Jumat, 19 Jan 2018
radarjember
Jember
Perempuan Hebat

Hj Retno Winiati Kahar: Disiplin adalah Panglima Kesuksesan

Jumat, 21 Apr 2017 12:10

Hj Retno Winiati Kahar: Disiplin adalah Panglima Kesuksesan

DISIPLIN TINGGI: Hj Retno Winiati Kahar saat berada di rumahnya, di daerah Sempusari Jember. (Heru Putranto/Radar Jember)

Jember – Disiplin dan tegas. Inilah karakter Retno Winiati sejak kecil. Sosok perempuan yang selalu berdiri di belakang kesuksesan Abdul Kahar Muzakir (tokoh tembakau Jember) ini menjadikan disiplin sebagai panglima. Tak heran, sikap tersebut menurun pada anak-anaknya.

Perjalanannya meraih kesuksesan tidak mudah. Namun ada perjuangan panjang yang harus dilalui bersama suaminya. “Saya sempat buka salon di Jember dua tahun. Juga jual kerupuk selama 28 tahun dengan pelanggan 350 di Besuki (kecuali Probolinggo, Banyuwangi dan Lumajang). Lalu jual  beras di Sulawesi selama 5,5 tahun,” katanya pada Jawa Pos Radar Jember.

Retno yang lahir di Banyuwangi pada 23 Juni 1939 lalu itu memiliki 13 saudara, namun meninggal tiga. Perempuan berumur 78 tahun tersebut besar di lingkungan yang disiplin, kerja keras dan memiliki sikap toleransi yang kuat.

Ayahnya (Alex Ibrahim) memiliki toko obat. Saat kecil dia sudah terbiasa membantu orang tuanya berdagang. Tak heran, kemampuannya berdagang sudah terasah betul. Semua itu dipelajari secara mengalir dan serius.

Menurut dia, setiap pekerjaan harus dilakukan dengna serius agar membuahkan hasil yang maksimal. Dia mencontohkan, suatu hari ayahnya pernah menyuruh dirinya membeli pisang di pasar. Namun ketika sudah mendapatkan buah pisang, sang ayah menegur. “Kenapa kamu beli pisang yang kurang bagus. Apa tidak ada pisang lain yang lebih baik,” ucap Retno menirukan perkataan ayahnya.

Akhirnya, dia harus balik lagi ke pasar untuk membeli pisang yang lebih baik. Cerita itu membuat Retno belajar bahwa mengerjakan sesuatu harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan profesional.

Kepada adik-adiknya, Retno juga bersikap sangat dispilin. Dia mencontohkan, jika ada adik yang tanpa sepengetahun memakai sandalnya, dia langsung merobek sandal tersebut. Hal itu untuk menunjukan sikap ketegasan dan saling menghormati pada yang lebih tua.

Pendidikan orang tuanya membuat Retno menjadi perempuan yang berkarakter. Di sekolah dasar dan SMP menjadi lulusan terbaik. Kemudian melanjutkan studinya di SMA Jember. Di Jember dia bertemu dengan suaminya tercintanya, Abdul Kahar Muzakir dan menikah.

Saat itu, Retno merupakan perempuan non  muslim. Sedangkan calon suaminya adalah seorang muslim. Retno bisa menikah Kahar jika mendapat restu dari orang tuanya dan mendapat perlakuan yang sama meskipun beda agama. “Ayah dan ibu memiliki rasa toleransi yang tinggi, sebab hanya dirinya yang muslim, sedang saudara yang lain non muslim,” jelasnya.

Ketika memulai kehidupan baru dengan Kahar, Retno tetap dengan karakternya dan selalu menjadi penyemangat sang suami. “Pak Kahar orangnya suka bekerja, berangkat pagi pulang malam. Jadi ketemunya pas malam,” terang ibu dari empat anak tersebut.

Saat memiliki anak, sikap disiplin, tegas dan menjalankan perintah agama selalu menjadi yang utama. Ketika waktu belajar, maka harus dilaksanakan. “Saya tidak memanjakan anak-anak,” ujarnya. Alhasil, ke empat anaknya menjadi orang yang sukses. (kl/gus/hdi/har/jawapos.com)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia