Rabu, 25 Apr 2018
radarbromo
icon featured
Features

Rock Balancing, Seni Menyusun Batu di Sungai Juga Ada di Pasuruan

Sabtu, 14 Apr 2018 07:00 | editor : Fandi Armanto

rock balancing, menyusun batu, seni, sungai, air terjun, coban danyang, keseimbangan

HARUS SEIMBANG: Aksi Adib saat menyusun batu di Coban Danyang, Desa Tempuran, Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan. (Istimewa)

PEMBONGKARAN batu bersusun (rock balancing) di Sungai Cibojong, Sukabumi, Jawa Barat awal Februari lalu, membuat sejumlah orang penasaran. Salah satunya Adib Ali Mustofa, warga Kelurahan/Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan. Ia lantas membuat kreativitas yang sama di air terjun Coban Danyang, Desa Tempuran, Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan.

--------------

Postingan karya Adib Ali Mustofa kerap mewarnai grup-grup media sosial. Di Instagram misalnya, hastag #rockbalancing populer beberapa bulan terakhir. Dari foto-foto yang ia unggah di Instagram itulah, seni rock balancing mulai dipopulerkan. Adib Ali Mustofa, 41, warga Perum Gading Permai, Kecamatan Gadingrejo adalah salah satu yang mempopulerkannya.

Ditemui Jawa Pos Radar Bromo Minggu (8/4) sore lalu, Adib mengaku baru turun dari air terjun Coban Danyang di Desa Tempuran, Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan. “Ini kali kedua saya ke sana. Sebelumnya dua minggu lalu, dan ternyata tempatnya bagus. Kalau sekarang, sekalian ajak keluarga buat tamasya juga,” terangnya.

Adib memang suka bertualang. Selain aktif bergelut di komunitas pecinta alam, ia juga penghobi gowes dan menjadi relawan. Belum lagi aktivitasnya sebagai fotografer yang ditekuninya 3 tahun terakhir. Nah, rock balancing ini menjadi hobi terbarunya. Hobi itu baru ia lakoni 3 bulan terakhir.

“Sejak kasus di sungai di Jawa Barat yang dihancurkan karena dianggap mistis itu. Saya malah tertarik dan akhirnya cari tahu lewat internet,” terangnya. Akhirnya, ia mendapat jawaban atas fenomena tersebut. Rock balancing menurutnya, dipopulerkan oleh warga Texas, Amerika Serikat.

Kesenian itu menerutnya punya kesulitan tersendiri. Seni yang meletakkan fondasinya pada keseimbangan itu, butuh konsentrasi tinggi. Namun, selama ini pehobi rock balancing paham, bahwa keseimbangan itu miliki semua benda. “Sebenarnya tak hanya batu. Benda mati seperti gelas, handphone, sampai koin punya keseimbangan,” terangnya.

Kenapa batu kemudian dianggap lebih populer? Karena seni ini menarik jika dikomparasikan dengan seni fotografi menggunakan teknik slowspeed. Di Indonesia, komunitas ini telah merambah sejumlah daerah selain Jogjakarta dan Bandung.

Tentu, tidak semua bisa menjalani hobi tersebut. Apalagi, banyak yang tak sabar ketika batunya tidak seimbang. “Tak ada teknik khusus untuk membuat rock balancing. Kuncinya sabar dan telaten saja. Semua orang bisa membuat rock balancing,” ujarnya.

Batu dengan titik keseimbangan itulah yang banyak diburu. Pembuatan rock balancing sendiri biasanya dibuat di sungai, pantai, atau air terjun. Semua batu bisa disusun dari segala ukuran dan bentuk. Biasanya untuk susunan hingga setengah meter, Adib bisa menghabiskan waktu hingga setengah jam.

“Biasanya sama anak saya, Argawana Mustofa, 6, yang ikut buat dan tertarik,” terangnya. Memang untuk membuat susunan batu, kadang berhasil kadang tidak. Kadang saat sudah di atas, susunan tersebut bisa jatuh. “Dan itu sudah biasa, ya mau tidak mau harus mengulang lagi,” terangnya.

Setelah batu tersusun sempurna, rock balancing yang sudah dibuat, biasanya dijadikan point of interest di karya fotografi yang dibuat. Hasilnya selain di-post di Instagram, juga dimasukkan di grup-grup regional salah satunya untuk mengenalkan wisata di Kabupaten Pasuruan.

“Seperti di Coban Dayang kemarin, banyak yang tertarik dengan wisata tersebut. Dan akhirnya ingin datang juga ke situ,” terangnya. Dari hasil rock balancing yang dibuat, Adib tak mempermasalahkan jika akhirnya karyanya hancur. Contohnya karya rock balancing yang dibuat di Coban Dayang, 2 pekan lalu. Setelah didatangi lagi, ternyata sudah rusak.

“Ya saya memaklumi, karena di situ aliran air deras dan angin juga kencang. Pasti tidak akan tahan berhari-hari,” ujarnya. Adib mengatakan, pihaknya membuka lebar-lebar bagi siapa yang ingin belajar bersama. Harapannya, promosi yang gencar soal wisata, semakin banyak yang datang ke lokasi wisata tersebut.

rock balancing, menyusun batu, seni, sungai, air terjun, coban danyang, keseimbangan

BUTUH KETELATENAN: Batu yang disusun Adib di Coban Danyang. (Istimewa)

(br/eka/fun/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia