Selasa, 24 Apr 2018
radarjember
icon-featured
Spotlight
Gaya Hidup Para Lady Companion

Malamnya Pakai Baju Mini, di Kampus Berjilbab

Selasa, 05 Dec 2017 09:45 | editor : Dzikri Abdi Setia

hiburan malam jember, Radar Jember,

(sugeng prayitno for radar jember)

Kehidupan dunia gemerlap tidak akan lepas dari sosok cewek-cewek cantik selaku penghibur. Begitu juga dengan hiburan malam yang ada di Jember. Seperti apa kehidupan sehari-hari para perempuan yang disebut LC (lady companion atau lady escort) setelah semalaman begadang dengan lelaki yang mem-bookingnya?

Jam tangan sudah menunjukkan sekitar pukul 01.00 WIB. Namun suasana di salah satu tempat hiburan ini masih saja ramai. Meskipun sepintas tampak sudah tutup. Namun, aktivitas di dalam masih cukup ramai. Konon, ini untuk menyiasati aturan tempat hiburan yang harus tutup pukul 00.00 WIB.

Begitu juga dengan dua sosok perempuan dengan pakaian minim yang tampak menunggu jemputan. Saat mereka ditawari diajak untuk melanjutkan ke tempat lain mereka menolak halus. “Ndak Mas, besok harus kuliah,” ucap perempuan sekitar 20 tahunan yang ternyata mahasiswi di salah satu universitas negeri di Jember ini.

Dia mengaku sudah masuk semester 8. Sehingga waktu kuliah sudah tidak terlalu padat dibandingkan saat awal-awal kuliah. Hani, sebut saja namanya demikian. Dia mengaku berasal dari Probolinggo. Menjadi LC alasannya cuma iseng. “Daripada diem di kosan. Kuliah juga sudah tidak banyak,” terangnya.

Benar saja. Jawa Pos Radar Jember pernah memergokinya di sekitar kampus. Namun penampilan Hani siang itu berbeda betul. Tak terlihat keseksiannya seperti malam saat Jawa Pos  Radar Jember menemuinya di sekitar tempat dugem. 

Siang itu Hani berkerudung. Ya, memakai jilbab layaknya muslimah itu. Penasaran, wartawan koran ini pun lantas menyapanya. Lalu menggodanya dengan beberapa pertanyaan nakal. Hani merespons. “Ya kuliah Mas, masak mau make baju kayak malem-malem itu,” katanya enteng, lalu tersenyum.  

Dia mengaku, tak banyak orang yang tahu aktivitasnya sebagai LC. Lebih-lebih keluarganya. “Gak ada yang tahu. Kalau keluarga tahunya kuliah,” ucapnya tersenyum.

Biasanya, usai dari kampus dirinya tidak langsung pulang. Tiga hari sekali dia melakukan perawatan di beauty center dan juga memanjakan diri di salon. Dalam sekali nyalon cukup banyak biaya yang dikeluarkan. “Kalau hanya perawatan biasa paling Rp 200 ribu. Tapi kalau full ya bisa Rp 500 ribu-1 juta,” tuturnya.

Biaya itu masih mencukupi dengan pendapatan hariannya menjadi pendamping bernyanyi dengan bayaran sekitar Rp 400-500 ribu per hari. Selebihnya, biasanya untuk berbelanja sepatu dan pakaian terbaru. Tidak mau membeli di pusat pertokoan karena biasanya memilih butik. “Kalau baju cari yang limited edition. Malu kalau ada yang sama,” paparnya.

Jika Hani hanya sekadar iseng, berbeda dengan rekannya Asti, juga bukan nama sebenarnya. Dia memang bukan anak kuliahan. Dia cuma lulusan sebuah SMK negeri di Jember. Dia mengaku, terpaksa menjadi LC karena kebutuhan hidup. “Kalau di rumah ngakunya kerja di toko pagi hari dan di kafe saat malam,” terang Asti.

Hal ini dia lakukan untuk membantu perekonomian keluarga. Meskipun di hati kecilnya dirinya ingin melanjutkan kuliah seperti rekan-rekan yang lainnya. Namun, sepertinya keinginan itu belum bisa direalisasikan dalam waktu dekat. Dirinya mengaku masih menabung untuk kebutuhan lainnya di rumah.

Ternyata, mereka kebanyakan menyembunyikan pekerjaan bukan hanya di hadapan keluarga, namun juga pacarnya. Karena dia mengaku sulit mencari pria yang menerima perempuan dengan pekerjaan  seperti itu. “Paling kalau mau, sudah suami orang,” ucapnya disertai tawa yang meledak. Dan hal itu, diakuinya sudah lumrah terjadi di kalangan LC, yakni menjadi simpanan pria lelaki hidung belang. 

Asti buru-buru meluruskan, tidak semua LC begitu. Namun, dia mengaku tahu betul mana saja rekannya yang menjadi simpanan pria-pria hidung belang itu. “Biasanya rumahnya dikontrakkan. Kalau tidak ya dicarikan kosan yang bebas,” jelasnya. Meskipun dijadikan simpanan, masih dibolehkan untuk bekerja menjadi LC.

“Yang beruntung kalau dapat pengusaha muda, masih bujang dan menjadikan kami istri,” ucapnya. Namun, menurut Asti, hal itu rasanya mustahil. 

Asti juga mengaku, suatu waktu dia akan mentas dari dunia kelam itu. Dia berharap suatu saat kelak bisa memiliki usaha atau menjadi pekerja kantoran dan membina rumah tangga yang baik.

Sementara itu, bagi para LC ini ternyata ada hal yang cukup menjadi tanda LC berkelas atau tidak. Biasanya mereka memilih kosan yang bebas, baik menerima tamu maupun jam pulang. Karena rata-rata mereka pulang dini hari bahkan pagi hari. Untuk kosan mereka rata-rata mencari yang fasilitasnya lumayan dan bertarif di atas Rp 1 juta sebulan.

Ada juga yang memilih ngekos yang tarifnya sampai Rp 2,5 juta per bulan. Tentu saja fasilitasnya sangat memadai. Asti lantas memberitahu kos-kosan  bertarif mahal itu. “Kalau yang di kosan itu (bertarif mahal), biasnya LC sudah menjadi pekerjaan hariannya,” jelasnya. 

Jawa Pos Radar Jember lantas mencoba menelusuri kos-kosan istimewa tersebut. Cukup rumit juga untuk bisa masuk ke tempat kos itu. Ditanya macam-macam sama penjaganya. Akhirnya, setelah beralasan survey karena ada teman yang mau ngekos di sana, wartawan koran ini bisa masuk.   

Begitu masuk ke dalam, sepintas bukan seperti kos-kosan. Melainkan mirip penginapan mewah. Halaman parkir cukup luas. Banyak mobil parkir di sana. Kamarnya juga lumayan luas sekitar 3 x 5 meter. Ada kamar mandi, dapur dan fasilitas AC serta lemari es.

(jr/ram/ras/das/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia