Senin, 25 Sep 2017
radarjember
Kesehatan
Penyakit Langka

Ini Kata Dokter soal Benda Tajam di Perut...

Minggu, 09 Jul 2017 22:26 | editor : HARI SETIAWAN

dr. Yuli Hermansyah SpPD, Finasim

dr. Yuli Hermansyah SpPD, Finasim (Rangga Mahardika/Radar Jember)

JEMBER – Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Jember yang juga Spesialis Penyakit Dalam dr. Yuli Hermansyah SpPD, Finasim mengatakan, jika melihat keberadaan benda tajam di tujuh Hendro Wijatmiko, maka akan bisa melukai organ dalamnya. Sehingga langkah yang dilakukan adalah operasi untuk mengeluarkan benda tajam di tubuhnya.

dr Yuli Hermansyah yang juga dokter di RSD dr Soebandi Jember memang mendengar kabar terkait dengan pasien Hendro ini, namun belum mengetahui secara detail kondisi pasien. Dirinya hanya melihat dari gambar rontgen dari rumah sakit Situbondo yang beredar di sejumlah media. Pihaknya pun memberikan pendapat akademis dengan sekilas hasil foto tersebut.

“Kalau melihat sekilas dari foto rontgen, itu sudah masuk usus. Kemungkinan di usus 12 jari atau usus besar,” jelas dr Yuli. Dengan kondisi itu, memang kemungkinan besar benda-benda seperti paku, paku payung dan bentuk pisau ini masuk melalui oral alias mulut.

Sehingga ini menegaskan jika untuk kasus yang terjadi pada Hendro tidak ada unsur aneh-aneh alias klenik. Kemungkinan besar memang disengaja oleh pasien. Apalagi, jika melihat background-nya pernah mengalami gangguan jiwa. “Jadi bohong kalau memasukkan tidak lewat mulut. Ini dilakukan dengan sengaja (entah sadar atau tidak),” terangnya.

Berbagai benda itu masuk ke dalam tubuh melalui oral sehingga melewati jalan yang biasa digunakan untuk saluran pencernaan. Yakni melalui kerongkongan dan melewati lambung. “Karena ada gaya gravitasi, makanya masuk ke usus kemudian menumpuk di usus dan terjadi ileus obstruksi (penyumbatan usus, red),” jelasnya.

Sehingga semua benda termasuk benda keras lainnya yang masuk kemudian akan berkumpul di usus tersebut. Hal inilah yang dapat mengakibatkan gangguan pencernaan di tubuh milik pasien tersebut. Jika dibiarkan, tentu akan semakin parah penumpukan yang terjadi di usus tersebut dan bisa membahayakan pasien.

Belum lagi, yang harus dipahami bahwa organ dalam ini terjadi gerakan otomatis yang dilakukan organ dalam untuk menyerap bahan makanan yang masuk ke tubuh dengan gerakan peristaltik yakni gerakan relaksasi dan kontraksi di usus. Gerakan yang berulang dengan kondisi perut terdapat benda tajam pun sangat besar kemungkinan menyebabkan luka di usus yang terjadi di organ dalam.

“Ini bisa menyebabkan perforasi (lubang pada dinding usus),” terangnya. Jika demikian, maka makanan yang masuk bukan terserap di tubuh, melainkan masuk ke abdomen perut pasien. Tentu saja ini juga membahayakan bagi tubuh pasien yang menderitanya. Oleh karena itu, dirinya mengatakan memang harus dilakukan penanganan segera terhadap pasien.

Untuk penanganan kemungkinan besar harus dilakukan operasi. Di RSD dr Soebandi Jember sebenarnya bisa dimungkinkan mengambil benda asing tanpa melalui operasi yakni dengan alat endoskopi. Dimana jika benda posisi di usus 12 jari bisa dilakukan memasukkan endoskopi via oral alias mulut, jika di usus besar maka lewat anal alias anus.

 Cuma yang bisa diambil oleh alat endoskopi tidak terlalu besar dan tidak sebanyak yang terjadi pada Hendro. “Tapi kalau yang ini harus dengan operasi,” terangnya. Pasalnya, yang terjadi bisa dibilang sudah akut darurat dan memang perlu ada penanganan segera yakni dilakukan operasi untuk mengeluarkan benda asing yang ada di dalam tubuh Hendro.

Terkait dengan pelaksanaan operasi, tentu pria yang juga bekerja di RSD dr. Soebandi ini menuturkan jika untuk langkah yang dilakukan rumah sakit tentunya menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan. Karena untuk melakukan operasi diakuinya harus memperhatikan dan meminimalisir resiko yang terjadi. Dirinya yakin jika untuk langkah lebih lanjut bisa dilaksanakan oleh tim dokter di rumah sakit.

(jr/ram/har/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia