Jumat, 19 Jan 2018
radarjember
Hukum

FH Unej Bantah Plagiasi

NA Selalu Sebutkan Sumber Jelas Kutipan

Jumat, 07 Oct 2016 10:20

 FH Unej Bantah Plagiasi

BERI KLARIFIKASI: Dekan Fakultas Hukum Unej Dr Nurul Ghufron menyebutkan, NA Disabilitas sudah menjelaskan sumber jelas di setiap kutipan. Sehingga bukan plagiasi. (Rangga Mahardika/Radar Jember )

JEMBER – Tudingan copy paste di Naskah Akademik Raperda Disabilitas yang diinisiasi DPRD Jember berbuntut panjang. Fakultas Hukum Universitas Jember (FH Unej) membantah tudingan itu.

Mereka menyatakan jika peneliti Lembaga Penelitian (Lemlit) Unej yang juga dosen FH sudah melakukan sesuai dengan kajian ilmiah. Yakni menyebutkan sumber dari data jelas dari kutipan yang dicantumkan.

Hal ini disampaikan langsung oleh Dekan FH Unej Dr Nurul Ghufron kemarin siang (6/10). Pihaknya mengatakan perlu melakukan klarifikasi karena meskipun DPRD Jember untuk NA Disabilitas bekerjasama dengan Lemlit Unej.

“Tetapi untuk peneliti adalah tenaga dosen dari Fakultas Hukum,” jelas Ghufron. Sehingga perlu mengklarifikasi tudingan dari Persatuan Penyandang Cacat (Perpenca) Jember.

Pihaknya sudah memanggil tim peneliti yang menyusun draft NA Disabilitas. “Kami sudah melakukan klarifikasi kepada tim peneliti,” ucap Ghufron.

Terkait tudingan copy paste yang disampaikan oleh Perpenca Jember Ghufron bersama dengan tim Lemlit Unej, akan melakukan penelitian secara detail terhadap NA dan draft Raperda Disabilitas yang disusun oleh tim yang ditunjuk oleh Lemlit Unej.

“Kami memiliki kode etik, karena kami memiliki kriteria jelas tentang bentuk-bentuk dari plagiasi,” ucapnya. Sehingga secara jelas disampaikan, sehingga sangat berhati-hati dalam penyusunan NA dan draft ini.

Ghufron menyebutkan beberapa kriteria dari bentuk plagiasi. Pertama menurut Ghufron, suatu penelitian dianggap sebagai bentuk plagiasi, apabila penelitian tersebut mengutip lebih dari 50 persen dari penelitian lain. Kedua, penelitian yang mengambil rujukan dari penelitian lain, namun tidak dikutip dengan jelas sumber rujukannya.

“Itulah yang dikatakan sebagai bentuk plagiasi, kriterianya menurut saya sangat jelas,” ucap Ghufron. Namun, untuk NA Disabilitas diakuinya sebenarnya selalu menyebutkan sumber jelas dari penelitian yang dilakukan. Termasuk juga munculnya kutipan hasil penelitian Ketua Dewan Pembina Perpenca Jember Asroul Mais.

Namun, jika kemudian ada tudingan penelitinya tidak pernah berkomunikasi kepada pemilik sumber rujukan, diakui Ghufron, diakuinya tidak masalah dan bukan pelanggaran plagiasi. “Yang paling penting adalah, rujukannya tersebut harus ditulis secara jelas dan tegas, tanpa harus langsung konfirmasi kepada penulisnya,” jelasnya.

Sehingga tidak perlu meminta izin disebarluaskan atau digunakan untuk penelitian lanjutan.  Dan itu sudah biasa terjadi dalam dunia ilmiah dan penelitian. Dirinya mencontohkan apabila dirinya memiliki buku, ataupun juga sebuah karya tulis ilmiah. Kemudian buku atau karya tulis ilmiahnya tersebut, dijadikan rujukan oleh peneliti lain tidak masalah meskipun tidak meminta izinnya.

Bahkan jika kemudian disebarkan dan dipasang di sebuah portal online, digunakan sebagai rujukan untuk penelitian di universitas lain, ataupun juga digunakan sebagai materi di universitas yang lain. “Itu tidak masalah. Asalkan sumbernya jelas,” tegasnya.

Dalam dunia ilmiah, karya tulis adalah hal yang paling monumental dalam lembaga pendidikan perguruan tinggi. Penulisan sebuah karya tulis ilmiah, sangat lazim jika merujuk pada karya tulis orang lain. Asalkan sumber rujukan tersebut dikutip secara jelas.

“Hal itu (merujuk penelitian sebelumnya atau karya tulis orang lain, Red) sangat penting dilakukan, untuk menjamin kesinambungan dari penelitian yang akan dilanjutkan,” ujar Ghufron. Oleh karena itu, seharusnya NA itu tidak jadi masalah.

Pihaknya juga memberikan kesempatan lebar kepada Perpenca untuk bersama memperbaiki NA itu dalam partisipasi masyarakat yang sudah difasilitasi DPRD. Apalagi, ucap Ghufron, penelitinya dengan Perpenca juga sudah menemukan kata sepakat untuk bersama-sama memperbaiki NA Disabilitas itu. “Selama belum diketok menjadi Perda, draft itu masih draft NA. Bisa diperbaiki sesuai dengan kebutuhan Perpenca,” jelasnya.

Sehingga nantinya NA dan Perda Disabilitas Jember nantinya akan dapat bermanfaat untuk kaum difabel di Jember. “Karena diharapkan Perda ini bukan hanya regulasi, tapi juga untuk melindungi dan melayani kaum disabilitas di Jember. Serta daya paksa untuk memberikan sarana prasarana untuk mereka,” pungkasnya.

Sebelumnya, Pendamping Perpenca Jember Siti Farmatus Syamsiah mengatakan, pihaknya menemukan ada sejumlah hal masalah copy paste di NA dan draft Raperda Disabilitas yang dibuat oleh Lembaga Penelitian (Lemlit) Unej ini. “Banyak copy paste dan meninggalkan jejak dan tidak bersih. Banyak kata-kata kutipan belum jelas,” jelas Fana, panggilan akrabnya.

Selain itu, lanjut Fana, banyak rujukan buku yang dikutip, dicampur adukkan dengan di bawahnya. Dia mengatakan, bahwa yang diduga jiplak ini bukan hanya kutipan lagi. “Jika kutipan, tidak boleh lebih empat baris yang ditoleransi. Saya menemukan, di NA Disabilitas bisa sehalaman,” ujarnya. (ram/hdi/jawapos.com)

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia