Rabu, 27 Sep 2017
radarjember
Perspektif

Mendongkrak Ekonomi dari Flight Baru

Oleh: Abdul Choliq Baya

Jumat, 28 Jul 2017 18:33 | editor : HARI SETIAWAN

TAK lama lagi akan ada maskapai baru yang hadir di Bandara Notohadinegoro Jember. Maskapai ini melayani rute Jember–Surabaya. Pergi pulang. Setiap hari. Tepatnya, akan dimulai awal Agustus dilayani dua maskapai.

Pertama, maskapai Garuda yang lebih dulu ada. Menerbangi langit Surabaya-Jember, pada pukul 08.55-09.40. Dan, balik Jember-Surabaya pukul 10.20-11.15. Menggunakan pesawat jenis ATR 72-600 berkapasitas 70 seat. Kedua, pendatang baru Wings Air. Melayani dengan waktu lebih siang. Rute Surabaya-Jember dilayani pukul 11.00-11.50. Sebaliknya, rute Jember-Surabaya pukul 12.15-13.10. Jenis pesawat yang digunakan sama dengan milik Garuda. Berkapasitas 72 seat. 

Kehadiran maskapai baru ini mendapat sambutan positif dari warga Jember. Sebab, ada alternatif pilihan lain yang bisa diandalkan. Baik dari sisi waktu maupun harga tiket. Waktu keberangkatan dan kembalinya bisa memilih dua opsi yang tersedia. Sedang tiket, tidak lagi dimonopoli oleh satu maskapai. Sehingga, kalau ada pesaing harganya bisa lebih kompetitif.

Meski demikian, beberapa pengusaha dan birokrat menyatakan, jadwal penerbangan yang ada sekarang masih kurang pas. Jadwal keberangkatan dari Jember ke Surabaya terlalu siang. Antara flight pertama (Garuda) dengan flight kedua (Wings Air), waktunya juga terlalu dekat.

Idealnya, jadwal penerbangan awal Jember-Surabaya waktunya lebih pagi. Di kisaran pukul 07.00-08.00. Ini akan lebih menguntungkan penumpang dari kalangan birokrat dan pebisnis. Pasalnya, bila ada undangan meeting atau janji bertemu klien di Surabaya, rata-rata mulai pukul 09.00-10.00. Seandainya bisa dilayani lebih pagi, tentu lebih baik lagi. 

Sedang penerbangan kedua, waktu idealnya adalah sore. Mengandalkan pesawat balik ke Surabaya. Waktunya antara pukul 16.00-17.00. Sedang keberangkatan pesawat dari Surabaya ke Jember, waktu idealnya pukul 15.00-16.00. Rasanya lebih, karena ini waktu pulang setelah penumpang melakukan kegiatan mulai pagi sampai siang. Baik mereka yang berkegiatan di Surabaya maupun di Jember.

Mengenai jadwal terbang ideal ini, harapannya bisa menguntungkan banyak pihak. Terutama dari pemakai jasa penerbangan agar waktunya bisa efektif dan efisien. Demikian pula dengan pihak maskapai, bisa mendapatkan penumpang maksimal.

Sejatinya, penambahan jadwal penerbangan ini bisa berimbas ke beberapa sektor. Terutama menjadi pengungkit tumbuhnya ekonomi yang bisa menyejahterakan warga Jember. Sebab, kehadirannya bisa menjadi pelipat jarak. Dari yang semula ditempuh empat sampai lima jam via darat, bisa menjadi tak sampai sejam. Cukup efisien waktu. 

Bertambahnya rute penerbangan menuju atau keluar Jember ini prospek ke depannya cukup besar. Dan, ini tidak terbatas pada jurusan Surabaya-Jember atau sebaliknya saja. Tapi, berkembang ke rute lain. Terbukti, sudah ada beberapa wakil maskapai yang melakukan penjajagan ke Jember. Seperti Batik Air dan Lion Air yang mulai memprospek rute Jember-Denpasar, Jember-Sumenep, dan Jember-Jakarta. Hanya saja, tidak mudah untuk segera mewujudkan dalam waktu dekat. Karena terkait dengan kesiapan infrastruktur yang ada di bandara Notohadinegoro. Saat ini statusnya masih kelas 4. Untuk naik kelas, perlu ada perpanjangan landasan, penambahan apron, perluasan terminal penumpang, dan masih banyak lagi yang perlu dibenahi.

Apalagi, ke depan bandara ini juga diproyeksikan menjadi embarkasi jamaah haji. Tentu masih harus ditambah lagi sarana prasarana pendukung yang perlu disiapkan. Karenanya, masyarakat Jember harus optimistis bisa mewujudkannya. Termasuk mendukung setiap langkah positif yang dilakukan pemerintah.

Pertanyaan mendesak yang butuh solusi, bagaimana penambahan rute ini benar-benar efektif bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi Jember? Kita semua pasti berharap akan semakin banyak penumpang yang datang ke Jember. Apakah itu dari kalangan pebisnis yang akan mengembangkan usahanya di sini. Wisatawan yang ingin refreshing di Jember. Rombongan atau kelompok birokrat, teknokrat, akademisi, profesional, perbankan, maupun institusional lain yang ingin menggelar acara maupun menjadi peserta sebuah even di Jember.   

Terkait itu semua, pasti mereka butuh tempat menginap. Transportasi yang memadai. Lokasi even yang nyaman. Destinasi wisata dan tempat kuliner yang representatif. Punya produk souvenir khas yang bisa dijadikan buah tangan. Dan masih banyak lagi. Sudahkah Jember menyiapkan itu semua? Bisakah Jember jadi tuan rumah yang menyenangkan hingga yang dating ingin kembali lagi ke Jember?

Saya kira masih banyak kekurangan yang perlu dibenahi dan disiapkan. Dan, itu butuh dukungan dan bantuan banyak pihak. Karena ini tidak bisa dilakukan pemerintah sendirian. 

Kepedulian, inisiatif, solusi, alternatif maupun langkah-langkah konkret dari elemen masyarakat demi terakomodasinya kepentingan lebih luas untuk kemajuan Jember sangat dibutuhkan. Terutama terkait dengan imbas positif yang bisa dimanfaatkan dari adanya flight baru.

Misalnya di sektor pariwisata. Untuk destinasi wisata yang ada, apakah sudah banyak dipromosikan? Sarana dan prasarana, termasuk jalan menuju ke sana apa sudah bagus? Sudah adakah transportasinya? Sudah adakah paket-paket wisata maupun agen wisata yang melayani? Dan lain sebagainya.

Satu lagi yang menurut saya penting, Jember harus punya kalender wisata. Event yang menarik bisa dipasarkan oleh agen travel sekaligus dibuatkan paket-paket wisata. Sehingga, ini bisa mendongkrak okupansi hotel, pesawat, kereta api maupun angkutan umum lainnya. Juga akan berdampak pada jumlah pemasukan objek wisata dari tiket masuk, pembelian souvenir dan makanan. Uang yang berputar di Jember akan semakin banyak. Ekonomi masyarakat pun meningkat.

Selama ini yang saya tahu event rutin kolosal tahunan bertaraf internasional hanya Jember Fashion Carnaval (JFC). Imbasnya hotel-hotel pada penuh, pesawat, kereta api dan bus menuju Jember juga penuh. Bayangkan kalau ada banyak even wisata andalan yang lain, pasti pertumbuhan ekonomi Jember akan cepat meningkat.

Karena itu, menurut saya sudah cukup mendesak pemerintah dan para pelaku wisata duduk bersama membuat kalender event yang bisa dijual seperti JFC. Apakah itu even seni budaya, olahraga, ekonomi kreatif, bisnis, pendidikan, keagamaan, pertanian, dan lain sebagainya. Yang penting ada kejelasan event dan waktunya.

Sebab, yang namanya kalender event, hampir seluruh daerah sekarang sudah memiliki. Bahkan, beberapa diantaranya mengemasnya dengan nama festival. Misalnya yang dilakukan tetangga sebelah Banyuwangi. Mereka mengemas kalender evennya dengan nama Festival Banyuwangi. Untuk tahun 2017 ini, ada 72 agenda event yang jadi kalender wisata. Dan, itu sudah dipromosikan sampai ke mancanegara. Imbasnya, ketika event digelar, tingkat hunian hotel dan pesawat selalu penuh. 

Bagaimana dengan Jember? Monggo diipecahkan bersama. (@cho_baya)

(jr/har/har/JPR)

Rekomendasi Untuk Anda

Jawa Pos Digital
E-Paper
Top Stories
 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia