Jumat, 19 Jan 2018
radarjember
Inspirasi
Features

Supeltas, Kelompok Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas di Gumitir

Jumat, 14 Apr 2017 13:20

Supeltas, Kelompok Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas di Gumitir

RECEH SEIKHLASNYA: Supeltas tidak sekadar meminta-minta di jalan, namun ikut mengatur lalu lintas Gumitir yang selalu rawan kemacetan. (Jumai/Radar Jember)

            Sekelompok orang tampak membawa timba plastik bekas bangunan. Mereka berbaris di pinggir jalan Gunung Gumitir. Sambil berharap diberi receh oleh pengguna jalan. Bukan polisi awe-awe yang sudah melegenda di jalan itu. Karena mereka selalu ada ketika jalan mulai macet.

            Mereka menamakan kelompoknya Supeltas. Bukan sekadar akronim Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas. Namun, namanya juga mengadopsi kata Supel yang berarti pandai bergaul atau lebih tepatnya, mereka mengartikan ramah.

Benar saja, meski selalu berharap diberi uang pengguna jalan, namun mereka tetap ramah semisal tak ada yang memberinya.

            Seperti namanya, Supeltas tidak sekadar meminta-minta di jalan. Mereka lebih fokus membantu arus lalu lintas di Gunung Gumitir, yang selalu rawan kemacetan. Terlebih, ketika ada kecelakaan di jalanan. Belum lagi, ancaman tanah longsor dan proses pembangunan plengsengan.

            Saat tanda-tanda kemacetan mulai dirasa, para anggota Supeltas datang ikut mengatur lalu lintas. Meski mayoritas tidak berpendidikan formil, namun soal mengatur dengan sistem buka tutup jalan mereka jagonya. Maklum saja, meski tanpa memiliki seragam dan legalitas lainnya, rupanya mereka binaan Polsek Silo.

            Soal tata krama di jalanan, Supeltas, sudah tuntas menjaga komitmennya tersebut. Bahkan sekali mereka berkolaborasi dengan petugas kepolisian. Berbagai peran untuk menjaga jalan. Tujuannya, supaya di arus keluar masuk Jember - Banyuwangi tetap terjaga dan terhindar dari kemacetan.

            Salah satu pentolan Supeltas, bernama Arif. Pria berumur 50 tahunan itu mengaku sudah sejak 1989 sudah aktif mengatur arus buka tutup saat ada masalah di jalan Gunung Gumitir. Saat itu, kelompoknya, belum ada nama. Namun soal soliditas warga yang disebutnya sukarelawan, sudah masif sejak lama. “Tapi kami tidak mengandalkan kegiatan ini,” akunya.

            Maklum saja, meski mereka tak memiliki pekerjaan tetap, namun hasil dari berkebun dan mencari kayu bakar di hutan, dinilainya cukup memenuhi kebutuhan keluarganya. Selain itu, berjaga mengatur jalan yang macet di Gunung Gumitir, diakuinya hasilnya pun tidak menentu. “Kasihan saja melihat jalan macet,” katanya dengan nada polos.

            Betapa tidak, mencari uang seratus ribu dari menjaga arus lalu lintas yang bermasalah di sana, mereka mengaku kesulitan. Padahal, anggota yang ikut menjaga buka tutup jalan ada sampai 15 orang. “Semisal dapat Rp 150 ribu. Dibagi 15 orang. Jadinya cuma dapat Rp 10 ribuan,” tuturnya.

            Namun kebanggaan bisa menolong orang, diakuinya tidak bisa ditukar dengan uang. Semakin merasa bangga, ada orang yang memberi sesuatu dengan setulus hati. Mereka menilainya sebuah apresiasi dari yang mereka lakukan. Meski, pengendara hanya memberi sebatang rokok atau sebungkus permen seratus rupiahan.

            Meski tak tertulis, namun mereka memiliki aturan yang melarang melibatkan anak-anak bergabung di Supeltas. Bukan persoalan tak mau disaingi. Namun, lebih mempertimbangkan keselamatan anak-anak di jalanan. Terlebih, arus lalu lintas di sana dinilainya sangat berbahaya.

            Para anggota Supeltas, memang tidak semuanya memiliki alat komunikasi seluler. Meski demikian, mereka kompak datang ke lokasi kejadian penyebab kemacetan. Rupanya, mereka ada tim kecil yang selalu mengkontrol kondisi jalan di area tanggung jawabnya.

            “Ya. Kami juga ada petugas piketnya. Tugasnya, memastikan jalan yang macet,” ujarnya. Semisal diketahui ada yang macet, satu diantara mereka saling memberi kabar pada kawan-kawannya. Pun demikian kepada pihak kepolisian. Sebab mereka, bermitra dengan polisi.

            Soal kasus pungutan liar yang disebut Pungli, mereka tegas menyatakan kegiatannya tidak termasuk yang itu. Sebab selain mereka bukan institusi pemerintahan, kembali menegaskan bahwa tak ada unsur pemaksaan meminta uang. “Kalau diberi kami terima, jika tidak kami tak mau memaksa,” katanya. (rully efendi/jumai/hdi/har/jawapos.com)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia