enam anggota keluarga. Tapi tidak ada satu pun yang pernah sekolah. Saat orang tuanya saya tanyai kenapa anaknya tidak disekolahkan, mereka menjawab jika hal itu (sekolah, Red) tidak perlu,” tuturnya. 

Di awal pendirian PAUD, Nur Nabaiyah melewati perjuangan. Bagaimana tidak, untuk membuat kegiatan belajar tetap hidup, dia mesti memangkas jatah rumah tangganya untuk dialokasikan sebagai kegiatan operasional PAUD. Juga gaji untuk dua guru yang direkrutnya untuk membantu. “Awal-awal dulu memang ada SPP, tapi sekarang sudah tidak ada lagi,” ucapnya. 

Dia mengambil kebijakan lunak dalam pemungutan SPP. Sebab, saat warga Tendas mau menyekolahkan anaknya saja, itu sudah cukup baik.

Padahal, sebulan sekali dia mesti menggaji dua orang ‘guru’ yang ikut mengajar. Kendati gajinya tidak besar, hanya Rp 100 ribu per guru. Satu-satunya sumber untuk menggaji mereka adalah uang pribadinya. 

“Itu jatah rumah tangga dari suami saya. Makanya saat memulai kegiatan ini, saya izin dulu ke suami. Dan alhamdulillah suami mendukung,” katanya. 

Belum lama ini, dua pengajar yang menemaninya sejak awal telah mengundurkan diri. Yang satu berhenti karena menikah dan harus ikut suaminya. Satunya lagi, berhenti lantaran mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan lebih layak. Beruntung tidak lama setelah itu Nur Nabaiyah mendapatkan penggantinya. 

Bukan cuma gaji pengajar yang mesti dia tanggung, tapi juga beragam kebutuhan operasional sekolah. Juga kebutuhan siswa seperti seragam, buku, dan alat tulis lainnya. 

Nyaris tidak adanya sumber pendanaan selain dari uang pribadinya. Itu yang membuatnya tidak kunjung bisa mewujudkan legalitas yayasan. Sebab, Yayasan Nur Ikhsan yang saat ini menaungi PAUD yang dibinanya itu, belum memiliki akta pendirian maupun pengesahan dari Kemenkumham. “Kami belum punya biaya untuk mengurus,” ucapnya. 

Hal itulah yang membuat bantuan lembaga tersebut tertutup dari bantuan luar. ”Sejak berdiri, tak pernah memperoleh bantuan dari pihak luar,” jelas Nur Nabaiyah. 

Kendati demikian, dia tidak terlalu menyoal permasalahan itu. Hanya, yang dia harapkah adalah dua pengajar yang membantunya mendidik anak-anak PAUD Nurul Ikhsan bisa terdata lantas mendapat bantuan honor dari pemerintah. Paling tidak, saat keduanya masuk dalam pengajar yang berhak menerima donor, Nur Nabaiyah tidak perlalu lagi menyisihkan uang bulanannya dari suami untuk menggaji mereka.

(jr/was/das/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia