Senin, 25 Sep 2017
radarjember
Sportainment

Persid Pesimis Bisa Naik Kasta

Senin, 04 Sep 2017 20:25 | editor : Dzikri Abdi Setia

(Heru Putranto/Radar Jember)

Persid Jember memang sedang di atas angin dengan prestasinya yang terus melaju ke babak 12 besar Liga 3 Nusantara zona Jawa Timur.

Namun, hal ini masih jauh dari target prestasi untuk bisa naik kasta. Bahkan dengan komposisi pemain saat ini, untuk bisa naik kasta diperlukan sekitar Rp 1,5 miliar.

Jaya Hartono, mantan kapten tim yang pernah mengantarkan Persid Jember naik kasta di tahun 2002-2003 silam menyebut, untuk bisa naik kasta diperlukan banyak hal.

Selain kualitas pemain yang di atas rata-rata, juga ditambah dengan dukungan manajemen dan juga finansial dari klub sendiri.

“Kalau melihat kualitas pemain kita saat ini, adik-adik (pemain Persid) bagus-bagus,” ucap Jaya kepada Jawa Pos Radar Jember kemarin. 

Dirinya mengatakan pemain Persid selama ini dikenal sebagai pemain yang loyal dengan dedikasi tinggi. Seburuk apapun kondisi manajemen, biasanya pemain akan tetap tampil trengginas di atas lapangan. Karena mereka memiliki jiwa yang tinggi untuk mengharumkan nama Jember.

Bahkan, di eranya dulu bukan setahun dua tahun mengalami hal seperti ini serta manajemen Persid Jember bermasalah. Namun, hal itu sama sekali tidak mengendurkan semangat pemain untuk bertanding dengan sepenuh hati. 

“Bahkan dulu untuk bisa main karena keterbatasan dana, tidur di masjid dan rumah orang tetap dilakoni tim,” ungkap pemain tengah Persid ini.

Semua masalah manajemen biasanya tertutupi dengan loyalitas tinggi dari pemain. Begitu juga dengan kondisi saat ini yang tim sedang terseok-seok.

Diakui Jaya, untuk tetap bertahan bermain mungkin bisa, namun untuk bisa berprestasi hingga lolos ke babak selanjutnya adalah pekerjaan yang berat.

“Tergantung dari motivasi pemain sendiri. Karena tentu kasihan pemain kita (dengan kondisi saat ini),” jelasnya. Yang harus diperhatikan, pemain ini juga ada keluarga bahkan anak di rumah sehingga membutukan gaji. Dimana mereka juga ada godaan untuk bermain di tim lain dengan godaan yang lebih menggiurkan. Sehingga manajemen diharapkan tetap bisa menjaga semangat dari para pemain.

“Sebagai pemain profesional tentu mereka bisa pergi ke klub lain,” tuturnya. Yang jelas, tentu hal ini kembali kepada pihak manajemen. Jaya menuturkan jika untuk masalah manajemen ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. 

Seharusnya Persid Jember sudah mulai belajar untuk menjadi klub yang bagus. “Banyak klub se angkatan kami dulu sekarang bisa menjadi klub profesional. Seharusnya Persid Jember juga bisa,” tegasnya. Apalagi, kini sejumlah klub desa juga belajar profesional untuk manajemen klubnya, sehingga sudah sepatutnya Persid juga demikian.

Pendekatan personal menjadi kunci untuk mempertahankan loyalitas pemain. Sebagai pemain, mereka tidak bisa diajak untuk berpikir mengenai kondisi anggaran yang masih belum terselesaikan.

“Biarkan konsentrasi mereka di teknis. Dalam sisi anggaran, ini adalah tugas manajemen dan pengurus untuk bertanggung jawab agar kondisi tim tetap kondusif,” tambah Jaya. 

Bentuk komunikasi intens ini dinilainya belum terlalu baik. Padahal menurutnya, berdasarkan pengalamannya sebagai pemain, tidak semua pemain bicara masalah uang.

Apalagi pemain Jember terkenal dengan tingkat fanatisme kedaerahan yang sangat tinggi. “Mental mereka untuk membela teempat asal mereka sangat kokoh,” lanjutnya.

Sementara itu, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jember Ahmad Halim yang juga getol mendampingi Persid mengakui jika perjuangan Persid masih jauh dan panjang. Apalagi, untuk mewujudkan mimpi seluruh masyarakat Jember agar bisa naik kasta ke Liga 2 Nusantara.

“Setelah ini masuk babak 12 besar Jawa Timur, lalu Jawa Timur. Setelah itu zona Jawa baru masuk ke Nasional,” terang Halim. Sehingga masih cukup jauh untuk bisa menggapai prestasi itu. Namun, hal tersebut sebenarnya bukanlah hal yang mustahil dengan melihat komposisi pemain Persid Jember saat ini yang cukup bagus.

Dirinya mengatakan untuk rata-rata klub bisa naik kasta membutuhkan anggaran Rp 3 miliar. Tetapi Halim mengatakan hal tersebut bukanlah nilai mutlak sehingga masih relatif.

Dirinya mengatakan dengan komposisi pemain saat ini, bisa tidak sampai sebesar itu. “Sekarang tim dan pemain-e apik (sekarang tim dan pemain bagus). Separuh kemungkinan,” jelasnya.

Namun, diakui Halim semua itu bukan hal yang mustahil. Halim mengatakan dalam sepakbola semua hal sulit untuk diprediksi. “Kemarin aku pesimis lolos. Tapi sampai sekarang bisa lolos,” jelasnya. 

Namun, akan lebih bagus jika pemain yang bagus ini juga didukung dengan anggaran yang mumpuni. “Apalagi, semua pihak kini juga peduli ke Persid. Hingga klub kebanggaan arek Jember ini lolos hingga sejauh ini,” pungkasnya.

(jr/ram/lin/hdi/das/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia