Jumat, 19 Jan 2018
radarjember
Semeru
Harga Tomat Anjlok

Harga Tomat Anjlok

Pilih Jual Sendiri ke Pasar

Selasa, 21 Feb 2017 11:46

Harga Tomat Anjlok

TERANCAM MERUGI: Pedagang tomat yang berada di Pasar Baru Lumajang mulai resah. Pasalnya harga tomat terus mengalami penurunan. (Qomaruddin Hamdi)

LUMAJANG – Pedagang tomat yang berada di Pasar Baru Lumajang resah dengan harga tomat yang kian hari terus menurun. Sedikitnya laba yang mereka dapat mengakibatkan pedagang tidak terlalu banyak menjual tomat di lapak mereka.

Kurun waktu sepekan terakhir, penurunan tomat terjadi di beberapa pasar tradisional Lumajang. Penurunannya tidak terlalu drastis, namun terus-menerus dan cukup mempengaruhi pasar. “Sekarang harganya hanya Rp 3.500 per kilogramnya,” kata Sanusi, salah satu pedagang pasar.

Dia menuturkan, harga tomat yang dijualnya sudah turun semenjak beberapa hari yang lalu. Menurutnya jika harga tomat turun seperti saat ini, otomatis ketersediaan tomat di pasar sangat banyak. Sedangkan tomat bukan menjadi kebutuhan pokok masyarakat. “Pembelinya kan jarang, kalau murah gini untungnya sedikit,” akunya.

Selain itu tidak jarang, tomat yang dijualnya itu kadang dibuang lantaran tidak laku dan membusuk. Kondisi itu sudah beberapa hari ini terjadi dan pihaknya tidak bisa berharap banyak dari laba penjualan tomatnya.

Ternyata kondisi itu juga berimbas pada petani tomat yang berada di Desa Labruk Lor Kecamatan Sembersuko. Mereka juga resah dengan harga tomat yang kian hari kian menurun itu. Hal itu dikarenakan, biaya produksi tanaman berjenis sayur tersebut membutuhkan modal yang cukup besar.

Sepekan trakhir ini, ada tiga fase penurunan harga. Harga tomat yang semula mencapai Rp 4.500 per kilonya, harus turun drastis menjadi Rp 3.000 perkilonya. Kondisi ini tentu membuat beberapa petani tomat di Lumajang mengalami kerugian.

Gofur, petani tomat di Desa Labruk Lor Kecamatan Sumbersuko mengatakan jika penurunah drastis harga tomat tersebut dipengaruhi oleh persaingan pasar. Saat ini Lumajang didroping  tomat dari Malang dan Jember.

Menurut Gofur meski harga tomat mengalami penurunan cukup drastis, namun masih seimbang dengan modal yang dia keluarkan. “Masih bisa bertahan, kalau harga sampai di bawah Rp 1.000, bisa-bisa tidak kembali modal,” katanya.

Untuk saat ini pihaknya mengaku masih bisa mengakali harga yang terus merosot tersebut. Salah satu caranya adalah membatasi penjualan ke tengkulak. “Kalau murah gini, mending dijual sendiri ke pasar,” ungkapnya.

Dia menuturkan, harga di pasar bisanya memiliki harga yang cukup tinggi dibanding harga dari tengkulak. Dengan cara itu, para petani bisa mendapatkan untung meski harga tomat kali ini mulai menurun.

Gofur yang memiliki lahan pertanian tomat seluas dua hektare ini bisa memanen tanaman tomatnya empat kali sehari. Dengan kondisi itu sangat diharapkan perubahan harga tomat bisa kembali normal.

Untuk saat ini pihaknya masih meraba-raba, apakah untuk panen kedepan harga tomat naik atau turun. Hal itu dikarenakan naik atau turunnya harga sangat dipengaruhi oleh kebutuhan pasar.

Bahkan jika melihat dari segi cuaca, seharunya harga tomat sudah naik. Karena memasuki bulan dan cuaca yang sangat cocok dengan masa tanam tomat. “Hujannya sudah jarang, dan tanaman tomat sudah dalam kondisi baik,” tutupnya. (mar/ras)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia