Jumat, 19 Jan 2018
radarjember
Semeru
Tanggul Jebol, Dua Desa Terendam

Tanggul Jebol, Dua Desa Terendam

Jika Hujan Lagi, Banjir Bisa Makin Besar

Selasa, 04 Apr 2017 11:30

Tanggul Jebol, Dua Desa Terendam

TERJANG BANJIR: Banjir yang terjadi pada dini hari itu hingga siang kemarin belum menunjukan tanda-tada surut. Sehingga siswa dan siswi yang bertempat tinggal di lokasi banjir terpaksa harus menerjang banjir untuk sampai di rumah masing-masing. (Qomaruddin Hamdi)

ROWOKANGKUNG – Hujan deras di kawasan utara Lumajang membuat debit air sungai Bondoyudo meningkat. Akibatnya, sungai terusan yang bermuara ke Laut Selatan ini tak mampu menampung. Tanggul di kawasan Rowokangkung jebol, arus sungai berpindah haluan dan merambah ke perkampungan.

Daerah di perbatasan Lumajang – Jember pun terendam. Desa Sumberagung yang menjadi perbatasan  dengan Jember lebih dulu terkena luapan.

Jebolnya tanggul kawasan Lumajang terjadi tepat di lokasi perkebunan PG Djatirooto tepatnya vak 12. Masuk kawasan Dusun Genitri Kidul Desa/Kecamatan Rowokangkung. Sejak hujan deras mengguyur sekitar pukul 15.00, debit air di sungai terus meninggi.

Kepala Dusun setempat, M Halik mengakui jika air sudah melebihi batas kewajaran sekitar pukul 18.00. “Melihat air naik, saya langsung ke lokasi tanggul yang rawan,” katanya Minggu (2/4) petang. Awalnya dia melihat air tidak begitu tinggi. Ketinggian air sungai di lokasi tanggul di vak 12 juga masih di level aman.

Tetapi, sekitar pukul 20.00 ketika dia datang lagi ke lokasi dengan seorang warga untuk mengecek, kondisinya berubah. “Air sudah melewati tanggul dan ada yang jebol. Jam sembilan malam air sudah keluar lewat jebolan itu,” katanya.

Melihat kondisi tersebut, dia segera menyampaikan pada warganya agar melakukan evakuasi. Dia meminta warga mengungsikan hewan ternak. “Dibawa ke lapangan. Karena lebih tinggi. Warga juga dibawa ke masjid biar tidak kena banjir,” ungkapnya. Sebab, seperti biasa, jika tanggul jebol dalam hitungan sekitar 3 sampai 4 jam air sudah masuk dan menggenang ke perkampungan.

Benar saja. Senin dini hari sekitar pukul 01.00 air sudah meluber ke perkampungan. Beruntungnya ada tanggul buatan yang mengelilingi perkampungannya. Sehingga tidak seperti dua tahun lalu yang sampai masuk ke rumah warga. “Hanya 50 rumah yang tergenang. Itupun sudah surut siang harinya,” katanya.

Memang tim dari BPBD Lumajang datang ke dusunnya. Mereka tiba sekitar pukul 22.00. Mereka datang untuk memberikan penanganan pada banjir itu. “Mereka datang. Tapi tidak ke lokasi tanggul yang jebol. Karena rawan terseret banjir juga,” katanya.

Lain ceritanya dengan kawasan Dusun Wungurejo Desa Sidorejo. Air diperkirakan datang sekitar pukul 02.00. Sedangkan tanda terjadinya banjir sudah diketahui warga sebelum air mulai naik dan mengenangi rumah mereka.

Ahmad Khoiri, salah satu warga yang rumahnya terendam banjir mengatakan, kondisi itu sudah kerap kali terjadi di lingkungannya. Sehingga meski banjir kali ini tergolong besar, dia dan beberapa masyarakat lain tidak khawatir.

Dia menuturkan kondisi air meluap ke permukiman warga itu sudah dia prediksikan sehari sebelumnya. “Kami sudah tahu kalau nanti air akan naik, makanya pada malam Senin semua perabotan dan barang berharga kami ungsikan,” katanya.

Sehingga saat air mulai masuk ke permukiman, hanya barang-barang yang tahan terhadap air saja yang ada di rumahnya. Sedangkan seperti barang elektronik dan hewan pelihraan warga sudah diamankan ke lokasi yang lebih tinggi.

Bahkan untuk kebutuhan air bersih pada saat air menggenangi rumahnya sudah dia siapkan dalam waktu satu malam. “Tandon sudah saya isi penuh, warga yang lain juga begitu,” tuturnya.

Dia menuturkan tidak begitu khawatir dengan kondisi air yang mengenangi rumahnya. Hanya saja, banyak sampah seperti kayu dan dedaunan yang ikut terbawa arus banjir.

Jika tidak diantisipasi, sampah-sampah itu akan masuk ke rumah warga. Sehingga saat air mulai surut agak kesulitan untuk membersihkan rumahnya. “Makanya di depan rumah saya pasang bambu yang dibentangkan, biar sampah tidak masuk,” akunya.

Sementara itu Abdul Jalil, Camat Rowokangkung mengatakan di Desa Sidorejo sudah empat tahun ini tidak mengalami kebanjiran. Semasa itu pihaknya sudah melakukan beberapa upaya untuk menangkis meluapnya aliran sungai avur 12.

Upaya menormalisasi aliran sungai sudah dilakukan jauh sebelum terjadinya banjir. Dampaknya sedikit dirasakan oleh warga. “Seandainya pemerintah tidak melakukan normalisasi, mungkin rumah warga yang ada di utara jalan juga tegenang,” katanya.

Dia memprediksikan banjir yang terjadi di Dusun Wungurejo ini terjadi lantaran hujan dengan intensitas lebat terjadi dengan durasi yang cukup lama. Sehingga mengakibatkan debit air di sungai avur meningkat.

Apalagi kiriman air yang cukup besar dari dari jebolnya tanggul Kali Jatiroto yang ada di Persil Genitri Desa Rowokangkung sebanyak tiga titik dengan panjang 30 Meter. “Aliran sungai avur 12 yang bermuara di Sungai Bondoyudo tidak kuat menahan debit air,” katanya.

Ditambah debit air sungai Bondoyudo juga cukup tinggi, sehingga air dari sungai avur 12 tidak tertampung. Akhirnya berbalik arah dan menggenangi pemukiman warga. “Kembalinya air ini, meluap ke pekarangan warga,” tambahnya.

Sampai saat ini pihaknya belum bisa memprediksikan kapan air akan surut. Hal itu dikarenakan, banjir kali sangat besar dan berbeda dangan tahun-tahun sebelumnya. “Semoga bisa cepat surut lah, semoga juga hujan tidak kembali turun,” tuturnya.

Disamping itu Plt Kepala BPBD Lumajang, Agus Budianto menuturkan, pihaknya sudah melakukan pemantauan sejak jebolnya tanggul Sungai Jatiroto. yang kemudian juga berimbas pada banjir di Dusun Wungurejo.

Sehingga pagi kemarin, pihaknya langsung menurunkan dua perahu karet untuk mengefakuasi barang-barang milik warga. “kami suah terjunkan dua perahu karet untuk menunjang kebutuhan warga,” katanya.

Tidak hanya itu saja, pengiriman dua tangki air bersih sudah masuk ke rumah-rumah warga. Hal itu dilakukan lantaran, dengan terjadinya banjir suah dipastikan air sumur milik warga akan tercemar.

Pihaknya juga langsung melakukan koordinasi dengan beberapa pihak. Seperti Dinas Sosial dan Baznas. Sehingga warga yang benar-benar membutuhkan bantuan bisa langsung mendapatkan penanganan dari dinas terkait.

Dapur umum juga sudah siap menampun ribuan jiwa yang tergenang air. Letaknya pun tidak jauh dari permukiman warga. “Dapur umum di letakan di balaidesa sekitar setengah kilo dari pemukiman,” tuturnya.

Dia menuturkan kejadian banjir kali ini memang cukup besar dibandingkan banjir pada tahun-tahun sebelumnya. Pihaknya belum bisa memprediksikan, kapan banjir akan mulai surut.

Apalagi cuaca belakangan ini menunjukan sering terjadinya hujan. Bukan tidak mungkin jika hujan kembali melanda wilayah Jatiroto dan Randuagung, kondisi banjir akan semakin besar. “Semoga tidak hujan sampai air benar-benar surut,” tutupnya. (mar/fid/ras)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia