Minggu, 24 Sep 2017
radarjember
Kesehatan

Relawan PMI Gelar Simulasi Pertolongan Pertama

Rabu, 13 Sep 2017 10:00 | editor : Dzikri Abdi Setia

SIMULASI: Relawan PMI Jember melakukan sosialisasi kepalangmerahan dan simulasi pertolongan pertama bersama KSR PMI Unit Politeknik Negeri Jember.

SIMULASI: Relawan PMI Jember melakukan sosialisasi kepalangmerahan dan simulasi pertolongan pertama bersama KSR PMI Unit Politeknik Negeri Jember. (PMI FOR RADAR JEMBER)

JEMBER – Korp Sukarela (KSR) PMI Politeknik Negeri Jember (Polije) aktif melakukan sosialisasi tentang kepalangmerahan.

Salah satunya tentang pertolongan pertama pada kecelakaan. Baik kecelakaan kerja atau kecelakaan lalu lintas. 

Itu pula yang dilakukan oleh relawan  KSR PMI Polije di hadapan  ribuan mahasiswa baru. Mereka secara khusus memberikan pemaparan, sekaligus sosialisasi tentang kepalangmerahan.

Lebih spesifik lagi simulasi tentang pertolongan pertama. Sebab, masih banyak masyarakat yang kurang tepat memberikan pertolongan pertama pada korban kecelakaan. Baik kecelakaan kerja maupun kecelakaan lalu lintas. 

Sosialisasi Kepalangmerahan dan Simulasi Pertolongan Pertama oleh KSR PMI Unit Poliuje dilakukan di hadapan 2.275 mahasiswa baru yang berlangsung pada 5 September 2017 Lalu.

Selain itu, KSR PMI unit Polije menggelar donor darah selama sempat hari berturut-turut tanggal 11 - 14 September 2017. Dengan sasaran  civitas akademik dan mahasiswa baru Polije.

Pertolongan pertama yang mendasar mengacu pada proses awal menilai dan melayani kebutuhan seseorang yang terluka atau berada dalam tekanan fisiologis karena tercekik, terkena serangan jantung, mengalami reaksi alergi.

Kemudian akibat obat-obatan atau situasi darurat medis lainnya. 

Pertolongan pertama yang mendasar memungkinkan seseorang untuk dengan cepat menentukan kondisi fisiknya dan langkah perawatan yang tepat.

“Anda tetap harus selalu meminta bantuan medis profesional sesegera mungkin, namun dengan menerapkan prosedur pertolongan pertama yang tepat dapat menjadi penentu hidup dan mati,” ujar Kepala Humas PMI Jember Gufron Evian Effendi.

Menurut Ghufron, relawan dari KSR PMI Unit Polije, pertama menentukan tingkat responsnya. Jika seseorang tidak sadar atau pingsan, dicoba menyadarkan dengan menggelitik tangan dan kaki secara perlahan, atau bicara pada mereka.

“Jika korban tidak merespon terhadap tindakan, suara, sentuhan, atau rangsangan lain, segera pastikan apakah dia masih bernapas atau tidak.,” jelasnya.

Kedua, lanjut Ghufron, memeriksa pernapasan dan denyut nadi korban. Jika korban tidak sadar dan tak juga sadar, lanjut dia, hendaknya memeriksa apakah dia masih bernapas: 

Ketiga, jika korban tetap tidak responsif, bersiaplah melakukan Resusitasi Jantung Paru-Paru (RJP). Keempat lakukan 30 kali kompresi dada dan dua kali meniupkan napas sebagai bagian dari RJP. 

“Di tengah dada korban, persis di bawah garis imajiner yang membelah kedua puting, tangkupkan kedua tangan Anda dan tekan dada korban sampai kira-kira 5,1 cm dengan kecepatan 100 kompresi per menit,” terangnya. 

Setelah 30 kompresi, Ghufron menyarankan memberikan dua kali pernapasan bantuan, termasuk cek tanda-tanda vitalnya. Jika napasnya terhalang, kata dia, hendaknya perbaiki posisi jalur udara korban. “Pastikan kepala mendongak sedikit ke belakang dan lidah tidak menghalangi,” ujarnya lagi. 

Dia mengingatkan bahwa pada JPS RPJ mengacu pada tiga hal kritis yang harus diperhatikan. Yakni, memeriksa tiga hal sesering mungkin selama memberi pertolongan RPJ pada korban. Yaitu, jalur pernapasan, kemudian pernapasan, dan terakhir sirkulasi. “Apakah korban menunjukkan tanda denyut di titik-titik utama seperti pergelangan tangan, carotid artery, groin,” terangnya. 

Selanjutnya, kata dia, pastikan agar tubuh korban tetap hangat sambil menunggu bantuan medis.

Terakhir, imbuhnya, memperhatikan segala hal yang harus dan tidak boleh dilakukan. Saat memberi pertolongan pertama, lanjut dia, hendaknya memahami hal-hal yang “tidak boleh” dilakukan. 

Yakni, tidak memberi makan dan atau minum orang pingsan. Ini akan membuatnya tersedak dan berpotensi tercekik. Juga jangan meninggalkan korban sendirian.

“Kecuali Anda memang benar-benar harus pergi mencari bantuan.  Juga jangan menyangga kepala orang pingsan dengan bantal dan jangan menampar atau memerciki wajah orang pingsan dengan air,” pungkasnya. 

(jr/aro/das/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia