Senin, 21 May 2018
radarjember
icon featured
Kesehatan

Waspadai Penyakit GBS

Kamis, 23 Nov 2017 07:35 | editor : Dzikri Abdi Setia

Guillain Barre Syndrome, RSD dr Soebandi, Radar Jember,

SAKIT: Renda, warga Banyuwangi yang juga mahasiswa Unmuh Jember, salah satu pasien GBS yang masih dirawat di RSD Soebandi Jember, kemarin. (Rully Efendi/Radar Jember)

Jangan sepelekan diare. Lebih-lebih jika tak kunjung sembuh. Sebab, berawal dari diare sejumlah pasien di RSD dr Soebandi Jember terdeteksi menderita penyakit serius yang di dunia medis disebut Guillain Barre Syndrome (GBS).

Penderita penyakit ini memang tidak banyak. Namun, perlu diwaspadai. Bukan hanya karena biaya pengobatan serta pemulihan yang lumayan mahal, tapi dampak penyakit ini bisa cukup serius. Pasien bisa lumpuh permanen.   

Kemarin, Jawa Pos Radar Jember mendatangi pasien dengan diagnosis GBS. Dia adalah Indira Agasta Permatasari. Namun, Indira tak bisa ditemui karena masih tergolek di ruangan ICU. Hanya ibu dan ayahnya yang bisa dijumpai.

Wartawan koran ini lantas menemui dr Komang Yunita SpS. Dia adalah dokter yang merawat Indira. Dia menjelaskan, GBS berasal dari gangguan sistem kekebalan tubuh yang menyerang saraf pasien. Dia juga menyebutnya autoimun. Sebab katanya, di situ tubuh yang menyerang tubuhnya sendiri. “Penyakit GBS muncul karena antibodi yang diproduksi tubuh menyerang sistem sarafnya sendiri,” jelasnya.

Serangan antibodi itu mengakibatkan sel saraf rusak. Sehingga, membuat penderitanya mengalami kelumpuhan di keempat anggota gerak seperti lengan dan tungkai. Selain itu, penderita juga susah bernapas. “Tergantung saraf bagian mana yang diserang,” katanya. 

Menurut dr Komang, ada beberapa gejala penderita GBS yang bisa diketahui jauh sebelumnya. Salah satu tandanya, dua minggu sebelumnya ada infeksi yang diderita pasien.

Selain itu, seperti pada kasus pasien yang ditanganinya, mereka dua minggu sebelumnya mengalami diare. Gejala lain yang dirasakan pasien seperti infeksi saluran pernapasan (ISPA).  Bisa seperti itu, karena masuknya kuman ke dalam tubuh yang akhirnya menyebabkan infeksi. 

Meski demikian, tidak semua infeksi bakteri penyebab diare dan ISPA berujung pada penyakit GBS. Berlanjut menjadi penyakit GPS, karena diare dan ISPA terjadi lantaran infeksinya disebabkan kuman tertentu bernama campylobacter. 

Dia mengatakan, struktur fisik dari bakteri jenis ini mempunyai kemiripan dengan saraf manusia. Sehingga, antibodi mengiranya sebagai kuman yang masuk, lantas dimakan. “Saat itulah penyakit GBS terjadi,” jelasnya.

Hanya saja, sebelum terjadi GBS, tidak bisa dibedakan antara penderita infeksi yang dipicu oleh campylobacter dengan yang ditimbulkan kuman biasa. Barulah setelah dua minggu sejak penderitanya terinfeksi campylobacter, tubuh akan mulai menampakkan adanya kelumpuhan.

Penyembuhan itu bisa dilakukan dengan terapi. Biasanya, terapi dilakukan dalam waktu 6 bulan. Namun dari pengalaman sejumlah pasiennya, sebelum 6 bulan sudah ada yang sembuh total. Semua tergantung pada niatan untuk sembuh. “Alhamdulillah, pasien yang kami rawat bisa sembuh total,” akunya.

Sementara itu, M. Taufikul Hadi -ayah pasien Indira, mengaku bahwa anaknya diketahui menderita GBS dan dirawat sejak Kamis (21/11) pekan kemarin. Namun sebelumnya, anaknya mengalami sakit maag. “Sebelumnya dirawat ke RSD Seobandi. Tapi karena anak ingin pulang, kami bawa pulang,” akunya.

Sesampai di rumahnya, sakit maag anaknya semakin menjadi. Bahkan, tangannya mulai sulit digerakkan. Karena khawatir, dia dan istrinya kembali merujuk anaknya ke RSD Soebandi. Setelah diperiksa dokter, Indira kemudian divonis sakit GBS.

(jr/was/rul/ras/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia