Kamis, 23 Nov 2017
radarjember
icon-featured
Features

Lihat Kondisi Persid, Kamil Gunawan pun Terpaksa “Keluar Sarang”

Rabu, 06 Sep 2017 20:13 | editor : Dzikri Abdi Setia

Kamil Gunawan (baju merah) menyapa suporter Persid.

Kamil Gunawan (baju merah) menyapa suporter Persid. (Heru Putranto/Radar Jember)

Kamil Gunawan punya memori spesial dengan Persid Jember. Cukup lama pengusaha beras ini bersinggungan dengan Persid.

Tak heran ketika Persid tengah didera masalah, pria asli Kalisat ini terpanggil. Tak tahan juga.

Keluar sarang bahkan sampai blusukan ke ruang ganti hanya untuk beri bonus. Tak ada tendensi selain prihatin!

Laga perdana di babak 12 besar, saat Persid menjamu Deltras Sidoarjo di Stadion Utama Jember Sport Garden (JSG) Ajung kemarin, terasa istimewa.

Bukan saja karena Persid berhasil menekuk salah satu tim legendaris di Jawa Timur, tapi juga karena animo masyarakat.

Jika biasanya jumlah penonton rata-rata di kisaran 3.000 orang, dalam laga kemarin panitia pelaksana (panpel) memperkirakan pengunjung mencapai 4.000 orang. 

Tak cuma jumlah penonton. Laga pada hari Minggu (03/09) kemarin juga dihadiri banyak tokoh penting.

Mulai dari tiga perwira menengah TNI AD yang ada di Jember, Kapolres, Rektor IAIN serta sejumlah kalangan pengusaha.

Salah satunya adalah H Kamil Gunawan. Nama pengusaha beras asal Kalisat ini cukup akrab di kalangan pegiat olahraga di Jember karena pernah menjabat sebagai Ketua KONI Jember pada tahun 2006 hingga 2010. 

Ditemui di kafe miliknya yang ada di kawasan kampus, Haji Kamil berkisah kegundahannya melihat kondisi Persid saat ini. Dia menghisap kuat-kuat rokok yang dipegangnya. Tak segera bicara. Baru setelah beberapa kali sedotan, dia mulai bercerita. “Kasihan anak-anak itu, hak-haknya tidak dipenuhi. Padahal mereka sedang moncer di lapangan,” tutur Haji Kamil. 

Memorinya melambung ke masa lalu, saat ia diamanahi memimpin Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jember pada medio 2006 hingga 2010.

Sebagai pengusaha yang tumbuh besar di Jember, Haji Kamil memiliki semacam tanggung jawab moral terhadap pembinaan olahraga di Jember.

“Karena saya kan orang Jember, cari makan di sini. Dan olahraga menurut saya juga penting untuk juga mengembangkan potensi generasi muda,” tuturnya sembari menyeruput kopi. 

Salah satu momen yang paling dia ingat adalah ketika Persid di 2006, nyaris promosi ke divisi utama yang merupakan kasta tertinggi dalam persepakbolaan nasional (sekarang berganti nama menjadi liga 1).

Saat itu, di divisi satu (kasta tertinggi kedua), Persid berada satu grup dengan empat klub lain yang berada dari empat kota berbeda.

Keempatnya yakni Wamena, Bojonegoro, Jakarta Utara, dan Jogjakarta. “Saat itu di pertandingan terakhir, kita kalah dengan Wamena, Papua. Ibaratkan kita itu kurang satu langkah saja,” kenang Haji Kamil dengan logat khasnya. 

Mengelola tim sepak bola dengan komunitas pendukung daerah yang cukup kuat –menurut Haji Kamil- memang memiliki suka duka tersendiri.

“Kalau lagi main bagus, semua ngelem (menyanjung, Red). Tapi kalau sudah jatuh, ya dicaci,” lanjutnya sembari tersenyum. 

Beruntung, Haji Kamil saat itu mengaku tak banyak menerima cacian masyarakat. Pasalnya, semasa dia menjabat sebagai ketua KONI Jember, grafik prestasi Persid memang sedang menanjak.

Saat itu, Persid juga baru saja promosi dari Divisi 2 usai menjadi juara pada pertandingan di Jogjakarta, di musim sebelumnya. “

Waktu kita juara di Solo, saya ingat kita ketemu dengan tim antara lain tim dari Bolaang Mangondouw dan Depok,” tutur pria berkaca mata ini. 

Tak cuma di sepak bola. Prestasi olahraga Jember secara umum pada rentang tahun 2006 hingga 2010 cukup baik.

Sebagai Ketua KONI Jember, Haji Kamil memang bertanggung jawab pada pembinaan olahraga secara umum di Jember.

“Waktu itu kita porprov sempat peringkat empat. Karena saat itu, tidak ada ceritanya dana hibah untuk cabor tidak cair seperti sekarang,” ujarnya. 

Kunci keberhasilan pembinaan olahraga suatu daerah –menurut Kamil- adalah adanya komitmen dukungan dari pemerintah daerah setempat. Selain itu juga harus ada komunikasi yang harmonis antara kepala daerah dengan pegiat olahraga seperti KONI dan organisasi cabor yang  bernaung di bawahnya. Lebih lanjut, Kamil memaklumi, jika pencairan dana pembinaan dari APBD tidak selalu lancar. “Tidak mungkin mengandalkan cairnya dana dari APBD sepenuhnya. Sebab APBD itu baru cair antara bulan 4 atau bulan 5. Masak di bulan sebelumnya, atlet mau tidak ikut kompetisi?” tutur Haji Kamil. 

Menjadi wajar menurut Haji Kamil jika ada pihak tertentu yang harus berkorban untuk “nalangi” terlebih dulu kebutuhan dana olahraga sembari menanti cairnya dana dari APBD.

Dengan catatan, harus ada komitmen dari kepala daerah untuk kemudian mengganti dana tersebut setelah APBD bisa dicairkan.

“Waktu itu saya berani menjamin (nalangi, Red) untuk KONI sebesar Rp 400 juta hingga Rp 500 juta. Untuk sepak bola saya berani sampai Rp 1,3 miliar. Karena bulan pertama sampai keempat, APBD belum bisa dicairkan,” jelasnya. 

Saat ia menjadi ketua KONI, sudah terbangun komunikasi yang baik dengan bupati yang saat itu dijabat M.Z.A. Djalal.

“Waktu itu kami rapat, saya sampaikan bahwa sepak bola rakyat yang harus kita bina. Dan bupati bisa memahami dan berkomitmen,” tutur Haji Kamil. 

Karena itu, saat ini Haji Kamil mengaku sangat trenyuh dan prihatin dengan kondisi Persid di mana para pemainnya sudah lebih dari enam bulan tidak mendapatkan gaji.

Para pemain terimbas dari macetnya dana untuk Persid yang sebenarnya sudah dianggarkan dalam APBD 2017 yang sudah disetujui DPRD Jember.

“Bupati seharusnya bisa mencari terobosan hukum agar dana untuk Persid bisa dicairkan. Kan sudah tidak ada masalah dualisme kepengurusan. Apa lagi yang kurang?” cetus Haji Kamil. 

Di kalangan pengusaha yang ada di Jember, saat ini juga sudah ada kepedulian untuk membantu Persid.

Tetapi menurutnya akan lebih efektif jika itu digerakkan langsung oleh bupati selaku pimpinan masyarakat Jember.

“Pengusaha itu pasti mau, lha wong mereka cari makan di Jember kok. Tapi tetap tanggung jawab utama harusnya bupati sebagai kepala daerah,” katanya. 

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, lanjut Haji Kamil, kepala daerah adalah yang paling bertanggung jawab untuk pembinaan olahraga level amatir.

Sebagai klub yang bermain di Liga 3, menurut Haji Kamil, Pemkab Jember tidak akan melanggar aturan jika membantu Persid.

“Bukan cuma boleh, tapi wajib. Undang-undang kan lebih tinggi dari Permendagri,” tuturnya. 

Sebelum laga kontra Deltras, sempat ada aksi galang dana di kalangan pengusaha dan tokoh masyarakat Jember yang dikoordinasi Komandan Secaba Rindam V/Brawijaya, Jember.

Hanya dalam waktu kurang dari sehari, terkumpul dana lebih dari Rp 25 juta untuk membantu para pemain Persid yang sedang “puasa” gaji.

“Sebenarnya sangat bisa untuk melakukan itu dengan lebih besar, asal digerakkan. Tidak melanggar hukum kok,” sesal Haji Kamil. 

Di satu sisi, Haji Kamil sangat mendukung komitmen pemkab untuk menjalankan pemerintahan yang bersih (good governance).

Tetapi melihat kondisi saat ini, ia lebih menyebut pemkab cenderung kurang peduli terhadap olahraga di Jember. “Saya lihat (mungkin) karena tidak suka terhadap pengurusnya,” kritik Haji Kamil. 

Jikapun demikian, Haji Kamil menyarankan untuk mengganti saja. “Karena masih liga amatir, Persid itu masih milik pemkab. Ganti saja kalau tidak suka. Toh ketuanya juga sudah bilang ke saya, siap diganti demi menyelamatkan sepak bola Jember,” tutur Haji Kamil. 

Haji Kamil juga terkejut ketika Jawa Pos Radar Jember memberitahukan kondisi striker andalan Persid, M. Faisol Yunus yang sudah lebih dari dua minggu dibekap cedera parah namun belum mendapat perawatan medis karena terkendala biaya.

“Suruh bawa ke dokter spesialis tulang saja, berbahaya nanti itu kalau tidak segera ditangani. Nanti biar kami tanggung,” ujar Haji Kamil. 

Melihat permainan Persid saat ini, Haji Kamil juga optimistis tim yang berdiri sejak tahun 1952 ini bisa mencapai target promosi ke liga 2 pada musim ini.

Hanya saja dia mengkritik stamina pemain yang drop di babak kedua pada laga melawan Deltras kemarin. “Sepertinya mereka kurang latihan dengan baik. Tapi saya maklum juga karena kondisi psikologis kemarin,” tutur Haji Kamil. 

Lebih lanjut, dukungan Pemkab Jember terhadap Persid diyakini Haji Kamil juga bisa membawa efek simultan pada lini ekonomi kerakyatan.

Ini jika Pemkab Jember mau mengelola pertandingan Persid sehingga animo masyarakat juga semakin terkerek.

“Kemarin saja tidak didukung pemkab, bisa empat ribu yang datang ke JSG. Seharusnya bisa dikemas sehingga UMKM bisa mendapatkan rezeki dari gairah sepak bola,” pungkas Haji Kamil.

(jr/ad/ras/das/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia