Kamis, 14 Dec 2017
radarjember
icon featured
Features

Karya Esai Siswi SMA Nuris Jember Juara Satu Nasional di UGM

Kamis, 21 Sep 2017 08:00 | editor : Dzikri Abdi Setia

SANTRI BERPRESTASI: Risalatul Muawanah, siswi kelas XI IPA Sains SMA Nuris Jember memegang sertifikat juara satu nasional lomba esai di UGM.

SANTRI BERPRESTASI: Risalatul Muawanah, siswi kelas XI IPA Sains SMA Nuris Jember memegang sertifikat juara satu nasional lomba esai di UGM. (Bagus Supriadi/Radar Jember)

Melakukan riset kemudian menuliskannya dalam karya tulis ilmiah sudah menjadi rutinitas santri Nuris yang memilih mengembangkan bakat di bidang itu. Kemudian, karya tulis tersebut diikutkan lomba. Hasilnya, juara sudah seperti langganan.

Siswi SMA Nuris Jember itu tampak begitu semangat dalam menjalani rutinitasnya. Dia memiliki ketertarikan pada Karya Tulis Ilmiah (KTI). 27 Agustus 2017 lalu, dia diundang untuk menghadiri penghargaan karena karyanya tentang langkah pro aktif mencegah plagiarisme meraih juara satu lomba esai nasional tingkat SMA sederajat di Universitas Gadjah Mada (UGM), kampus  terbaik tahun 2017  versi Kemenristekdikti.

Santri putri itu bernama Risalatul Muawanah, siswi kelas XI IPA Sains  SMA Nuris Jember. Dia berhasil mengalahkan 43 pelajar dari seluruh Indonesia dalam lomba kreasi siswa SMA nusantara yang diselenggarakan oleh Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Komako) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM Jogjakarta. 

“Maraknya plagiasi  membuatku tertarik untuk meneliti permasalahan ini dan mencari solusi,” katanya. Sehingga dia berupaya mencari referensi dan mengkajinya untuk dijadikan karya tulis. Risetnya sederhana, yakni mengkaji lingkungan sekitar dan membaca referensi yang ditulis oleh para pakar. 

Tak butuh waktu lama bagi Risa menyelesaikan karya tulis itu. Hanya sekitar dua minggu. Dalam tulisannya, dia menawarkan beberapa tips agar tidak mudah plagiat. Yakni dengan tiga K, Pertama, kenali potensi diri, kenali konsekuensi dan manfaatnya.

Setelah dikirim ke panitia lomba melalui seleksi dan penilaian yang ketat, dia meraih juara satu. Sedangkan juara dua diraih oleh SMAN 1 Purworejo, juara tiga dari SMAN 1 Cikarang Barat. “Saya memang tertarik untuk menciptakan sesuatu yang baru,” akunya. 

Prestasi itu tidak diraih dengan cara yang mudah. Sebab Risa harus berjuang dulu. Dia membaca jurnal setiap hari  sebagai referensi dan menuangkan ide. Kemudian menuliskannya dan diajukan pada pembinanya, M. Arif Hadi Maulana. “Setelah dikoreksi, saya perbaiki lagi sampai bagus,” ucapnya. 

Kemampuan menulis itu didapatkannya dari pembinaan di Ekskul Sains Nuris atau madrasah sains. Melalui wadah tersebut, dia dilatih untuk menjadi santri yang ahli dalam tulis menulis. Mulai dari KTI robotika, teknologi inovasi, kesehatan, astronomi dan lainnya. Santri diberi pilihan untuk mengembangkan bakat sesuai dengan kemampuannya. 

Juara karya tulis itu bukan yang pertama. Beberapa tahun sebelumnya SMA Nuris Jember sudah terbiasa meraih prestasi. Misal, Juara 2 KIR (Karya Ilmiah Remaja) bidang kesehatan Tingkat Nasional di Universitas Brawijaya.  Juara Harapan 2 KIR Teknologi Inovasi Tingkat Nasional di ITB.

Kemudian,  Juara 3 robotika di Universitas  Brawijaya Malang, Juara 2 Robotika Tingkat Kabupaten di Politeknik Banyuwangi,  Juara 1 OSN bidang Ekonomi tingkat Kabupaten Jember  dan Juara 1 OSN bidang Kimia tingkat Kabupaten Jember. Prestasi itu terus meningkat setiap tahunnya. 

“Kami memang ingin santri bisa menulis, mereka punya keterampilan, bisa melakukan penelitian dan menulis,” tambah Gus Robith Qosidi, Pengasuh Ponpes Nuris Antirogo. Pesantren memang menyediakan wadah untuk mengembangkan bakat santri.

Sehingga ketika lulus menjadi sosok yang kompeten dalam bidangnya. Pembiasaan melakukan riset dilakukan sejak dini agar mereka bisa memahami persoalan. Kemudian mencarikan jalan keluarnya. Selain itu, juga agar para santri bisa memiliki karya.

Ulama dulu, kata alumni Al-azhar Kairo tersebut, banyak yang menuangkan pemikirannya dan penemuannya dalam karya. Seperti Ibnu Sina, Alfarobi dan tokoh-tokoh Islam lainnya. Ponpes Nuris ingin memunculkan santri yang bisa melahirkan karya-karya tenar seperti ulama sebelumnya. 

Untuk itu,  mereka sudah dikenalkan dengan riset tentang berbagai hal sejak dini, mulai dari bidang kesehatan, teknologi inovasi maupun astronomi dan ilmu falak. sehingga membentuk pola pikir ilmiah dan mampu memunculkan gagasan dan karya dari kalangan pesantren.

(jr/gus/ras/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia