Kamis, 19 Oct 2017
radarjember
icon featured
Features

Yohanes Hiariej, Pelari Lintas Alam yang Raih Juara Internasional

Terbiasa Lari Jember – Bondowoso untuk Ngapel

Rabu, 02 Aug 2017 18:34 | editor : HARI SETIAWAN

SPESIALIS LINTAS ALAM: Yohanes Hiariej saat mengikuti lomba lari di beberapa daerah dalam event Asia Trail Master.

SPESIALIS LINTAS ALAM: Yohanes Hiariej saat mengikuti lomba lari di beberapa daerah dalam event Asia Trail Master. (Yohanes for Radar Jember)

Lari mengelilingi gunung bukan hal yang mudah. Sebab harus menempuh jarak cukup jauh dan menerabas hutan. Olahraga tersebut diberi nama Lari Lintas Alam. Di Jember, Yohanes Hiariej merupakan salah satu penggagasnya. 

Tenaganya cukup kuat,  wajahnya berkeringat, postur tubuhnya tinggi.  Dia baru saja lari dari tempat tinggal di asrama militer Yonif 509/Raider Kostrad menuju  Rembangan. Butuh sekitar empat jam untuk menempuh jarak 40 kilometer tersebut.  Jarak itu terbilang dekat bagi Yohanes Hiariej karena dirinya sudah terbiasa lari dengan jarak jauh.

Bahkan, saat masih pacaran dengan April Wulandari  -sekarang istrinya-  Yohanes biasa lari dari Jember ke Bondowoso seminggu sekali. Tujuannya hanya untuk apel. “Ngapeli pacar dengan lari Jember Bondowoso itu selama empat tahun,” katanya pada Jawa Pos Radar Jember.

Kegiatan olahraga lari sudah tidak bisa dilepaskan dari pria yang akrab disapa Om Yo tersebut, saat jadi wakil komandan regu senapan kompi A Yonif 509/Raider Kostrad. Setiap hari, dia selalu lari mengelilingi kota Jember. “Lari selama dua jam setiap hari,  sekitar 25 kilometer,” akunya. 

Kebiasaan lari itu dimulai sejak tahun 2005 lalu, yakni saat di militer. Kesukaan itu terus berkembang dan mengikuti lari militer tahun 2015. Dari sana pria kelahiran Ambon itu mulai giat mengikuti event lari nasional hingga internasional.

Tahun 2016, Om Yo mulai mengikut event Ijen Trail Running - Asia Trail Master di Bondowoso sejauh 70 kilometer. Pesertanya tak hanya dari Indonesia, namun sekitar 13 negara. Lomba pertama yang diikutinya itu membuat dirinya semakin semangat, sebab langsung juara dua. 

Motivasi itu semakin kuat, tak puas dengan prestasi pertama, dia melanjutkan event serupa di Gunung Rinjani. Jarak yang ditempuh cukup jauh, yakni 100 kilometer. Namun, tak sempat meraih juara. “Setelah itu ikut event yang sama di Magelang Jawa Tengah.” Tuturnya.

Kemudian, lanjut pria kelahiran 28 Juni 1983 tersebut, event selanjutnya di Bromo Tengger Semeru sejauh 170 kilometer. Setelah itu event trail running di Bandung sejauh 42 kilometer. “Di sana saya juara enam,” akunya. 

Lari di tengah gunung dan hutan sudah menjadi kebiasaan yang tak bisa ditinggalkan Om Yo. Setiap ada event, dia selalu tampil. Kali ini, dia meraih juara dua dalam trail running di Jogjakarta sejauh 70 kilometer. “Yang tahun 2017 juara dua juga dalam Ijen Trail Running,” akunya. 

Di Indonesia, Om Yo meraih peringkat ke dua dalam lari lintas alam. Sedangkan di tingkat internasional dia peringkat delapan. “Setelah ini rencana ikut event Asia Trail Master di Thailand sejauh 122 kilometer,” imbuhnya. 

Ketertarikannya pada lari lintas alam karena bisa menikmati pemandangan gunung. Sehingga lari yang dilakukan tidak bosan karena menyajikan suasana yang berbeda. “Selain itu juga ada kebanggaan apalagi ketika meraih juara,” imbuhnya.

Ayah dari dua anak itu mengaku saat pertama kali ikut event Asia Trail Master, sepatunya merupakan yang paling buruk. Sebab, selain tak pernah mengikuti lomba, juga tidak terlalu paham pakaian yang harus dipakai. Kendati demikian, dia mampu meraih juara dua, menempuh jarak 70 kilometer dalam waktu sembilan jam.

Diakuinya, lari di tengah gunung pernah membuatnya tersesat saat mengikuti event di Bali. Sebab, jalan setapak di tengah hutan cukup membingungkan. Akibatnya, dia kalah karena menghabiskan waktu selama satu jam untuk kembali.

Bahkan, Om Yo pernah lari sejauh 300 kilometer di kawasan Gunung Bromo dengan waktu sekitar 34 jam. Saking lelahnya dan merasa kedinginan, dia sempat tertidur di tengah hutan dan terbangun pada pagi hari. “Caranya 10 kilometer ditempuh selama satu jam,” aku pria 34 tahun tersebut.

Dalam lomba itu, Om Yo selalu mewakili Kabupaten Jember. Sayangnya. Jember belum memperhatikan lari lintas alam ini. Padahal potensinya luar biasa untuk menyelenggarakan event Asia Trail Master. “Kawasan Rembangan hingga Gunung Argopuro itu sangat menarik,” akunya. 

Om Yo ingin menghidupkan olahraga lari lintas alam. Dia mengajak anak-anak muda yang senang lari agar ikut bergabung. Sampai sekarang, sudah ada sekitar 14 orang yang ikut bergabung. Bahkan beberapa juga sudah meraih prestasi. 

“Saya pernah ikut Asia Trail Master di Banyuwangi sejauh 12 kilometer dan juara enam,” tambah Ali Naufan, salah satu pelari lintas alam. Padahal dirinya hanya latihan sekitar enam bulan. Namun, bisa bersaing dengan peserta dari negara luar.

Dia tak sendiri. Di lari lintas alam ini juga ada nama Akhmad Nizar. Pria asal Kecamatan Mayang itu sudah meraih berbagai prestasi di bidang lari lintas alam. Pertama juara satu tingkat Jatim Ultra Malang – Surabaya sejauh 100 kilometer tahun 2016 lalu. 

“Pernah juga juara satu BTS Ultra Trail Running 30 kilometer, juara satu Rinjani 100 Trail Running 27 kilometer tahun 2017  serta beberapa prestasi lain, ” akunya. 

Nizar berharap agar pemerintah bisa memberikan perhatian dan apresiasi pada atlet lari, terutama atlet lari lintas alam. Sebab, setiap tampil dalam berbagai event, selalu membawa nama Jember. “Selama ini kami pakai dana sendiri,” pungkasnya.

(jr/gus/har/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia