Selasa, 16 Jan 2018
radarjember
icon-featured
Perspektif
Jelajah Destinasi Wisata Turki (12)

Wajib Belanja di Pasar Grand Bazaar Istanbul

Senin, 30 Oct 2017 04:00 | editor : Dzikri Abdi Setia

Grand Bazaar, Istanbul, Turki, radar jember

OBRAL: Salah satu sudut pasar Grand Bazaar, Istanbul, Turki, surga belanja para pelancong dari berbagai belahan dunia. (CHOLIQ BAYA/radar jember)

Setiap kunjungan ke luar negeri, pasti akan ditanya para kerabat oleh-olehnya. Salah satu tempat untuk belanja memburu buah tangan di Turki adalah Grand Bazaar. Tempat ini merupakan pasar tertutup terbesar dan tertua di dunia.

TURUN dari kapal pesiar, Kami diantar menuju pasar Grand Bazaar. Letaknya tak terlalu jauh dari dermaga tempat kapal pesiar selat Bosphorus sandar. Sore itu, Kami diberi waktu 2,5 jam untuk belanja. Sebab, setelah makan malam masih ada satu destinasi wisata terakhir yang harus Kami kunjungi. Yaitu, menonton Billy Dance.

‘’Silakan habiskan uang Lira Anda di pasar Grand Bazaar sebelum pulang ke Indonesia. Kalau masih kurang, Anda bisa tukar di money changer yang ada di sana,’’ kata Ali Ekinci, si guide brewok yang setia mendampingi dan mengantar rombongan Kami.

Ya, Turki memang salah satu tujuan wisata terfavorit di dunia karena banyak tempat yang menarik. Selain karena wisata alamnya, Turki juga menjadi destinasi wisata belanja bagi para wisatawan dunia karena pilihan barangnya yang unik dan khas. Turki juga bisa dikatakan sebagai pusatnya belanja di kawasan Eurasia. 

Menurut Ali, Grand Bazaar merupakan pasar tertutup terbesaar dan tertua di dunia. Pasar ini dibangun pada tahun 1455 oleh Sultan Mehmed II (Muhammad Alfatih), tak lama setelah menaklukan Konstantinopel yang dikuasai Kaisar Romawi. Di dalamnya ada 22 pintu dan 61 lorong. Jumlah toko dan kiosnya lebih dari 5.000 dengan pekerja 33 ribu lebih.

Grand Bazaar bagaikan surganya para wisatawan. Setiap harinya, pasar ini berhasil menarik sekitar 250 ribu sampai 400 ribu pengunjung. Bahkan, pada tahun 2014 lalu, Grand Bazaar tercatat sebagai destinasi wisata nomor satu di dunia dengan jumlah pengunjung tahunan terbanyak. Yaitu, 91.250.000 pengunjung.

Lokasi Grand Bazaar berada di kompleks kota tua Istanbul. Tepatnya di distrik Fatih yang sangat dekat dari Masjid Biru dan Museum Hagia Sofia. Dari situ kita cukup berjalan kaki ke Grand Bazaar. Pasar yang atapnya penuh dengan ornament klasik ini buka dari pukul 09.00 hingga 19.00. Minggu dan hari besar tutup.

Tak sabar memburu buah tangan, rombongan kami langsung berpencar setelah masuk melalui pintu satu. Beberapa yang lain menuju money changer untuk tukar uang US dolar ke Lira. Suasana Grand Bazaar sore itu cukup ramai pengunjung. Beberapa kali saya ketemu pengunjung dari Indonesia yang juga memburu oleh-oleh di sini.

Karena turis asal Indonesia sukanya belanja, beberapa penjaga toko dan kios banyak yang fasih berbahasa Indonesia. Setelah mereka tahu Kami berasal dari Indonesi, mereka pun menyapa dengan Bahasa Indonesia sekenanya. ‘’Apa kabar? Ayo… Indonesia ke sini,’’ sapa Mahmoud, salah satu penjaga toko yang menjual aneka kaos berciri khas negara Turki.

Meski penjual dan pengunjung di pasar ini cukup padat, tapi tetap tertata dan terlihat rapi. Lingkungannya juga bersih dan teratur. Aneka barang yang dijual dipajang cukup rapi. Dipandang pun kesannya juga menarik. Penuh aneka warna. Rasanya saya betah berlama-lama di sini.

Barang-barang yang dijual harganya cukup standar. Bahkan, banyak yang lebih murah disbandingkan barang sejenis yang sudah Kami beli di tempat wisata lain. ‘’Wah, ternyata di sini lebih murah. Tadi saya beli kaos dengan kualitas sama harganya 100 lira dapat lima buah. Di sini per kaos harganya cuma 15 lira (1 lira = Rp 4000),’’ papar Kurniawan Muhammad, direktur Jawa Pos Radar Malang sambil terkekeh.

Demikian juga dengan harga barang souvenir yang lain, di Grand Bazaar ternyata jauh lebih murah dari pada di tempat lain. Seperti aneka keramik, lukisan, tas, hiasan rumah, perlengkapan makan, kerajinan kulit, jilbab, pasmina, makanan, kue-kue khas Turki, emas, perak, dan berbagai macam pernak-pernik dan souvenir.

Salah satu kunci untuk bisa mendapatkan barang dengan harga murah di Grand Bazaar adalah berani menawar. Bahkan, terkadang harganya dilepas dengan harga separuh dari yang ditawarkan ke kita. Enaknya lagi, mereka tidak mudah marah saat kita tawar dengan harga rendah. Termasuk, barang makanan atau minuman yang menggunakan tester. Meskipun kita mencoba aneka kue, kopi, teh atau madu yang tersedia sebagai tester, kemudian tidak membelinya, mereka sama sekali tidak sewot.

Puas belanja di pasar ini, saya menuju ke depan pintu satu. Sambil menunggu teman-teman yang lain berkumpul, saya dan beberapa teman cangkruk di café sambil minum teh hijau khas Turki. Setelah semuanya berkumpul, Kami meluncur ke rumah makan Indonesia untuk makan malam. Di restoran milik orang Pontianak ini, sempat menikmati panganan tradisional ote-ote. Rasanya lebih nikmat dari yang biasa saya rasakan di tanah air. Mungkin karena seminggu berada di Turki lidah Kami jarang tersentuh makanan Indonesia sehingga menjadi nikmat he he he…..

Pasca makan malam, Kami masih menghabiskan waktu untuk menikmati malam terakhir di Turki. Yaitu nonton Billy Dance. Sebuah tarian tradisional khas Turki. Seharusnya, sesuai dengan itinerary yang diberikan biro travel, Kami menikmati tarian ini di Kota Kapodokya. Tapi karena saat itu agendanya sangat padat, akhirnya diganti di Istanbul.

Ada dua rombongan wisatawan yang malam itu menonton Billy Dance. Ruangannya tertutup dengan tiga deret kursi dan meja memanjang yang bisa diisi sekitar 20 orang setiap deretnya. Di depannya ada panggung dengan background bergambar lingkaran bercahaya. Di samping lingkaran itu, masing-masing  ada gambar sembilan bintang bertebaran.

Pertunjukan pertama. muncul enam penari di atas panggung. Tiga cewek dan tiga cowok. Mereka menari berputar-putar dengan gerakan yang cukp santai. Pakaian yang dikenakan tertutup rapat dan agak longgar ala Timur Tengah. Pertunjukan kedua, muncul penari single wanita. Pakaiannya agak minim. Hanya mengenakan penutup dada dan bawahan kain tipis panjang transparan dengan belahan  sangat tinggi.

Wanita itu menari agak erotis dengan menggerak-gerakkan pantatnya. Kemudian mereka turun dari panggung menuju ke tempat duduk para tamu. Para tamu dari negara Cina yang didatangi ada yang menyelipkan uang di sela-sela penutup dada sang penari. Beberapa teman saya mulai galau. Khawatir didatangi penari. Satu persatu mulai angkat kaki dari kursi. Ada yang ke toilet, ada juga yang berdiri agak menjauh. Kami pun akhirnya memutuskan pulang kembali ke hotel sebelum pertunjukan berakhir. 

Itulah destinasi wisata terakhir dari perjalanan Kami di negara transcontinental Turki. Karena, besok paginya Kami sudah harus meninggalkan Turki menuju tanah air. (choliq baya)

(jr/das/das/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia