Sabtu, 25 Nov 2017
radarjember
icon featured
Radar Semeru

Bara Api Di Puncak B-29

Rabu, 13 Sep 2017 19:40 | editor : Dzikri Abdi Setia

Bara Api Di Puncak B-29

ARGOSARI – Kemarin malam, warga Desa Argosari, Kecamatan Senduro, digegerkan dengan munculnya bara api di puncak B-29. Padang ilalang yang ada di sekitar puncak terbakar hebat. Dugaan sementara, terbakarnya tanaman ilalang itu lantaran puntung rokok yang dibuang sembarangan.

Peristiwa itu terjadi pada pukul 09.45 Senin kemarin, beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut hanya saja kondisi disekitar B-29 masih dikelilingi asap pembakaran. Sehingga cukup mengganggu aktivitas masyarakat sekitar.

Pantauan Jawa Pos Radar Semeru (Rame) pagi kemarin, api disekitaran B-29 seluruhnya sudah padam. Tinggal kepulan asap yang masih menyelimuti kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) itu.

Masyarakat yang berwisatapun sudah diperbolehkan untuk datang ke puncak B-29. Meski beberapa petugas dari TNBTS dan BPBD Lumajang masih bersiaga di lokasi. Mengingat kebakaran masih dimungkinkan terjadi.

Di beberapa titik masih terlihat kepulan asap yang ditimbulkan oleh api. Kemungkinan besar kebakaran masih terjadi di beberapa wilayah lain. Informasi yang berhasil dihimpun, kepulan asap itu masuk pada daerah Malang dan Probolinggo.

Abdi, salah satu warga Argosari menuturkan, titik api berasal dari kawasan Gunung Bromo Probolinggo. Tepatnya dari lautan pasir. Kemudian, api membesar dan merambah ke atas bukit dan membakar kawasan B-29.

Dia menuturkan ada tiga kawasan yang dilalap api. Tiga kawasan itu diantaranya, Pundak Lembu, B-29 dan Jokoniti. Dari tiga kawasan tersebut, sekitar 80 hektare lahan ilalang yang terbakar.

Warga yang ada di sekitar lokasi kebakaran langsung bertindak cepat memadamkan api. Api cukup sulit dipadamkan, lantaran ilalang yang sudah mengering akibat kemarau panjang, dan angin yang cukup besar. “Api cepat merembetnya sehingga culit untuk dipadamkan,” katanya.

Dia menambahkan, pemadaman api hanya dilakukan dengan alat seadanya. Menggunakan, ranting pohon yang masih basah. Meski dengan alat seadanya, api berhasil padam setelah sembilan jam berjibaku dengan bara api.

Baru sekitar setelah pagi menjelang, api mulai bisa dipadamkan. Sehingga tidak merembet ke daerah yang dekat dengan pemukiman warga. “Sekitar pukul 4.00 pagi api bisa dipadamkan,” tuturnya.

Diantisipasi dengan Sekat Bakar

Rupanya warga suku tengger ini sudah mengetahui betul apa yang harus dilakukan jika terjadi kebaran lahan di daerahnya. Mereka tidak serta merta melakukan pemadaman. Melainkan, lebih menjaga api agar tidak merambah ke daerah lainnya.

Antisipasi itu disebut sekat bakar. Jadi ada kawasan yang mereka biarkan untuk terbakar. Namun ada juga kawasan yang mereka jaga agar tidak terbakar. Dengan begitu, hanya dikawasan sekat bakar itu saja api yang dipadamkan oleh masyarakat.

Hal itu dibenarkan oleh Bambang Trianggono, Kepala Resort Senduro Seksi III wilayah II Taman Nasional Bromo Tenger Semeru (TNBTS). Tanpa dikerahkan, warga sudah paham langkah apa yang seharusnya dilakukan untuk menjaga kobaran api.

Dia menambahkan yang demikian itu sudah sering dilakukan oleh masyarakat Tengger jika terjadinya kebakaran. “Tanpa kita kerahkan, mereka sudah paham langkah yang harus diambil agar api tidak merambah,” katanya.

Kebakaran yang terjadi itu kata dia, dugaan kuat lantaran puntung rokok. Kondisi rumput ilalang yang kering, membuat api lebih cepat berkobar dan merambah ke kawasan lainnya. Namun, kebakaran bisa diantisipasi dengan sekat bakar tersebut.

Dia menuturkan, saat ini sudah tidak ada lagi titik api disekitaran wilayah yang dipimpinnya itu. Hanya ada beberapa titik api yang itu di luar tanggung jawabnya. “Kalau di sini sudah tidak ada. Di wilayah lain masih, tapi sudah ada penanganan,” tutupnya.

Sudah Dua Tahun Absen Kebakaran

Perlu diingat, kebakaran yang terjadi di kawasan B-29 itu terjadi setiap tahun. Hanya saja pada tahun 2016 lalu kebakaran itu tidak terjadi di area yang masuk Desa Argosari itu. Disengaja atau tidak, belum pernah ada penjelasan pasti.

Bambang Trianggono, Kepala Resort Senduro Seksi III wilayah II Taman Nasional Bromo Tenger Semeru (TNBTS) menuturkan, kebakaran yang serupa selalu terjadi setiap tahunnya. Dari kejadian kali ini, sudah dua tahun daerah tersebut tidak ada kasus kebakaran.

Sebenarnya dia mengatakan, kebakaran yang semacam ini juga memberikan keuntungan. Salah satunya rumput yang terbakar akan lebih cepat tumbuh. “Selain itu, tumbuhnya itu lebih bagus dari sebelumnya,” katanya.

Hal itu dikarenakan, ilalang yang sudah tua dan terbakar itu menjadi pupuk untuk ilalang yang masih muda. Dengan demikian, tidak heran jika tumbuhnya ilalang sepaska kebakaran terlihat lebih bagus dari sebelumnya.

Kondisi demikian juga dibenarkan oleh Aji, salah satu warga sekitar. Jika kebakaran itu adakalanya disengaja. Hal itu dilakukan untuk menghilangkan rumput ilalang yang sudah tua. Untuk kemudian digantikan dengan ilalang muda.

Dia menuturkan, beberapa warga sempat menyeletukan jika akan membakar ilalang jika dari TNBTS tidak mengambil ilalang tersebut. “Ilalangnya kan sudah tua-tua. Selain itu kondisinya juga sudah sangat tebal,” katanya.

Maka dari itu perlu ada penanganan agar ada tumbuhan ilalang baru yang menghiasi kawasan tersebut. “Kalau sudah kebakaran, biasanya rumput akan semakin hijau dan tanaman semakin bagus,” tutupnya. 

(jr/mar/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia