Jumat, 19 Jan 2018
radarjember
Inspirasi
Features

Ajari Siswa Beli Saham dengan Nominal Rp 100 Ribu Saja

Kamis, 23 Mar 2017 14:50

Ajari Siswa Beli Saham dengan Nominal Rp 100 Ribu Saja

AKTIVIS SAHAM: Meskipun sibuk sebagai dosen dan mahasiswi S3, Lia Rachmawati selalu intens sosialisasi tentang investasi saham. (Rangga Maradika/Radar Jember)

Dalam ruangan kampus STIE Mandala Jember, terlihat seorang perempuan berjilbab tampak serius di depan komputer. Dirinya sesekali melihat lembaran tumpukan yang ada di samping komputernya. Meskipun begitu, dia tetap murah senyum dengan orang yang datang di ruangan bernama Galeri Investasi ini.

Ya, dialah Lia Rachmawati, Dosen Program Studi Akuntansi STIE Mandala Jember. Saat ini, Lia melanjutkan study di S3 Manajemen Fakultas Ekonomi Bisnis Unej. Kegiatan di Galeri Investasi ini merupakan salah satu tugasnya sebagai sekretaris Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia yang ada di kampus tersebut. Dimana divisi ini membawahi Kelompok Studi Pasar Modal di kampus yang ada di Jalan Sumatra ini.

Lia dan tim biasa memberikan konseling bagi mahasiswa dan juga masyarakat umum yang ingin mengenal dunia saham. “Selama ini kan anggapannya dan mindset masyarakat bahwa yang terjun ke bisnis saham hanya dilakukan oleh orang berduit,” ucap perempuan kelahiran Surabaya, 6 Desember 1982 ini.

Sehingga membuat orang merasa takut untuk berinvestasi saham. Padahal, ucap ibu dari M. Hilbram Aliman dan M Surya Anoraga ini, semua itu hanya persepsi bagi yang belum pernah terjun ke pasar modal. 

Bahkan Lia kini membuat program sosialisasi kepada masyarakat umum dan SMA/SMK bernama: Yuk Nabung Saham, agar masyarakat ikut berpartispasi dalam perkembangan dunia pasar modal melalui investasi saham.

“Hanya dengan Rp 100 ribu sebenarnya sudah bisa berinvestasi saham. Uang itu bisa untuk membeli  saham,” ucap perempuan yang juga Ketua Koperasi Karyawan STIE Mandala itu. 

Oleh karena itu, sebenarnya dengan uang segitu saja, setiap masyarakat sudah memiliki saham yang bisa terus berkembang. Tentunya dengan syarat memang investasi itu benar-benar dipelihara dengan baik.

“Jadi merubah mindset ini yang sulit. Bahwa sebenarnya pasar saham ini tidak eksklusif tapi untuk semua masyarakat,” tutur istri Dr Sumani ini. Hal inilah yang sebenarnya harus dipahami oleh masyarakat. Asalkan memang tahu bagaimana investasi yang benar dan aman.

Lia menuturkan saat ini juga tengah menggencarkan sosialisasi terkait dengan pasar saham. Termasuk dengan mengadakan  kegiatan sekolah pasar modal. Bekerja sama antara STIE Mandala dengan BEI. “Program ini bukan hanya untuk masyarakat, tapi juga pelajar,” ucapnya.

Alumni Magister Akuntansi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya ini juga ingin mengenalkan pasar modal atau pasar saham ini ke sejumlah sekolah-sekolah yang ada di Jember dan sekitarnya. Termasuk juga belajar dan mengenalkan analisis investasi dan manajemen portofolio, Bursa Efek.

Sehingga diharapkan masyarakat Jember akan paham dengan pasar modal sebenarnya. Bukan dari asumsi yang selama ini terbangun di masyarakat terkait dengan ‘mahalnya’ berinvestasi di pasar modal. Sehingga dirinya tidak akan sungkan-sungkan untuk memberikan materi pasar modal ke sekolah-sekolah.

“Jadi setingkat pelajar pun sebenarnya bisa bermain saham,” tuturnya. Dengan demikian, dengan berinvestasi sejak dini akan bisa menumbuhkan jiwa enterpreneur di kalangan pelajar sejak dini dan bisa mandiri ketika usia kerja.

Melalui Kelompok Studi Pasar Modal STIE Mandala, yang terdiri dari Divisi Penelitian dan Pengembangan, Informasi Komunikasi dan juga Sumber Daya Manusia yang ada di KSPM tersebut. Dimana masing-masing divisi tersebut terdapat program kerja yang bersifat edukatif  dan informatif. Dan salah satu dari progam kerjanya adalah sosialisasi Yuk Nabung Saham.

Baginya, tugas dosen adalah melakukan Tri Dharma perguruan tinggi. Yaitu pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Menurutnya, mengajar itu menyenangkan karena bisa memberikan ilmu yang dimiliki dan nantinya ilmu itu akan bermanfaat bagi mahasiswa terutama ketika mereka menghadapi dunia kerja.

“Mengabdi kepada masyarakat itu juga menyenangkan karena kita dapat berbagi ilmu kepada masyarakat,”ucapnya.

Karena tidak semua masyarakat memiliki jenjang pendidikan yang sama, sedangkan ilmu itu berkembang dan tumbuh, selalu ada keterbaruan, perubahan, yang tidak semua masyarakat mampu menerima dan menangkap perubahan ataupun perkembangan dari ilmu itu sendiri.

Dan meneliti itu pun juga menyenangkan karena dari hasil penelitian itu bisa menjadi sumbangsih bagi dunia pendidikan. “Memberi itu tidak  membutuhkan sebuah atau beberapa alasan,” pungkasnya. (rangga mahardika/hdi/har/jawapos.com)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia