Sabtu, 25 Nov 2017
radarjember
icon-featured
Radar Jember

Merasa Nyaman, Ingin Coba Lagi

Selasa, 12 Sep 2017 05:11 | editor : Dzikri Abdi Setia

Merasa Nyaman, Ingin Coba Lagi

(ilustrasi)

Memang, testimoni  tentang keunggulan berangkat umrah melalui First Travel mampu menyihir banyak orang. Selain keluarga H Fauzi dan Niken, cukup banyak warga yang ternyata kena tipu.

Harga yang murah benar-benar membuat banyak warga  tak pikir panjang dan memutuskan segera mendaftar umrah lewat First Travel. Terutama ketika ada harga promo yang harganya hanya Rp 8 juta.

Sebut saja Fatimah dan Usman. Pasangan suami istri ini memang tak berkenan namanya ditulis. Dia mengaku, karena harga murah itu, dia lantas memutuskan mengajak keluarganya untuk umrah.

Tak tanggung-tanggung, langsung enam orang. Dia cukup membayar sekitar Rp 105 juta. “Biaya berangkat umrah satu jamaah  Rp 14.300. 000,” katanya pada Jawa Pos Radar Jember .

Pertama kali mendaftar pada 2016 lalu, dia berhasil berangkat umrah awal Januari 2017. Bahkan, dia merasa pelayanan yang diberikan cukup istimewa. Namun, saat mendaftar untuk keberangkatan yang kedua inilah , Fatimah menjadi korban. 

Semua itu berawal dari informasi  testimoni  temannya yang menggunakan First Travel. Kabar  menggiurkan itu diikuti Fatimah dengan cara mendaftar melalui First Travel cabang Malang. “Selain itu juga liat facebook-nya, ternyata update terus,” ucapnya. 

Tak ada kecurigaan travel tersebut bermasalah, sehingga dia mengurusi semua prosedur pendaftaran sampai selesai. Uang muka pertama yang diberikan satu orang Rp 5 juta, untuk enam orang Rp 30 juta. 

Biaya satu jamaah sebesar Rp 14.300. 000. Tapi, angka itu masih ada tambahan sebesar Rp 2.300.000 per orang. “Total biaya umrah dari berangkat sampai pulang sekitar Rp 105 juta,” ucapnya.

Fatimah dan keluarganya beruntung, sebab dia bisa berangkat dengan fasilitas yang memadai. Mulai dari hotel tempat menginap hingga makan. “Bahkan pelayanannya sangat bagus,” akunya. 

Ketika pulang umrah, Fatimah didatangi beberapa keluarga dan tetangganya. Diapun bercerita pengalaman umrah menggunakan first travel. Dari sanalah, beberapa temannya tertarik untuk ikut mencoba. “Sayapun ingin mencoba lagi, tetapi cuma berdua sama suami,” akunya. 

Selain itu,  beberapa temannya juga ikut mendaftar umrah melalui first travel pada 10 Mei 2017 lalu. Yakni tiga pasang suami istri. “Ikut daftar lagi karena ada promo milad, harganya cuma Rp 8,8 juta,” ungkapnya. 

Bedanya, Fatimah dan temannya tersebut tak lagi mendaftar melalui cabang Malang. Tetapi langsung pada agen di Jakarta. Caranya cukup mudah, yakni melalui mengirim berkas melalui email. “Semua bisa diselesaikan secara online berkasnya,” tutur perempuan yang tinggal di Jalan Semeru tersebut. 

Tapi, sebelum sempat berangkat lagi, informasi tentang kasus first travel menyebar luas. Fatimah dan keluarganya pun risau dan mempertanyakan hal tersebut. Setelah ditelusuri, ternyata juga menjadi korban gagal berangkat. “Akhirnya saya gak enak sama teman saya itu, karena dia dapat cerita dari saya,” paparnya. 

Namun, Fatimah tetap berupaya agar uang yang sudah dibayar bisa kembali. Dia mengisi formulir pengaduan agar uang itu bisa kembalikan. “Kalaupun tidak bisa, kita sudah punya niat baik untuk umrah,” pungkasnya.

Jamaah yang juga sempat menikmati nyamannya layanan First Travel adalah  Zainur Ridho, Lurah Blindungan, Bondowoso. Dia mengaku sudah berangkat pada 2014 lalu. Saat itu banyak orang bersamanya. 

Dia mengaku, saat itu ikut Fisrt Travel melalui Rudi Hermanadi, Koordinator Jawa Timur. “Fasilitasnya sama dengan yang lain,” terangnya. 

Saat itu dia mengaku membayar cukup murah. Hanya Rp 13,5 juta. Dan, layanan yang diberikan, kata dia, cukup memadai. 

Pengalaman itulah yang akhirnya sempat membuatnya memutuskan menjadi perantara. Dari testimoninya, banyak orang yang diantarkannya mengenal koordinator First Travel Jatim.

Meski demikian, dia mengaku selama jadi perantara itu tidak mendapatkan apa-apa. Dia mengaku senang saja ada orang yang bisa berangkat umrah. Namun, karena semakin hari semakin banyak dan dia tak punya cukup waktu untuk mengurusnya, dia ahirnya memilih berhenti menjadi perantara. “Banyak banget yang daftar First Travel. Banyak juga PNS (di Bondowoso) yang sudah daftar,” ungkapnya. 

(jr/hud/gus/ras/das/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia