Jumat, 22 Sep 2017
radarjember
Sportainment

Korban Darah, Keringat, dan Air Mata Main Bola Hanya untuk Jember

Minggu, 03 Sep 2017 21:35 | editor : Dzikri Abdi Setia

JEMBER – Carut-marut yang terjadi pada manajemen Persid tentu memberikan imbas negatif kepada seluruh pemain yang tampil, khususnya di liga tiga.

Tampil sebagai juara grup di klasemen sementara, Persid kini tengah bersiap menghadapi tim-tim yang sudah punya nama khususnya di Jawa Timur seperti Deltras Sidoarjo dan Persekap Kota Pasuruan. 

Namun dengan keuangan Persid yang memprihatinkan, Faisol Yunus dkk seakan membungkus angin.

Semangat anak-anak Persid kini memang tinggal seuprit. Betapa tidak, sudah enam bulan mereka tidak digaji. Mereka harus bermain tanpa bayaran. Dengan kondisi itu, Persid seakan berada di titik nadir. 

“Kalau misalnya kita mengondisikan anak-anak untuk stop berhenti main, ya mereka pasti berhenti,” ujar Achmad Jaenuri, pelatih Persid ketika ditemui Jawa Pos Radar Jember.

Namun karena masih passion dan keinginan membawa nama Jember hingga ke kancah persepakbolaan nasional, para pemain masih bersedia mengikat tali sepatu mereka.

Bahkan mereka rela mengorbankan apa pun termasuk darah, keringat, dan air mata dalam arti yang sebenarnya. 

“Ya mereka sambat sampai nangis-nangis. Soalnya enam bulan nggak digaji tapi harus lari-lari di lapangan memperebutkan kemenangan sampai harus cedera dan berdarah-darah,” keluhnya.

Apalagi, rata-rata pemain Persid ini datang dari daerah yang cukup jauh seperti Puger, Sukowono, dan Balung.

Ongkos transportasi dari rumah ke Jember saja sudah cukup menjadi beban. Belum lagi mayoritas pemain berasal dari keluarga yang kurang mampu. 

“Sampai ngutang-utang biar bisa berangkat ke Jember, pinjam sepeda motor dan sebagainya. Untuk apa itu semua kalau bukan untuk Jember, saking inginnya membela Persid, membela daerah,” kata pelatih senior tersebut.

Jaenuri enggan berkomentar soal anggaran Persid yang urung cair hingga memasuki bulan ke sembilan di tahun 2017 ini.

Padahal di babak 12 besar ini kompetisi semakin ketat, namun tidak ada kucuran dana sama sekali untuk operasional mulai dari seleksi pemain, latihan, hingga transportasi dan biaya penyelenggaraan pertandingan.

Ini baru babak 12 besar dan Persid sudah hampir kehilangan napas dalam membiayai pemain dan operasional pertandingan.

Dia tak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau Persid sampai lolos ke babak selanjutnya, bahkan kalau seandainya lolos ke liga dua. “Kalau begini terus anggaran dari mana kita,” keluhnya.

Dirinya mengaku, setiap kali hendak menggelar laga tandang maupun kandang, pihaknya harus berjibaku mencari pinjaman uang. Bahkan sampai ada yang menggadaikan sertifikat rumah dan BPKB kendaraan bermotor. 

“Istilahnya tambal sulam. Kalau latihan kan ya harus nyediakan minuman, masa mereka nggak dikasih minum. Kasihan anak-anak,” imbuhnya.

Namun dia tak mau membuka diri tentang angka pasti anggaran yang sudah dihabiskan pada kompetisi yang digelar sejak Februari tersebut. 

“Kalau itu ranahnya manajemen. Pokoknya gaji anak-anak harusnya lebih dari dua juta per anak,” elaknya. Dia menegaskan, tugasnya adalah menjaga bagaimana semangat anak-anak tetap membara di lapangan.

Kini nasib pemain Persid masih menanti uluran tangan dari pihak-pihak terkait. Jaenuri yakin, sebenarnya pemerintah setempat paham benar apa yang tengah dihadapi oleh tim kebanggaan Jember ini.

“Kondisi semacam ini sayangnya hanya terjadi di Jember saja, di daerah lain lancar. Entah kenapa di Jember nggak bisa berkembang,” lanjut Jaenuri.

Kondisi finansial Persid yang amburadul juga menjadi perhatian suporter setia yang tergabung di Jember Berani (Berni). Jaenuri mengisyaratkan para suporter juga mengambil langkah untuk membantu pendanaan.

Bahkan, lanjut dia, Berni juga siap seandainya harus melakukan aksi unjuk rasa menuntut pencairan dana hibah Persid yang masih belum disalurkan hingga saat ini.

“Suporter siap demo, kelihatannya mereka bahkan rela tidur di depan pendapa,” pungkasnya.

(jr/lin/hdi/das/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia