Jumat, 19 Jan 2018
radarjember
Inspirasi
Cara Perpani Memasyarakatkan Olahraga Panahan

Alat Jutaan, Pilih Gunakan Busur dari Paralon

Senin, 17 Apr 2017 14:40

Alat Jutaan, Pilih Gunakan Busur dari Paralon

MASIH MAHAL: Beberapa atlet usia dini dari cabor panahan saat di POR SD/MI, belum lama ini. Alat panahan yang asli berharga jutaan rupiah. (Heru Putranto/Radar Jember)

Olahraga panahan sejatinya memiliki akar sejarah yang panjang. Berbagai penelitian sejarah menunjukkan, kegiatan memanah sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu sebagai cara bela diri sekaligus bertempur di medan perang. Di era modern, panahan kini menjadi jenis olahraga yang dipertandingkan di berbagai kejuaraan olahraga resmi.

Kini olahraga panahan banyak digeluti masyarakat. Sayangnya, dibandingkan jenis olahraga lainnya, panahan masih termasuk jenis cabang olahraga “eksklusif” atau belum terlalu memasyarakat. Hal itu tidak lepas dari mahalnya harga peralatan memanah.

          “Satu set alat panah, yakni 1 busur dengan 6 anak panah, kalau yang standar harganya minimal Rp 3 juta. Sedangkan papan sasarannya paling murah sekitar Rp 500 ribu,” tutur Ketua Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Jember Kusuma Irianto.

          Untuk mensiasati mahalnya harga peralatan, saat ini Perpani mulai mengembangkan busur panah berbahan pipa paralon. Dengan menggunakan busur yang berbahan paralon, biaya yang dibutuhkan bisa ditekan hingga di kisaran puluhan ribu rupiah. “Buatnya mudah kok. Saya saja bisa dan semua orang juga bisa,” tutur pria yang juga masih aktif melatih olahraga panahan di berbagai sekolah ini.

          Inovasi menggunakan paralon sebagai bahan membuat busur panah pertama kali dicetuskan oleh Ketua Perpani Jawa Timur Denny Trisyanto, yang juga pelatih dan mantan atlit panahan nasional. Inovasi Denny itu kemudian disosialisasikan kepada seluruh jajaran Perpani di Jawa Timur. “Beliau mulai mensosialisasikannya pada Desember lalu saat peresmian kepengurusan Perpani di Lumajang. Saat itu dihadiri oleh seluruh pengurus Perpani kabupaten/kota di Jatim, termasuk saya,” tutur Kusuma.

          Berdasarkan standar yang ditetapkan oleh Perpani Jatim, paralon yang digunakan untuk standar busur panah adalah yang memiliki panjang 175 cm dengan ukuran ¾ dim. Masing-masing ujung pipa paralon ditutup dengan shok drat dengan ukuran yang sama. Adapun tali plastik yang digunakan untuk menarik anak panah memiliki diameter 2 mm dengan panjang 200 cm. “Bahkan sekarang Perpani mulai menggulirkan kompetisi panahan dengan bahan dari pipa paralon,” ujar pria yang juga bekerja sebagai PNS di Kelurahan Karangrejo, Sumbersari ini.

          Selain busur panah yang dimodifikasi dari pipa paralon, Perpani Jatim juga menggulirkan inovasi untuk menggantikan anak panah yang jika mengacu pada standar harganya masih tergolong mahal. “Anak panahnya bisa menggunakan bahan aluminium yang biasa kita dapatkan di toko-toko kelambu (gordyn, Red),” lanjut pria yang sebelumnya pernah aktif melatih panahan di beberapa institusi militer di Jember itu.

          Kusuma mengakui, penggunaan busur panah dari pipa paralon dan anak panah dari alumunium kualitasnya berbeda dengan penggunaan alat yang sesuai standar. “Ini hanya bisa digunakan secara efektif pada jarak kurang dari 7 meter. Kalau lebih jauh dari itu, perlu ada modifikasi lebih lanjut,” tutur pria kelahiran Situbondo 25 Februari 1962 ini.

          Tujuan dari inovasi ini, menurut Kusuma adalah untuk memasyarakatkan olahraga panahan terutama di kalangan pelajar. Sebab pengurus Perpani khawatir, jika sosialisasi tetap harus menggunakan alat yang sesuai standar, akan mengurangi antusiasme dari para wali murid. “Yang penting anak-anak bisa cinta terlebih dulu terhadap organisasi panahan. Nanti kalau anak-anak sudah mulai berprestasi, diharapkan orang tuanya bisa menambah antusiasme lagi,” ujar Kusuma.

          Pembinaan atlet usia dini memang menjadi salah satu fokus dari Perpani untuk memasyarakatkan olahraga panahan ini. “Kita sekarang fokus di pembinaan anak usia dini seperti SD karena mereka harus dapat dasar-dasar yang benar sejak kecil,” tutur pria yang mulai memimpin Perpani sejak akhir 2016 ini.

          Saat ini, Perpani Jatim mulai bergeliat setelah sekian tahun vakum. Kepengurusan Perpani di Jember mulai terbentuk sejak akhir 2016 dan mulai aktif mengadakan pembinaan atlet usia dini ke berbagai sekolah. Adapun sekolah yang sudah memiliki ekstrakulikuler panahan antara lain adalah SMAN 1 Mumbulsari.

Sebelumnya, kepengurusan Perpani Jember vakum sejak sang ketua Imam Kahfie yang berlatar belakang purnawirawan TNI meninggal dunia pada tahun 2007. “Jadi saya adalah ketua periode kedua sejak Perpani berdiri di Jember pada sekitar tahun 1960-an. Kebetulan ketua sebelumnya masih paman saya,” kata Kusuma.

          Olahraga panahan di Jember, lanjut Kusuma, memang bergairah setelah masuk dalam Pekan Olahraga Daerah (PORDA) dan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) sekitar tiga tahun yang lalu. “Selain itu sekarang klub olahraga panahan yang sebelumnya vakum, juga mulai kembali aktif,” aku Kusuma.

          Sejak awal tahun ini, kepengurusan Perpani Jember masih fokus pada perhelatan POR SD/MI 2017 yang selesai beberapa hari yang lalu. Usai POR SD/ MI, pengurus Perpani Jember akan mulai mensosialisasikan olahraga panahan dengan menggunakan pipa paralon dan anak panah alumunium ini. Beberapa sekolah sudah mulai masuk daftar sasaran sosialisasi dari Perpani Jember. “Kita bagi berdasarkan wilayah. Kita juga akan gandeng pengurus KONI Jember untuk sosialisasi ini,” kata alumnus Fakultas Hukum Universitas Islam Jember ini.

          Selain roadshow ke sekolah-sekolah, Perpani juga akan menggunakan media sosial untuk memasyarakatkan olahraga panahan ke kalangan pelajar. “Yang penting panahan ini bisa disukai terlebih dulu. Selanjutnya, kita ingin bentuk mental mereka dalam berlatih panahan,” tutur Kusuma.

          Kusuma berharap, dengan serangkaian sosialisasi dan inovasi dari olahraga panahan, bisa merangsang munculnya bibit atlet panahan yang akan mengharumkan Jember dalam dunia olahraga. “Masyarakat yang tertarik, bisa juga mendatangi sekretariat kami. Sementara ini menumpang di rumah salah satu pengurus yang ada di Jalan Sawo 3 Patrang. Karena sekretariat sementara kita yang di Slawu itu masih dalam rehab pembenahan,” tutur pria yang tinggal di Jalan Nusa Indah, Kreongan ini.

          Selain kepengurusan dan mahalnya peralatan, tantangan lain yang dihadapi Perpani Jember untuk memasyarakatkan olahraga panahan adalah tidak adanya lapangan panahan khusus yang sesuai standar. “Sekarang ini banyak latihan dilakukan di lapangan sekolah, yang sebenarnya jaraknya kurang dari standar. Kami sangat berharap ada lapangan khusus yang ada di bawah binaan Perpani,” harap Kusuma. (adi faizin/har/jawapos.com)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia