Selasa, 17 Oct 2017
radarjember
icon-featured
Radar Jember

Tak Semua Dosen Peduli

Selasa, 19 Sep 2017 19:30 | editor : Dzikri Abdi Setia

Tak Semua Dosen Peduli

(Heru Putranto/Radar Jember)

Banyaknya kasus plagiatisme alias meng-copy paste, juga jasa tukang jahit dalam membuat tugas akhir memang bukan barang baru.

Sudah dari dulu. Tapi, tetap saja seperti kentut. Baunya merebak tanpa mudah tahu dari pantas siapa angin itu keluar. 

Namun, semua itu sebenarnya bisa diminimalisasi dengan peran dari dosen pembimbing.

Seperti disampaikan Nurul Ghufron, Dekan Fakultas Hukum Universitas Jember menuturkan jika lembaganya memiliki kode etik dan kriteria jelas tentang bentuk plagiasi.

Diantaranya suatu penelitian mengutip lebih dari 50 persen dari penelitian lain. Kedua, penelitian yang mengambil rujukan dari penelitian lain, namun tidak dikutip dengan jelas sumber rujukannya.

Di lain pihak, Mury Ririanti, ketua Program Studi Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku Fakultas Kesehatan Masyarakat Unej menegaskan jika plagiasi apalagi untuk kasus skripsi pesanan sebenarnya sangat mungkin bisa diminimalisasi. Namun, dirinya mengakui jika tidak semua dosen memiliki kepedulian tinggi terhadap hal ini.

“Tipikal dosen ada banyak. Seperti mahasiswa, ada yang disiplin dan tidak,” tuturnya. Untuk dosen yang disiplin, diakuinya akan mudah untuk bisa meminimalisir hal ini. Misalnya untuk pembimbingan karya tulis harus dilakukan per bab. Bahkan biasanya untuk judul dan bab 1 saja sudah dilakukan langkah dialogis.

Dengan ini, dosen sudah mengetahui ke mana arah skripsi dari sang mahasiswa. Termasuk mengetahui apakah judul tersebut pernah diteliti di tempat lain tidak.

“Apalagi di era digital seperti ini, sangat mungkin mencari tahu di google apakah tulisan karya mahasiswa ini sudah pernah dilakukan apa belum,” tegas Mury.

Dirinya menjelaskan jika ide dan tema untuk skripsi mungkin saja sama. Jika sudah ada di tempat lain, maka tugas dosen untuk mengarahkan bagaimana dengan judul mungkin sama namun dengan penelitian dan variabel yang berbeda.

Maka nantinya untuk daftar pustaka dan penelitian serta kesimpulan pun pasti akan berbeda dengan yang dicontoh. Sehingga hal tersebut akan berbeda dengan plagiasi.

“Di sini akan terjadi proses mendidik dan mengajar dari dosen. Bukan hanya sekadar menyalahkan,” jelasnya. Namun, dosen juga memiliki kewajiban untuk mengarahkan dan memberikan saran sehingga karya tulis yang dihasilkan nantinya benar-benar menjadi buah karya sang mahasiswa sendiri.

Meskipun demikian, diakui Mury, sebenarnya ada langkah lain yang bisa dilakukan dosen untuk mengetahui apakah karya ilmiah mahasiswa menjiplak atau tidak.

Pihaknya biasanya selalu meminta kepada mahasiswa untuk menyerahkan softcopy karya ilmiahnya berbentuk word.

“Kami ada aplikasi tunitrin. Tinggal dimasukkan akan diketahui berapa persentase kemiripan dengan karya ilmiah lainnya,” jelasnya.

Sehingga akan diketahui apakah karya ini termasuk plagiat atau bukan. Namun, diakui Mury, tidak semua dosen mau untuk melakukan hal yang merepotkan tersebut karena tidak memiliki kepedulian untuk masalah karya tulis akhir.

Bukan hanya itu, dirinya mengatakan jika kelemahan lainnya dari mahasiswa memang bisa dilihat apakah banyak menggunakan parafrase atau tidak.

Yakni menggunakan kalimat sendiri dalam penyajian karya ilmiahnya. “Karena pasti bahasa sendiri akan berbeda dengan bahasa orang lain, apalagi buku,” tegasnya. 

Di Unej sendiri selain menggunakan sejumlah metode tersebut, juga dilakukan langkah pembenahan internal. Salah satunya dengan memberikan mata kuliah etika ilmiah.

“Kalau dulu hanya metode penelitian. Kini ada etika ilmiah yang di sana mengajarkan tentang batasan plagiarism,” tegasnya. Sehingga akan diketahui batasan mana yang diperbolehkan dan tidak.

(jr/ram/ras/das/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia