Sabtu, 24 Feb 2018
radarjember
icon-featured
Spotlight

Ojek Online: Hadir Dengan Solusi Tapi Juga Masalah

Selasa, 07 Nov 2017 05:05 | editor : Dzikri Abdi Setia

ojek online, gojek, radar jember

(jumai/radar jember)

Ojek online. Kita sebut saja dengan ojol. Belakangan transportasi berbasis teknologi itu begitu marak dan diminati. Bahkan, sebelum perusahaan raksasa macam Gojek, Grab, maupun Uber menyasak Jember, sudah banyak ojek online lokalan yang beroperasi. Mereka sempat berjaya. Kini mereka juga terjepit, sama seperti ojek konvensional. 

Seperti di daerah lainnya, angkutan online berbasis aplikasi pecah jadi masalah. Pun demikian di Jember. Sopir angkot dan ojek pangkalan beraliansi, menggelar aksi demonstrasi menolak ojek online hadir di Jember, Selasa (31/10) pekan kemarin.

Sebelum menggelar aksi demo meminta Pemkab Jember melarang ojek online, gesekan di antara mereka pun sering terjadi. Bahkan, polisi pernah menerima laporan dugaan penganiayaan yang dilakukan ojek pangkalan di Terminal Tawang Alun terhadap driver Gojek.

Hadi, salah seorang pengelola Gojek di Jember, Terminal Tawang Alun menjadi salah satu wilayah merah yang dinilainya berbahaya pecah konflik. Selain di sana, Stasiun Kereta Api (KA) Jember, juga menjadi catatan wilayah rawan. Bahkan diakuinya, kunci motor driver Gojek pernah dirampas oknum ojek pangkalan Stasiun KA Jember.

Penyebabnya karena driver Gojek dinilai menyerobot lahan ojek pangkalan. Menyikapi yang demikian, sebenarnya pihak Gojek mengambil inisiatif untuk mengatur zonasi. Artinya, ada beberapa titik yang tidak diperbolehkan driver-nya di zona bahaya.

Namun kata Hadi, bukan kemudian driver Gojek diharamkan mengambil penumpang dari Terminal Tawang Alun maupun Stasiun KA Jember. “Hanya saja mereka tidak boleh jemput di dekat terminal dan stasiun itu. Kami minta agak jauh untuk keselamatannya mereka masing-masing,” jelasnya.

Sehingga saat Polres Jember memfasilitasi dialog antara ojek online dan pangkalan, Kamis (2/11) pekan kemarin. Pihak Gojek langsung menuruti permintaan batas wilayah opersional yang diusulkan ojek pangkalan. Batas wilayah operasional yang dimaksud sama persis dengan konsep zonasi. Hanya saja ada tambahan satu titik di wilayah Terminal Arjasa.

Kesepakatan yang dibumbui tandatangan bermaterai yang berisi tentang deklarasi damai, rupanya mulai efektif di lapangan. Seperti yang diakui Wakil Ketua Pagujuban Ojek Pangkalan se-Jember, Suryadi. Pria yang mangkal di Pangkalan Kedawung, itu mengaku bahwa Gojek dan ojek pangkalan bisa bekerja dengan bingkai persahabatan.

Menurut Suryadi, anggotanya mulai memahami pola kerja Gojek, yang senyatanya menjadi kompetitor terberatnya. Namun dia menegaskan, semisal ada persoalan di lapangan yang menyimpang dari perjanjian di Polres, anggotanya tetap tidak boleh main hakim sendiri. “Saya minta untuk melapor, kemudian saya teruskan ke pengelola Gojek,” katanya.

Beberapa pola curang yang dituding pernah dilakukan ojek online, menurut Yusuf – Perwakilan Pangkalan Stasiun Jember, datang mencari penumpang di wilayahnya dengan modus membalik jaket Gojek, yang semula warna hijau jadi hitam. Sementara helm Gojek, disimpannya di dalam tas.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jember, Isman Sutomo, menilai persoalan angkutan konvensional dengan online di Jember, seperti bom waktu yang bisa saja sewaktu-waktu meledak seperti daerah lainnya. Karenanya, sesuai perintah Bupati Jember, pihaknya memberi perhatian serius supaya keduanya bisa sama-sama eksis dan tidak ada yang dirugikan.

Isman, bersama timnya mengaku telah mengurai persoalannya. Katanya, penyebabnya karena persaingan yang tidak imbang. Meski pun sebenarnya, ojek konvensional maupun sopir angkot, bisa mengimbangi bahkan lebih mengungguli. “Salah satu kuncinya, harus berani mengubah pola pikir lama,” katanya.

Merubah mindset yang dimaksud, bukan kemudian ikut-ikutan memilih online beraplikasi android. Sebab yang diyakininya, mereka memiliki pangsa pasar yang berbeda. “Maksudnya pola pelayanan yang perlu ditingkatkan. Soal sistem, semua sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan,” yakinnya.

Katanya, intervensi yang bisa dilakukan Pemkab Jember, memfasilitasi ojek pangkalan supaya bisa berseragam menyaingi ojek online. “Tentu mereka harus mau berubah lebih baik. Kami sudah menyiapkan helm yang tidak kalah dengan Gojek,” akunya. Helm itu akan dibagikan gratis ke ojek online. Kemudian, seragam juga sudah dirancang.

Sementara itu, Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Jember, Siswanto, mengaku tidak mampu mengambil langkah apa pun, terkait semakin banyaknya driver ojek online di Jember. Selain karena perizinan angkutan umum menjadi domain Dishub Provinsi Jatim, juga diakuinya tidak ada produk hukum yang mengatur tentang perizinan roda dua sebagai angkutan umum. 

Sehingga kata Siswanto, saat sejumlah sopir angkot dan ojek konvensional menggelar demo soal ojek online, pihaknya tegas tidak bisa memutuskan penutupan ojek online di Jember, kecuali solusi meningkatkan daya saing sopir angkot dan ojek pangkalan yang merasa mulai dikalahkan. “Karena Dinas perhubungan provinsi yang mengurus terkait perizinan angkutan,” ujarnya. 

Terkait dengan status legal tersebut, dia menjelaskan jika antara PT Gojek dengan driver Gojek merupakan dua hal yang berbeda. Gojek adalah perusahaan yang mengklaim sebagai penyedia aplikasi android, bukan penyedia armada ojek. “Kalau PT Gojek sudah terdaftar di Kementrian Hukum dan HAM sebagai penyedia aplikasi android,” terangnya. 

Sementara para driver yang tiap beroperasi menggunakan atribut, jaket dan helm, Gojek, merupakan mitra kerja dari PT Gojek. Status merekalah yang hingga kini belum jelas dan kerap terlibat gesekan dengan sopir angkutan konvesional. 

Lantaran tidak adanya aturan operasional yang menaungi ojek, baik yang berbasis online maupun pangkalan, secara otomatis sebenarnya armada ojek tidak memiliki izin trayek. Kendati demikian, pihaknya tak bisa menertibkan begitu saja. Apalagi. keberadaan mereka sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Lebih dari itu, Dinas Perhubungan Kabupaten bukan dalam posisi dan memiliki otoritas untuk menutup operasional mereka atau tidak.

(jr/rul/was/das/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia