Kamis, 23 Nov 2017
radarjember
icon featured
Sportainment

Masalah Persid Mulai Klir

Rabu, 19 Jul 2017 18:17 | editor : HARI SETIAWAN

PROBLEM YAYASAN: (dari kiri ke kanan) Sekretaris Persid Toni Mubarok, Manajer Persid Junior Sutikno, dan Ketua Umum Persid Agus Rizki usai mediasi di pendapa, Senin malam.

PROBLEM YAYASAN: (dari kiri ke kanan) Sekretaris Persid Toni Mubarok, Manajer Persid Junior Sutikno, dan Ketua Umum Persid Agus Rizki usai mediasi di pendapa, Senin malam. (Adi Faizin/Radar Jember)

JEMBER – Permasalahan krisis keuangan yang tengah mendera Persid Jember mulai menemukan titik terang. Hal itu tergambar usai mediasi antara perwakilan Persid dengan Pemkab Jember di pendapa, Senin (17/07) malam kemarin. 

Turut hadir dalam pertemuan tersebut Kepala Kejaksaan Negeri Jember Ponco Hartanto, Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo, dan Dandim 0824 Jember Letkol Inf Rudianto. 

Dari pantauan Jawa Pos Radar Jember, upaya mediasi diawali dengan pertemuan tertutup antara unsur Forkopimda sejak sekitar pukul 20.45. Selain Kapolres dan Dandim, pertemuan tersebut melibatkan Bupati dr Faida, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Dedi M. Nurahmadi serta jajaran di bawahnya. 

Sementara pengurus Persid diwakili oleh Ketua Umum Yayasan Persid Agus Rizki serta manajer tim U17 Sutikno. Saat ada pertemuan tertutup itu, pengurus Persid menunggu di ruang tamu pendapa. Sekitar satu setengah jam kemudian, barulah pertemuan dilanjutkan dengan melibatkan perwakilan Persid. 

Titik terang atas permasalahan Persid disampaikan Kajari Jember Ponco Hartanto usai pertemuan tertutup yang berlangsung hingga pukul 23.30 tersebut. Menurut Ponco, Persid baru bisa mendapatkan dana hibah yang sudah dianggarkan dalam APBD 2017, jika telah menyampaikan laporan pertanggungjawaban dari penggunaan dana APBD sebelumnya. 

Syarat ini mutlak harus dipenuhi, untuk menghindari risiko hukum yang bisa terjadi di kemudian hari. “Tidak ada yang perlu diperdebatkan. Kalau laporan pertanggungjawabannya ada, tidak ada istilahnya pemkab itu mau menghambat. La wong sekarang LPJ-nya enggak ada, mau gimana (dicairkan lagi di 2017),” tutur pria asal Solo ini. 

Ponco meminta, kasus korupsi yang kini membelit mantan pengurus teras Askab PSSI Jember sebelumnya harus dijadikan pelajaran bagi pengurus Persid sekarang, agar lebih berhati-hati dalam menggunakan anggaran negara. “Sudah saya sampaikan ke pengurus, kasus itu (Askab PSSI Jember, Red) ambil hikmahnya,” jelas Ponco. 

Sebagaimana diketahui, Kejari Jember kini telah menetapkan pengurus Askab PSSI Jember sebagai tersangka kasus korupsi dana Askab PSSI yang bersumber dari hibah APBD Jember. 

Selain laporan pertanggungjawaban, aspek hukum lain yang harus dipenuhi agar Persid dapat memperoleh dana hibah adalah legalitas pengurus yayasan. “Kita minta Persid untuk memperbaiki masalah yayasan terlebih dulu. Silakan konsultasi ke kami, karena semua pihak bertujuan memajukan Persid,” jelas Ponco. 

Hingga kini, dalam akta Yayasan Persid yang didaftarkan ke Kementerian Hukum dan HAM, masih tercatat atas nama ketua Yayasan Persid yang lama, yakni H Sunardi yang juga merupakan mantan anggota DPRD Jember dari PPP. 

“Akta atas nama Pak Sunardi itu dicatatkan ke Kemenkumham pada 2005 atau 2006, saya lupa persis. Peralihannya (kepengurusan, Red) ke Pak Agus Rizki belum didaftarkan. Cuma memang ada surat pengunduran diri dari Pak Nardi,” jelas Ponco. 

Ketidaksesuaian antara akta di Kemenkumham dengan kepengurusan Persid sekarang yang berada di bawah Ketua Umum Agus Rizki, bisa menimbulkan permasalahan hukum, jika dana hibah untuk Persid dipaksakan untuk dicairkan. Selain itu, Ponco juga menekankan, laporan pertanggungjawaban Persid harus sudah diaudit oleh inspektorat dari Pemkab Jember. 

“Setelah itu dilihat, apakah Persid bisa menerima hibah lagi atau tidak. Yang jelas, tahun lalu kan Persid tidak mendapatkan dana hibah. Kalau pengurus bisa mempertanggungjawabkan kegiatannya sesuai dengan realisasi, kemungkinan besar bisa diberikan dana hibah itu,” tutur mantan Asisten Perdata dan Tata Usaha Negara, Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan ini. 

Pernyataan senada disampaikan manajer Persid tim U17 (Junior), Sutikno. Karena itu, dia berharap, pihak Yayasan Persid bisa segera menyelesaikan permasalahan legalitas kepengurusan tersebut. “Tadi kami diberi penjelasan. Jadi ini harus diselesaikan dulu. Karena kalau turunnya ke Pak Agus (Agus Rizki, Red) maka di akta juga harus atas nama Pak Agus,” jelas Sutikno. 

Pihak Persid, tutur Sutikno yang didampingi Agus Rizki itu, bisa memahami kebijakan Pemkab Jember yang menginginkan pencairan dana untuk Persid harus sesuai dengan mekanisme hukum yang berlaku. “Memang sekarang harus sesuai penganggaran yang sudah ada, tidak bisa tidak. Kita menyadari, zaman sudah berubah, jadi harus sesuai bukti otentik,” tutur Sutikno. 

Terkait dana untuk lawatan Persid ke Situbondo melawan PSSS sore nanti, mediasi sudah mencapai kesepakatan. “Untuk kebutuhan dana pertandingan tanggal 19 besok (Rabu hari ini, Red) sudah dikaver bupati, dikurangi dari hasil aksi penggalangan dana yang dilakukan oleh Berni,” jelas Sutikno tanpa merinci jumlahnya. Bantuan dana juga akan diberikan bupati kepada Persid Junior yang berlaga di Piala Suratin, dengan ditambah dari aksi galang dana suporter. 

Namun, problem legalitas yayasan yang terkait dengan dualisme, tampaknya belum bisa dijawab secara tegas oleh Ketua Umum Yayasan Persid, Agus Rizki. Dia enggan menjawab secara tegas, terkait langkah apa yang akan dilakukan untuk membangun komunikasi dengan ketua umum Persid sebelumnya, H Sunardi. 

“Tidak enak saya menjawabnya. Saya hanya ingin menyampaikan, mumpung masih bulan Syawal, minal aidin wal faizin kepada Pak Nardi, semoga beliau sehat,” tutur pria asal Gebang ini sembari tersenyum. 

Agus mengklaim, Sunardi tidak pernah menghubungi dirinya. Namun dia siap menyelesaikan permasalahan legalitas kepengurusan yang menjadi salah satu penghambat pencairan dana hibah. Agus hanya menegaskan, bahwa dirinya tidak berambisi untuk menjadi ketua umum Persid. 

Saat awal Faida dilantik menjadi bupati, Agus mengklaim telah menghadap Faida untuk “menyerahkan” Persid. “Justru Bu Faida yang menyerahkan kembali Persid kepada saya. Karena kata beliau, belum tentu kalau ketuanya diganti, Persid akan lebih baik,” pungkas Agus. 

(jr/ad/har/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia