Senin, 20 Nov 2017
radarjember
icon featured
Radar Ijen

Azwar Anas Ungkit Usaha Diskop

Rabu, 15 Nov 2017 14:35 | editor : Dzikri Abdi Setia

Diskop Bondowoso, Radar Ijen,

DITEMUI KABID KOPERASI: Aswar Anas dan para pekerja saat mengeluarkan keluh-kesah di Aula Diskoperindag, kemarin. (Sholikhul Huda/Radar Ijen)

Usaha penggergajian yang dikelola UPT Diskoperindag disoal Azwar Anas. Namun bukan Azwar Anas Bupati Banyuwangi, melainkan Azwar Anas warga Dusun Sumber Ayu, Desa Pejaten, Bondowoso. Dia adalah pengelola Industri Rumah Tangga (IRT) dalam bidang mebeler. 

Siang kemarin (13/11), dia bersama belasan orang yang selama ini bekerja kepadanya dibidang meubeler, mendatangi Kantor Diskoperindag. Tujuannya untuk meminta kejelasan dari Diskoperindag. Sebab yang menjadi masalah adalah perusahaan gergaji yang dikelola UPT Perindustrian dan Perdagangan. Tepatnya di Desa Pejaten. “Kami ingin meminta penjelasan, sebab karena kasus ini, para pekerja saya tidak bisa bekerja,” jelas Azwar Anas.

Dia menjelaskan, kronologi kejadiannya berawal saat dirinya hendak menggergaji kayunya. Saat itu dia memasukkan kayu ke tempat penggergajian yang dikelola UPT Koperindag yang ada di Pejaten. “Sebelum kayu itu digarap menjadi barang meubeler, terlebih dahulu diproses gergaji, dan saat itu saya menggunakan jasa tempat gergaji yang dikelola Diskoperindag,” paparnya. 

Dirinya memasukkan kayu Selasa pekan lalu. Saat itu pihak pengelola penggergajian, menjanjikan hari Sabtu mau digarap. Namun nyatanya, pada hari itu, justru menggarap milik orang lain. Karena merasa kesal, dirinya membawa kayu sekitar 1,5 kubik ke tempat gergaji lainnya. “Saya membawa sekitar delapan kubik, dan pada hari Sabtu masih utuh, saya kan kesal,” ungkapnya.

Kejadian seperti itu, rupanya tidak hanya sekali saja dan tidak dialami dirinya sendiri. Beberapa pengusaha IRT mebeler juga merasakan hal yang sama. Seperti Kaprawi, dia juga sempat mengalami penundaan. “Tidak hanya saya, banyak yang lainnya,” ujarnya. 

Karena itu, Azwar Anas bersama belasan orang mendatangi kantor Diskoperindag agar ada pembenahan. Sebenarnya, kata dia, masalah patokan harga sama saja dengan tempat penggergajian lainnya. Yakni per kubik dihargai Rp 145 ribu. Yang disesalkan, tempat itu milik pemerintah, namun manajemennya justru kalah dengan yang lainnya. “Kami sangat menyesalkan, harapan kami ada pembenahan,” tegasnya. 

Sementara di diskoperindag, mereka ditemui oleh tiga orang diskoperindag. Kabid Koperasi Sunargi menjelaskan, dalam hal ini pihaknya menerima keluh kesah mereka dan tentunya akan melakukan evaluasi. “Intinya kami mewadahi keluh-kesah masyarakat,” terangnya. 

Pihaknya mengapresiasi langkah masyarakat yang langsung datang kepadanya. Sebab dengan keluh-kesah itu, pihaknya bisa melakukan evaluasi. Tentunya dengan melakukan pembenagan ditingkat bawah. 

(jr/hud/wah/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia