Jumat, 19 Jan 2018
radarjember
Inspirasi
Kreativitas Empat Santri Ciptakan Mobil Golf Bertenaga Listrik

Ide Awal Untuk Pak Kiai, Diproses Cuma Tiga Bulan

Rabu, 19 Apr 2017 12:50

Ide Awal Untuk Pak Kiai, Diproses Cuma Tiga Bulan

SANTRI KREATIF: Mobil golf bertenaga listrik yang dibuat oleh santri dari Nuris Antirogo - Jember, mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. (Nuris for Radar Jember)

Mobil golf bertenaga listrik yang dibuat empat santri Nuris sudah dipakai dalam berbagai kegiatan. Terutama ketika mengontrol kegiatan pesantren serta keperluan lainnya. Kiai tak perlu berjalan kaki, sebab sudah disediakan mobil ramah lingkungan oleh santrinya.

Empat santri yang membuat mobil tersebut adalah Tafif Kamil, Fathurrohman, M Afifurrohman dan Salman Hidayatullah. Mereka merupakan siswa dari jurusan Teknik Kendaraan Ringan. “Awalnya dari pembuatan mobil gokart,” kata Salman Hidayatullah pada Jawa Pos Radar Jember.

Kemudian, ada ide dari sekolah untuk membuat kendaraan yang bebas polusi. Selain itu, juga ingin membuat kendaraan yang bisa dipakai oleh kiai agar ringan dalam menjalankan tugasnya, seperti melihat kegiatan di pondok. Sebab, wilayah pondok cukup luas.

Akhirnya sekolah membuat proposal untuk diajukan ke yayasan. Setelah itu, mereka presentasi dan membuat desainnya mobil tersebut. Semua setuju dengan konsep mobil golf bertenaga listrik tersebut. “Akhinya kami memilih empat siswa yang dinilai kompeten,” tambah A Firlani Ramadhan, pembina ekskul Teknik Otomotif.

Keempat siswa dari kelas X, XI dan XII, mereka merupakan ahli dalam berbagai bidang, seperti Fathurrohman yang jago dalam menyusun konsep, Tafif Kamil lihai dalam mewujudkan ide tersebut. Bahkan dua siswa lainnya juga lihai di bidang perakitan. “Kami beli alat dan bahannya dari Jogjakarta,” akunya.

Kemudian, para siswa itu dikumpulkan dan diberi arahan jika akan membuat mobil golf bertenaga listirk. Semua perlengkapan sudah lengkap, lalu dipotong sesuai dengan ukurannya. “Kami membuat kerangka mobilnya sekitar dua bulan,” imbuh M Afifurrohman.

Kerangkan sudah jadi, mereka meneruskan prosesnya, yakni memberikan roda, setir dan lainnya. Namun, proses itu tidak mudah, sebab setelah dicoba ada yang tidak sesuai, sehingga perlu diubah lagi.

Begitu juga ketika mesin sudah diletakkan, menyambung alat-alat kelistrikan, dan lainnya. Lalu dicoba, namun hasilmya belum maksimal. “Pertama kali dicoba, jalannya lambat sekali,” katanya. Sehingga harus dibongkar lagi agar bisa lebih baik.

Usai diperbaiki, dicoba lagi. Namun, mobil masih belum sempurna, ada gangguan karena ketika dijalankan mobil tersebut berbunyi. Sehingga dibongkar lagi sampai kemudian bisa berjalan maksimal. “Kami bongkar pasang sekitar enam kali sampai maksimal,” tuturnya.

Proses pembuatan mobil tersebut karena semangat ingin menciptakan karya. Meskipun empat pelajar itu berasal dari desa, yakni Ledokombo, Sumberjambe dan Baratan, mereka bisa menunjukkan tak kalah saing dengan sekolah lainnya. “Dengan karya ini kami bangga dan semakin semangat,” ujarnya.

Kepala SMK Nuris Drs Haryono menambahkan meskipun berstatus sebagai santri, mereka bukan berarti tertinggal di bidang teknologi. Sebab, pesantren dan sekolah memberikan wadah bagi mereka agar mengembangkan bakatnya. “Ada kegiatan ekstrakurikuler yang mereka ikuti,” tuturnya.

Bahkan, karya para siswa SMK Nuris bukan hanya mobil golf, tapi juga membuat gokart. Karya itu menjadi penyemangat bagi santri agar bisa bersaing dalam ilmu teknologi. Sehingga memiliki daya saing ketika sudah keluar.

Robith Qosidi, pengasuh Ponpes Nuris menjelaskan, pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama. Tapi juga tempat riset dan memunculkan penemuan-penemuan baru. Baik di bidang kesehatan, kedokteran, teknologi dan lainnya. “Karena dulu banyak ilmuwan Islam yang menemukan karya besar, tapi sekarang mulai jarang,” terangnya.

Untuk itulah, Pesantren Nuris ingin membangkitkan lagi semangat para pelajar agar mengembangkan ilmu pengetahuan. Terbukti, banyak penemuan yang sudah dihasilkan dari pesantren tersebut. “Karena kalau riset harus dilakukan ketika menjadi mahasiswa, itu terlalu jauh, kami memulainya sejak dini,” pungkasnya. (bagus supriadi/hdi/har/jawapos.com)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia