Minggu, 25 Feb 2018
radarjember
icon-featured
Perspektif
Jelajah Destinasi Wisata Turki (10)

Luas Kompleks Makam Ataturk 700 Ribu M2

Sabtu, 28 Oct 2017 04:00 | editor : Dzikri Abdi Setia

Museum Attaturk, Turki, Radar Jember

MAUSOLEUM: Di dalam bangunan megah ala Romawi ini Bapak Bangsa Turki Mustafa Kemal Ataturk dikebumikan. (CHOLIQ BAYA/RADAR JEMBER)

Nama Mustafa Kemal Ataturk mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita. Dia adalah Bapak Bangsa bagi warga Turki. Kompleks makamnya di kota Ankara luasnya mencapai 700 ribu meter persegi. Wow… seperti apa ya? 

HARI kelima menjelajah di negara transkontinental Turki, tujuan Kami selanjutnya menuju ke Ankara, ibu kota negara. Jaraknya dari Kapadokya sekitar 286 km. Kami keluar dari Hotel Gold Yildirm Kapadokya pukul 08.00. Ankara yang berpenduduk 66,5 juta jiwa ini hanya sebagai sasaran antara. Tujuan akhir perjalanan Kami di hari itu adalah Kota Bolu yang berjarak 490 km dari Kapadokya.  

Sebelum masuk Kota Ankara. Terlebih dahulu mampir ke Salt Lake. Yaitu, danau garam yang berada 900 meter di atas permukaan laut. Ini merupakan danau terluas kedua di Turki. Luasnya 1500 km2. Kata pemandu wisata Kami, Ali Ekinci, luas danau ini lima kali lebih luas dari negara Maladewa. Sedang kedalamannya maksimal 60 cm.

Kami turun ke danau ini sekitar 15 menit. Tak terlihat sama sekali adanya air di danau ini. Yang ada hanya hamparan daratan berwarna putih. Itu adalah daratan garam. Baru kalau digali permukaannya sekitar 10-20 cm akan keluar airnya. Wajar kalau Turki menjadi negara penghasil garam. Sekitar 650 ribu sak per tahun dihasilkan dari danau ini. Tak hanya dikonsumsi untuk masakan tapi garam ini juga dapat dibuat menjadi aneka sabun, kosmetik, dan lain sebagainya.

Setelah berfoto ria di Salt Lake, Kami melanjutkan perjalanan ke Ankara. Suhu di kota terbesar kedua di Turki saat itu cukup panas. Sekitar 30 derajat celsius. Termasuk, saat Kami memasuki kompleks Attaturk Mausoleum. Di komplek pemakaman dan museum seluas 700 ribu meter persegi ini kebetulan tidak terlalu padat pengunjungnya. Sehingga, Kami agak lebih leluasa saat menikmati destinasi wisata ini.

Saat memasuki pintu gerbang, dua orang tentara dengan senjata laras panjang tampak siap siaga. Seorang di sebelah kanan dengan seragam putih. Satunya lagi di sebelah kiri pintu masuk berseragam hijau tentara dengan membawa senjata laras panjang juga. Beberapa pengunjung, termasuk saya, memanfaatkannya untuk foto bersama. Sikap dan wajahnya datar. Tak ada senyum maupun sikap bersahabat.

Tiba-tiba tentara berbaju putih yang ada di seberang saya menghentak-hentakkan senjata laras panjangnya cukup keras ke lantai. Tapi tetap dengan gerakan di tempat. Saya agak kaget. Seorang penjaga museum berjas dan berdasi langsung lari ke arah tentara yang menghentakkan senjatanya. Seorang pengunjung langsung ditegurnya. Ternyata wisatawan asal China yang mengajaknya foto bersama sempat merangkul penjaga itu. Padahal, itu tidak diperbolehkan.

Dari pintu masuk, terhampar sebuah lapangan luas dengan lantai marmer yang dikelilingi bangunan mirip benteng. Di ujung lapangan terdapat sebuah tiang bendera setinggi 33 meter dengan bendera Turki raksasa yang sedang berkibar. Lapangan ini memang khusus untuk upacara kenegaraan. Setiap 10 November, tak kurang dari 15 ribu orang berkumpul di lapangan ini untuk mengenang dan menghormati Mustafa Kemal Ataturk, sang Bapak Bangsa Turki.

Di sebelah selatan lapangan ini, Kami bisa melihat sebuah bangunan ala Romawi yang merupakan replika kuil Pathenon. Sebuah gedung besar dengan pilar raksasa yang dulunya dibuat Bangsa Romawi untuk menghormati dewa-dewi. Bangunan tersebut dibuat untuk menyemayamkan jenazah Kemal Ataturk. Tapi, tak ada tanda khusus, di mana makam Ataturk sebenarnya.

Sebelum masuk museum dan mengelilingi kompleks makam, Kami mendapat “wejangan” tentang sejarah Ataturk dari Ali Ekinci, si pendamping setia asal Turki. Menurutnya, Kemal Ataturk menyemangati bangsa Turki agar bersatu dan mendapatkan kemerdekaan di tahun 1923. Dulunya wilayah Turki sempat terbagi dua kekuasaan, Yunani dan Turki. Turki sebelum menjadi republik berada di bawah Kekaisaran Islam Ottoman (Usmani) yang mempunyai sejarah sangat panjang.

Tahun 1922, Kesultanan Usmani diturunkan oleh Kemal Ataturk dan diubah menjadi republik. Mustafa Kemal menjadi presiden Republik Turki yang pertama Di tahun 1923. Sejak menjadi Republik Turki, negara ini menjadi sekuler. Pada 10 November 1938 pukul 09.15 Mustafa Kemal mangkat di usia 57 tahun karena penyakit liver. 

Ataturk menghapuskan semua kebijakan Kesultanan Usmani dan mengubahnya menjadi lebih moderat. Salah satunya adalah mengikutsertakan wanita dalam parlemen. Membuka sekolah campuran pria dan wanita. Juga mereformasi Bahasa Turki yang dulunya menggunakan alfabet Arab menjadi latin. Selanjutnya, Ataturk pernah mendorong minum arak secara terbuka, mengarahkan Alquran dicetak dalam bahasa Turki. Bahkan, dia memerintahkan mengubah azan ke dalam bahasa Turki. 

Usai mendengarkan “wejangan” dari guide, Kami masuk mengelilingi museum yang cukup megah. Isinya segala sesuatu yang terkait dengan Kemal Ataturk. Seperti foto, lukisan, patung, buku-buku, aneka senjata, lencana, jas, seragam tentara, topi, tongkat, diorama, pulpen, dompet, hingga tempat rokok. Ada pula dokumen dalam bentuk digital yang bisa diakses lewat monitor layar sentuh.

Di ujung museum, ada toko souvenir yang menyajikan segala macam pernak-pernik tentang Kemal Ataturk. Seperti jam tangan, kaus, pulpen, gantungan kunci, buku, dompet, tempat pulpen, mug, liontin, kalung, tas, topi, kalender, korek gas, dan lain sebagainya. Depan toko souvenir, saya melangkah ke pintu keluar museum. Kemudian masuk ke ruang mausoleum yang megah tempat Kemal Ataturk dimakamkan. Setiap kepala negara yang berkunjung ke Ankara dipastikan menaruh karangan bunga di sini.

Dari makam, saya menuju ke sebuah jalan lebar yang panjangnya 262 meter. Di kanan kiri jalan itu ada patung singa yang jumlahnya 24 buah. Di belakang patung singa ada patung orang membaca buku. Konon sebagai perlambang orang pintar. Saya tidak lama di sini. Setelah berfoto di taman dekat patung singa, saya menyudahi kunjungan di sini. 

Sebelum menuju kendaraan pengantar, saya kongko di kafé yang ada di dekat pintu masuk sekaligus pintu keluar kompleks mausoleum Attaturk. Saya menunggu anggota rombongan yang belum kumpul sambil menikmati minuman cappuccino. Selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Kota Bolu. (choliq baya)

(jr/das/das/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia