Rabu, 18 Oct 2017
radarjember
icon-featured
Radar Jember

NU dan MUI Tolak Kafe Jual Minuman Keras

Minggu, 17 Sep 2017 21:00 | editor : Dzikri Abdi Setia

NU dan MUI Tolak Kafe Jual Minuman Keras

(Jumai/Radar Jember)

Jember – Keberadaan kafe Cloud Nine di Jalan Sumatra, Lingkungan Tegalboto  yang menjual minuman keras seperti bir ditolak dengan tegas oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU)  Jember dan Majlis Ulama Indonesia (MUI) Jember.

Penjualan barang tersebut merugikan masyarakat luas. Bahkan dikhawatirkan muncul konflik karena keberadaannya yang meresahkan. 

“Kalau MUI jelas tidak setuju, saya secara pribadi sudah sampaikan ke grup tokoh masyarakat untuk diantisipasi,” kata Ketua MUI Jember Abdul Halim Soebahar. Karena akan memicu respon pro kontra dari masyarakat yang bisa menyebabkan konflik. Keberadaan kafe tersebut sangat mengkhawatirkan 

Menurut dia, setiap warga Negara memiliki hak asasi untuk menjual barang tersebut seperti yang dijamin dalam UUD 1945 pasal 28 E. namun, hak asasi orang tersebut bukan mutlak, tetapi terbatas karena harus menghargai hak asasi orang lain. 

“Jadi dia merasa memiliki kebebasan, tapi orang lain terganggu,” tuturnya. MUI meminta agar munculnya kafe tersebut dilihat perijinannya. Sebab, muncul di lingkungan yang memiliki latar belakang keagamaan cukup kuat. “Ini ironis sekali, apalagi menjual macam minuman dengan berbagai bintang,” terangnya. 

Tak hanya MUI, PCNU Jember juga tegas menolai keberadaan kafe tersebut. Baginya organisasi keagamaan tersebut, proses penjualan miras dari  hulu ke hilir haram semua. “Mulai dari yang menanam anggur, memanen, proses di pabrik, menjual hingga mengkonsumsinya haram,” tegas Muhammad Noor Harisudin, PCNU Jember. 

Jember yang dikenal dengan kota santri tercoreng dengan keberadaan kafe tersebut. Sehingga meminta pemerintah untuk bersikap tegas sesuia dengan aturan. “NU juga akan melakukan koordinasi, baik dengan Polres ataupun Pemkab, apakah berijin,” jelasnya. 

Dia menilai, Jember yang tengah berkembang harus diikuti dengan moralitas yang berlaku. Ekonomi konvensional tidak peduli haram atau tidaknya barang yang dijual. Namun, barang tersebut dilarang oleh agama. “Bagi ekonomi konvensional, yang penting menguntungkan dan dapat uang,” paparnya. 

Padahal, Islam menilai barang tersebut sebagai barang yang tidak ada nilainya. Sehingga transaksi yang dilakukan tidak sah. “Kami menolak keras kafe yang menjual minuman keras, karena dampaknya  sangat jelas, merusak masyarakat Jember dari lapisan paling tua hingga paling muda,” terang dosen IAIN Jember tersebut. 

Selain berkoordinasi, pihaknya juga akan melihat langsung kafe Cloud Nine tersebut. Apakah sudah mendapt ijin atau belum. Kalaupun mendapat ijin juga akan dikaji karena merusak nilai-nilai moralitas Jember. “Apalagi Jember terkenal dengan kota santri,” ujarnya. 

Kendati tegas, PCNU tetap tidak akan main hakim sendiri, namun dilakukan dengan cara yang baik dan benar sesuai prosedur. Sehingga bisa tetap menjaga kondusifitas masyarakat Jember. “Ini muncul karena geliat ekonomi yang berkembang, investasi di bidang tersebut dinilai menguntungkan,” paparnya. 

Sayangnya, mereka menafikan aspek moralitas dan melanggar nilai-nilai keagamaan dan budaya masyarakat. Padahal, moralitas menjadi pengendali dalam menentukan bisnis yang akan dilakukan. “Banyak bisnis yang tumbuh, ini kepentingan ekonomi, tetapi yang tidak melanggar rambu-rambu ke-Islaman,” tutur Haris. 

Selama ini, lanjut dia, PCNU menjaga agar moralitas itu tetap terjaga melalui edukasi pada masyarakat luas. Yakni melalui dakwah yang dilakukan oleh para da’i, misal  tentang dampak negatif minuman keras. “Tak kalah penting, pemerintah harus membuat regulasi untuk mencegah hal ini terjadi,” pungkasnya.

(jr/hdi/gus/das/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia