Jumat, 19 Jan 2018
radarjember
Inspirasi
Features

Suka Duka Petugas Meja dalam Pertandingan Bola Basket

Selasa, 28 Mar 2017 14:20

Suka Duka Petugas Meja dalam Pertandingan Bola Basket

TANGGUNG JAWAB BESAR: Kehadiran petugas meja dalam suatu pertandingan basket menjadi perangkat yang sangat penting. Tugasnya adalah menjamin pertandingan berlangsung lancar dan aman. (Heru Putranto/Radar Jember)

Di antara sorak sorai penonton, langkah cepat lari pemain, dan suara-suara teriakan pelatih yang silih berganti, lima orang tampak terpaku dan mengarahkan pandangan ke arena pertandingan. Dua di antara mereka menempatkan tangannya di sebuat alat dengan beberapa tombol. Dua lainnya memegang pena, dengan secarik kertas yang menampakkan kotak-kotak berisi runtutan pertandingan.

Kelima orang ini adalah sebagian dari petugas meja, yang memegang peranan tak kalah penting dari sebuah pertandingan basket. Selain pengawas pertandingan yang merupakan bagian dari Komisi Wasit (Komwas), empat orang lainnya merupakan petugas meja dengan beragam tugas yang harus ditangani.

Gracia Ken Sekar, salah satu anggota petugas meja menuturkan, ada empat tugas utama yang menjadi poin penting dalam pertandingan. Yang pertama adalah bell and arrow, yaitu pihak yang bertugas memegang bel serta arrow atau arah tim yang menguasai bola.

Kemudian ada petugas timer and score yang mengoperasikan scoring board serta jalannya waktu pertandingan, penulis scoresheet yang mencatat jalannya pertandingan dalam kertas sko, dan petugas yang mengoperasikan waktu 24 detik.

“24 detik adalah waktu maksimal satu tim boleh men-dribble bola sebelum mencoba memasukkan ke ring,” ujar gadis yang akrab disapa Ken ini.

Masing-masing petugas meja, kata dia, harus bisa mengoperasikan masing-masing posisi. Tetapi tak sedikit pula yang kerap mendapat tugas yang sama dalam setiap pertandingan.

“Misalnya saya yang biasa megang 24 detik. Masing-masing aturan dan pengoperasian sudah ada panduannya dari Perbasi (Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia),” imbuhnya.

Selain Ken, di Jember sendiri terdapat sembilan srikandi yang tergabung menjadi petugas meja pertandingan basket. Mereka adalah Shanti Karlinda, Nanda Olga, Ayu Priciliya, Siti Aisyah, Aisyah Nur Fadilah, Ratih, Sylfia Febrian, Ajeng Wardani, dan Dwi Putri Desiyanti.

“Setiap tahun bisa nambah, bisa berkurang, bisa juga tetap, tergantung kinerja masing-masing personal,” ujar Nanda Olga yang juga menjadi bagian dari petugas meja.

Sebagai petugas meja, mereka tak hanya harus memahami aturan pertandingan yang tengah berjalan, tetapi juga isyarat wasit serta pengoperasian alat-alat. Hal ini bukan menjadi hal yang sulit, mengingat rata-rata mereka sudah aktif sebagai pemain basket sejak SMP.

Menurut Olga, seorang petugas meja harus memiliki tingkat konsentrasi yang sangat tinggi. Kesalahan sekecil apapun harus diminimalisir, apalagi ketiga bertugas dalam even yang besar. “Salah sedikit bisa mengganggu jalannya pertandingan,” ujarnya.

Sebab, ada berbagai hal yang harus diperhatikan sepanjang pertandingan berlangsung. Seperti tanda-tanda substitution dan time out dari pelatih. “Kadang kalau misalnya kita telat memencet bel tanda time out, kita bisa dimarahi pelatih bahkan penonton,” kata Ayu Priciliya.

Emosi ini, lanjut Ayu, juga menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi petugas meja. Tak jarang mereka menjadi ‘sasaran amuk massa’. Mulai dari pelatih, pemain, hingga penonton.

Sebagai petugas meja, merekalah yang paling terlihat oleh peserta yang datang di arena pertandingan. Sehingga berbagai protes kerap ditujukan kepada petugas meja dan pengawas pertandingan yang mendampingi mereka. “Kadang protes yang tidak berkaitan dengan pertandingan pun ditujukan ke kita,” kata Ayu.

Padahal, menurut Ayu, petugas meja bukanlah bagian dari panitia penyelenggara even. Hanya saja penonton tak paham dengan kondisi tersebut. “Paling sering dimarahi penonton. Kadang telat time out, timer pertandingan yang nggak jalan, atau ada yang cedar tapi bel nggak dibunyikan,” tutur Ayu.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Siti Aisyah yang baru bertugas belum lama. Kebetulan even pertama yang dia pegang adalah Honda Jember Basketball League 2017. Ini menjadi tantangan, sebab even ini tidak hanya diikuti peserta dari Jember tetapi sampai di kawasan Tapal Kuda.

Banyaknya peserta membuat gadis yang akrab disapa Icha ini belajar mengenai karakter pemain, penonton, dan pelatih. Masing-masing tim memiliki karakter tersendiri. “Ada yang pelatihnya emosional, pemainnya suka bikin drama di arena, sampai penontonnya yang suka heboh sendiri,” kata dia.

Bahkan, saking emosinya penonton, tak jarang ada pelatih atau penonton yang sampai menggebrak meja, karena saking marahnya. Pernah juga para petugas meja sampai mendapat lemparan botol plastik, bahkan kucing hidup. Ini terjadi ketika laga beberapa tahun lalu.

“Kebetulan Komwas-nya nggak ada. Di aturan pertandingan kala itu, memang disebut bahwa meski Komwas nggak ada pertandingan tetap bisa berjalan dengan empat petugas meja. Nah, ketika lagi ruwet, pertandingan sedang panas-panasnya, dan banyak suporter yang datang, mereka kesal sama petugas meja. Bahkan mereka sampai ngelempar kucing ke meja petugas,” kenang Ken.

Pernah juga, kata Olga, pertandingan berjalan sangan membosankan hingga petugas sering mengantuk. Kalau sudah begitu, Olga dan petugas meja yang kala itu bertugas saling mengobrol untuk menghilangkan rasa bosan. “Namanya juga manusia,” imbuhya sembari tertawa.

Namun demikian, walau sering menjadi sasaran amuk penonton, sama sekali taka da rasa takut dan menyesal yang muncul dalam benak sepuluh gadis ini. Karena sudah sama-sama hobi, mereka tak keberatan asal bisa menikmati jalannya pertandingan. “Karena sudah hobi dan sama-sama suka basket, ya kita nggak pernah kapok,” kata Olga.

Menjadi petugas meja justru membuat para gadis yang seluruhnya merupakan mahasiswi ini banyak belajar mengenai karakter pemain serta kondisi-kondisi yang terjadi di lapangan. Dengan demikian mereka bisa lebih mengerti apa yang harus dilakukan oleh petugas meja ketika mereka memainkan perannya. “Kita sekalian belajar, oh seperti ini ternyata foul, seperti ini ternyata nggak foul. Jadi menambah ilmu juga,” pungkasnya. (lintang anis bena kinanti/hdi/jawapos.com)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia