Rabu, 20 Sep 2017
radarjember
Features
Muhammad Muslim Juara Penyuluh Lapas Terbaik

Berkat Bina Warga Lapas Menjadi “Pondok Pesantren”

Minggu, 16 Jul 2017 17:59 | editor : HARI SETIAWAN

MEMBANGGAKAN : M. Muslim saat menerima penghargaan sebagai juara penyuluh lapas terbaik se-Jawa Timur.

MEMBANGGAKAN : M. Muslim saat menerima penghargaan sebagai juara penyuluh lapas terbaik se-Jawa Timur. (Muhammad Muslim for Radar Jember)

Selasa 11 Juli 2017, menjadi sejarah yang berharga bagi Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Jember. Khususnya bagi Ketua Pokjaluh Kabupaten Jember Muhammad Muslim SAg MSy. Karena pada hari itu, Ketua Alumni Pondok Pesantren Annuqoyah itu ditetapkan sebagai Juara 1 Lomba Penyuluh Teladan Jawa Timur yang digelar oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur. 

“Sebagai Kepala Kantor Kemenag Jember saya bangga dengan prestasi ini, karena Bapak Muslim bisa menjadi contoh kepada penyuluh yang lain di Jawa Timur. Dan saya berharap tidak hanya di sini, tapi nanti harus menjadi penyuluh teladan nasional,” ujar HM. Fachrur Rozi.

Muhammad Muslim memang merupakan sosok penyuluh Agama Islam yang memiliki segudang kegiatan. Tidak hanya sebagai penyuluh agama, mantan wartawan ini juga aktif di berbagai organisasi, seperti MUI, DMI, FKUB, NU, GP Ansor, dan berbagai organisasi lainnya yang mencapai 17 organisasi. Semua itu diakui merupakan berkah dari para gurunya agar menjalani apa yang dipesankan oleh KH. Abdul Warits Ilyas, guru yang dikagumi. ”Beliau bilang bahwa manusia itu hanyalah sebuah cerita bagi orang yang sesudahnya, maka jadilah cerita yang terbaik bagi orang yang mendengarkannya,” ujar Muslim saat ditemui Radar Jember.

Mubalig muda kelahiran Sumenep Madura ini menceritakan bahwa apa yang diraih sebagai juara penyuluh teladan Jawa Timur tidak lepas dari semangat dan keikhlasan memberikan bimbingan di berbagai lembaga, utamanya di Lapas Jember dan Masjid Muhammad Cheng Hoo. “Kemarin saya mengangkat dua makalah yang merupakan potret dari apa yang saya lakukan dalam memberikan penyuluhan di Jember,” paparnya.

Anak keempat dari lima bersaudara ini, terpilih menjadi juara setelah menyisihkan 38 penyuluh lain, dari 38 Kabupaten/Kota se-Jawa Timur. Yang menjadi kelompok andalannya adalah Lapas Kelas 2 A Jember dan Masjid Cheng Hoo.  “Saya punya banyak kelompok binaan. Tapi yang menyedot perhatian lebih ada dua, yakni Lapas dan Masjid Cheng Hoo. Maka dari keduanya saya menulis makalah atau karya ilmiah,” tegasnya.

Dua judul makalah yang diangkat dalam lomba penyuluh teladan Jawa Timur adalah Model Penyuluhan di Lapas Berbasis Kultur Pendidikan Pesantren dan Pembinaan Keagamaan dan Ekonomi Muallaf di Masjid Cheng Hoo dalam Bingkai Fiqh Progresif. Dua makalah ini dipertahankan Muslim di depan dua guru besar dari UINSA dan UNSURI, serta seorang doktor dari Kanwil Kemenag Jember. “Alhamdulillah saya bisa melewati tiga tahap ujian dengan baik. Tahap pertama uji berkas dan presentasi makalah. Tahap kedua verifikasi faktual ke lokasi kelompok binaan. Dan tahap ketiga presentasi makalah lagi di depan para profesor,” imbuh ayah tiga putri ini. 

Dalam satu tahun terakhir Muslim dan teman-teman penyuluh Agama Kabupaten Jember telah memoles Lapas Jember menjadi pondok pesantren. Tidak heran bila para pengunjung  masuk ke Lapas Jember terdapat tulisan “Selamat Datang di Pondok Pesantren Darut Taubah Lapas Kelas 2 A Jember”. Itu bagian dari gagasan dari Muslim dalam rangka memberikan pembinaan mental bagi para penghuni lapas. “Alhamdulillah saat ini banyak narapidana yang sudah hafal Alquran, yang sebelumnya tidak bisa baca tulis Alquran sekarang sudah bisa. Di dalam lapas juga ada kajian hadits, tafsir,  fiqih dan kegiatan lain seperti ceramah agama, istighotsah, dan lainnya,” jelasnya. .

Dari kegiatan di lapas inilah maka dalam babak penyisihan Muslim mengangkat judul makalah tentang pembinaan di lapas dan mampu menyisihkan penyuluh teladan lainnya dari berbagai Kabupaten/Kota se-Jatim. Hingga akhir bertarung lagi pada babak final yang diikuti oleh enam finalis penyuluh teladan. Mereka adalah penyuluh dari Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Jombang, Ponorogo, dan Jember. “Alhamdulillah nilai saya tertinggi,” tuturnya. 

Ketua Pokjaluh (Kelompok Kerja Penyuluh) Jember ini menang dengan mengumpulkan nilai sebanyak 3.372, disusul penyuluh dari Sidoarjo dengan nilai 3332, dan penyuluh Sidoarjo degan nilai 3.172. Untuk harapan 1 dari Ponorogo, harapan 2 Jombang dan harapan 3 dari Kabupaten Malang. “Nilai-nilai itu merupakan kumpulan dari nilai tim juri dari tahap pertama uji berkas, verifikasi faktual dan uji karya ilmiah,” jelasnya lagi.

Dia melakukan itu semua bukan untuk menjadi teladan. Karena tugas penyuluh itu harus berbuat baik, bukan berebut menjadi yang terbaik. “Tapi, saya bangga bisa menjadi yang terbaik,” tandasnya lagi.

Dengan diraihnya juara satu penyuluh teladan Jawa Timur,  maka Muslim akan mewakili Kanwil Kemenag Jatim untuk lomba penyuluh teladan nasional yang akan dilaksanakan Agustus 2017. “Kami mohon doanya semoga bisa mempertahankan makalah ini, dan terpilih menjadi penyuluh teladan nasional,” harapnya. 

Untuk lomba penyuluh teladan tingkat nasional, Muslim akan mempersembahkan makalah berjudul Pembinaan Keagamaan dan Ekonomi Muallaf di Masjid Muhammad Cheng Hoo dalam Bingkai Fiqh Progresif. “Ini merupakan makalah fenomenal, karena apa yang saya lakukan di Masjid Cheng Hoo bisa menjadi pemikiran bagi masyarakat Indonesia. Khususnya dalam membangun paradigma Islam Nusantara dan Fiqh Progresif,” tandas ketua LTN NU PCNU Jember ini.

Muslim yang juga Wakil Ketua GP Ansor Jember juga menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah berpartisipasi aktif memberikan masukan dan gagasan untuk melakukan pembinaan keagamaan di Jember. “Saya sampaikan terima kasih kepada Wakil Bupati Jember, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Jember, Kalapas Jember, Ketua MUI Jember, Rektor IAIN Jember, Ketua PCNU Jember dan khususnya teman-teman Penyuluh Agama Islam Kabupaten Jember, mereka semua berjasa untuk kesuksesan in,” tandasnya. 

Sejak menjadi mahasiswa IAIN Surabaya, anak buruh tani tak menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar apa saja, baik menyangkut akademis maupun ekstrakurikuler. Selain menjadi aktivis PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), Muslim juga aktif di Senat, BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), sekaligus menjadi aktivis pers kampus. 

Di dunia jurnalistik, suami Ririn Atifatul Umam ini, pernah menjadi pimpinan Radar Madura (Jawa Pos Group),  Harian Bangsa, Surabaya Pos, Radio Kiss FM, dan kini menangani berbagai media internal Kemenag Jember. Sedangkan hobi organisasinya, Muslim kini terlibat di 16 pengurus organisasi, lima di antaranya menjadi ketua. Antara lain, ketua LTNU Cabang Jember, Ikatan Alumni Annugoyah se Besuki (beranggotakan 6.000 orang lebih), Pokja Penyuluh Agama Kemenag Jember, Kabid Keagamaan IKA PMII, dan ketua Litbang Penyuluh Agama Jatim. 

Dalam menyampaikan ceramahnya, dia mampu membawa dan menyampaikan pesan-pesan tausiahnya dengan santun dan sejuk. Bahkan, untuk aktivitasnya di Masjid Cheng Ho, dia dijuluki sebagai “Koko Lim”, karena mampu membuat warga PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) Jember, menjadi tertarik mempelajari Islam. 

Bagaimana cara membagi waktu untuk keluarga? Muslim mengakui tidak mudah. Yang jelas, untuk membaca Alquran anak-anaknya, dia selalu menyempatkan di rumah. Dia mengaku sering diprotes anak-anaknya, lantaran kerap keluar rumah. Istrinya, Ririn, juga sebagai karyawati  Kantor Kemenag Jember. “Bagaimana lagi. Ini tugas dakwah, hobi, meski harus tetap memperhatikan keluarga,” jelasnya.

(jr/sh/har/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia