Kamis, 23 Nov 2017
radarjember
icon featured
Features

Firda Sukma, Satu-satunya Penari Bujang Ganong Perempuan

Senin, 11 Sep 2017 05:00 | editor : Dzikri Abdi Setia

TABRAK PAKEM: Firda Sukma Febrianti, (kanan) bersama penari Bujang Ganong perempuan lainnya. Semangat progresivitas penari ini melampau kelumrahan yang berlaku dalam kesenian tari tradisional Jawa.

TABRAK PAKEM: Firda Sukma Febrianti, (kanan) bersama penari Bujang Ganong perempuan lainnya. Semangat progresivitas penari ini melampau kelumrahan yang berlaku dalam kesenian tari tradisional Jawa. (Jumai/Radar Jember)

Jarang ditemui ada sosok perempuan di balik topeng Bujang Ganong. Jenis tarian yang biasa satu paket dengan Reog itu, lebih didominasi kekuatan pria.

Namun Firda Sukma Febrianti memilih tampil beda. Firda percaya, tarian Bujang Ganong akan lebih menarik dan menghibur jika dibawakan oleh perempuan.

Kendati tidak ada konsensus yang mengatur, gender merupakan salah satu hal untuk mengidentifikasi jenis-jenis tarian tradisional Jawa. Misal, tarian Gandrung hampir selalu dibawakan oleh perempuan.

Reog dibawakan oleh pria. Begitu juga dengan penari Bujang Ganong yang kerap mengiringi reog, lumrahnya dimainkan oleh laki-laki. 

Amat tak lazim jika ada pria yang membawakan tari Gandrung. Atau sebaliknya, seorang wanita membawakan tarian Reog dan Bujang Ganong. 

Tapi agaknya pakem ini tidak berlaku bagi Firda Sukma Febrianti. Betapa pelajar kelas XII SMA Negeri 1 Kencong ini dengan percaya diri memainkan tari Bujang Ganong. 

Cewek 17 tahun itu membawakan tarian Bujang Ganong tak ubahnya laki-laki. Gerakannya lincah. Sesekali menunjukkan kebolehannya salto atau rolling. Gerakan-gerakan khas Bujang Ganong yang lincah dan enerjik dia bawakan dengan begitu luwesnya. 

Untuk yang pertama kali, tarian itu dia pertontonkan dalam Festival Bujang Ganong yang digelar di halaman tengah SMK Negeri 08 Jember, Rabu (6/9) pekan lalu.

Penonton pun yang bersorak-sorai, meskipun awalnya banyak yang tak menyangka jika sosok di balik topeng gagah bermuka merah menyeramkan itu ternyata adalah perempuan. 

Kepada Jawa Pos Radar Jember Firda mengaku baru dua hari berkenalan dengan tarian maskulin itu, sebelum kemudian tampil di Festival Bujang Ganong SMKN 8 Jember.

Dalam tempo singkat, Firda dituntut menguasai gerakan-gerakan dasar tarian Bujang Ganong.

“Awalnya saya dikasih tahu oleh salah satu guru tempat saya sekolah, ada festival Bujang Ganong besok lusa. Saya tertarik ikut dan secara kilat langsung minta diajari oleh instruktur kesenian sekolah,” paparnya saat melakukan latihan di salah satu ruang SMKN 08 Jember. 

Untungnya, tidak semua gerakan tari Bujang Ganong sifatnya pakem. Bahkan lebih banyak yang kreasif dari si penari. Lantas, kendati harus belajar dalam tempo singkat, tidak banyak materi yang mesti dia hapalkan dan kuasai. “Pokok ngikuti irama musik saja.

Secara feeling gerakan mengikuti alur suara gamelan. Kapan harus gerak cepat, kapan waktunya mengurangi tempo, dan kapan mesti menampilkan kelincahan,” terangnya.

Kendati demikian, tarian tradisional bukanlah hal asing baginya. Sejak duduk di bangku kelas X SMA, Firda memang telah aktif di ekstrakurikuler tari. Spesialisasinya adalah Gandrung dan tari Labako. 

Dua tari tersebut lebih menonjolkan lemah gemulai, goyangan, dan kelokan, ketimbang kelincahan dan ketangkasan. Amat jauh berbeda dengan pola tari Bujang Ganong. 

Prinsipnya, kata Firda, penari Bujang Ganong mesti memahami tiga hal, wiraga (gerakan badan dan kekuatan), wirama (kepaduan tarian dengan irama), serta wirasa (penghayatan).  Bikin kompak tiga hal itu dalam penampilan di muka publik, menurutnya, susah-susah gampang. 

Lantas, alasan ketertarikan Bujang Ganong cewek ini pada tarian yang secara pakem dimainkan laki-laki itu dilandasi semangat progresivitas. Sejauh ini, masih jarang sekali ada sosok perempuan di balik topeng Bujang Ganong.

Padahal, ujarnya, jika diberi kesempatan, bukan tidak mungkin perempuan mampu memainkannya lebih apik ketimbang laki-laki. 

Penonton pun pada akhirnya berpeluang untuk lebih tertarik dan terkesan. Sebab, mereka mendapat suguhan hiburan yang benar-benar baru dan lebih unik.

“Saat ada pagelaran Reog dan Bujang Ganong yang seluruhnya dimainkan oleh perempuan, pasti para penonton lebih terkesan dan tertarik, karena unik,” komentarnya. 

Pada akhirnya, tujuan awal pertunjukan kesenian yang hendak menghibur penonton semakin mengena. Penonton akan semakin terhibur lantaran menonton tarian Bujang Ganong dengan varian baru, yaitu dibawakan sosok perempuan.

Untuk itu, dia berkomitmen untuk semakin meningkatkan kapasitasnya dalam menarikan Bujang Ganong. Selain meningkatkan kualitas hiburan tari ini, harapannya, banyak perempuan lain yang terinspirasi untuk mengikuti jejaknya. 

Di sisi lain, upaya tersebut juga selaras dengan semangat mengkampanyekan kesenian tradisional yang pelan tapi pasti terus ditinggalkan generasi sekarang. Jika sasaran kampanyenya hanya laki-laki, maka gerakan tersebut akan berjalan secara parsial.

Beda halnya jika perempuan juga dilibatkan secara emansipatif. Kemungkinan kampanye kesenian tari Bujang Ganong di kalangan generasi muda berlangsung masif akan lebih berpeluang. (was/c1/hdi)

(jr/was/hdi/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia