Selasa, 24 Apr 2018
radarbromo
icon-featured
Cerpen

Penyesalan

Minggu, 25 Mar 2018 11:00 | editor : Muhammad Fahmi

cerpen, radar bromo, ruang publik, penyesalan

ILUSTRASI (Abdul Wahid/Radar Bromo)

“LEKAS ambil wudhu’, lalu mengajilah disampingnya.”

Untuk yang kesekian kali. Langkah kaki gontai mengikuti gerak tubuh menuju bak mandi tak berkulit semen, tangannya menggayung air mengguyur wajah kusam berminyak. Kembali tubuhnya bergerak menuju sebuah kasur kumuh tak beranjang, tergeletak di lantai. Seorang lelaki paruh baya terpejam dengan nafas yang sesekali tersengal tak bergerak. Ia mulai meraih Qur’an di dekat pembaringan, di bukanya mencari surat yasin untuk segara ia lantun didekatnya.

“Biasakan kau mengaji untuknya. Ingat, dia begini karenamu.”

Kesalahan seseorang tidak akan perah terhapus dari memori manusia, sekecil apapun. satu kesalahan serasa kefatalan yang tidak akan terampuni, apalagi kesalahan yang terulang-ulang. Berkali-kali menggores luka, serasa penyesalan tidak pernah hadir dihatinya. Berkali-kali menciptakan tangis, rupanya belum mampu menghadirkan perubahan dalam hidupnya. Dia seakan makhuk hidup tak berhati, hanya mengenal tawa dan kenyamanan dunia.

Tak ada suara dari mulut tebalnya, hanya gerak bola mata mengikuti tulisan indah dihadapannya. Hatinya mulai menyusut pedih, pandangannya mulai abu-abu namun tak mampu menyeruakkan kristal bening dalam kelopak. Seperti ada indra perasa hadir dalam kalbunya. Perlahan luka sayatan menggores jiwa kokohnya, tatkala matanya tergerak beralih memandang tubuh ringkih diatas kasur lapuk yang kasar.

###

“Jangan biasakan pulang malam.”

Sebaris kalimat datar terlontar dari lelaki paruh baya yang menatap lanangnya menyeret sepeda memasuki rumah sederhana. Wajahnya teracuh, seakan kalimatnya hanya angin malam yang mengganggu.

“Dengarkan kalau bapak bicara!”

“Aku sudah besar, nggak perlu banyak aturan.”

23:50
Paruh baya itu kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur lapuk dilantai dingin. Kali ini cukup nyaman, kursi sempit diteras luar membuat tubuh kurusnya terasa sakit sembari menanti anak lelakinya pulang. Matanya perlahan terpejam, berharap kokok ayam segera membangunkannya menghadap sang Khalik menyetor dua rokaat lail-nya.

Tidur yang tidak pernah teratur serta hidup yang selalu gelisah, hanya penyebab si lanang yang terus mewarnai hidupnya tidak beraturan. Menyayat hatinya berkali-kali menciptakan tangis diam-diam yang terselip dalam doa lima waktu. Bukan tidak tahu, hanya tidak mau perduli. Bukan tidak ada tempat yang lebih nyaman dari sekedar kasur lapuk rusak, nyatanya si lananglah lebih nyaman merebah tubuh diatas ranjang berkasur. Lelaki itu tetap tidak akan perduli, hanya menikmatinya seorang diri. Dan orang tua akan memilih mengalah demi sorang anak yang dikasihaninya.

Peristiwa pulang malam adalah segores kejadian yang tidak berarti jika berbanding dengan hidup dunia malam. Tubuh gagah penuh aliran keras serta barang laknat lainnya menjadi canduan hari. Cakapan ngelantur serta tubuh seakan melayang membawa angan hilang entah kemana. Hanya nikmat nikmat dan nikmat nyaman yang berkelebat dalam fikiran berharap hari esok tidak pernah terjadi.

Mereka bukan diam, hanya tidak tahu bagaimana mengingatkan. Mereka bukan membisu, tidak ada kata yang dapat menariknya keluar. Lelah, terlihat jelas dalam gores kerut tuanya. Bahkan tumpukan tagihan hutang di bank, seakan tidak pernah menyurut tiap pekan. Sebab si lanang yang gemar memikul dunia tanpa acuh.

Lagi-lagi ia tahu, nyatanya tetap saja tak mau mengerti.

“Sepeda siapa yang kamu gadai?”

“Aku nggak gadai sepeda.”

“Bohong! salah satu temanmu mendatangi ibu dan memberi kabar, bahwa kamu membawa sepedanya dan menggadaikannya. Ya Allah, apa lagi sekarang nak?”

“Dia sedang membuat ulah, biarkan saja!”

Pergi dan tidak perduli.

Betapa perihnya hati itu, hati yang tidak pernah sekalipun tenang dan damai. Luka disana sini seakan menjadi hiasan hidupnya. Diam-diam pula lelaki paruh baya menangis dibalik ruang lain, meratapi kehidupan sulit yang dijalaninya.

Sampai akhirnya, semuanya terjadi begitu saja.

###

Tanpa sadar, bulir air mata luruh menebas pipinya. Mata itu masih belum beralih dari pembaringan lelaki kurus itu. Hatinya mulai goyah, penyesalan mulai terasa.

09:30
Nafasnya tiba-tiba tertarik, menyentakkan setiap manusia dalam ruang pengap. Pun ia yang sedari tadi hanya menatap beku tubuh ringkih itu. Perempuan baya yang tak henti melantunkan ayat al-Ikhlas ditelinganya semakin deras mengucurkan air mata serta mengundang suara riuh setelahnya.

“Asyhaduallaa ilaahaillallah...”

Salah seorang membisikkan kalimat syahadat disisinya, berharap lantunan itu juga terlafal dalam cakap terakhirnya. Tersambut pula suara bising di sekitar.

Perlahan tangan itu tergerak, tangan yang sedari dulu tak ada empati tuk mengusap walau sekejab. Ia rengkuh tubuh kurusnya diciumi pipi tirusnya serta ia bisikkan ditelinganya.

“Tenangkanlah dirimu pak, aku berjanji akan menjaga ibu layaknya dirimu yang menyayangiku dengan tulus”

Sekejab kalimat itu terlontar, lelaki paruh baya itu perlahan menenangkan diri bertemu dengan sang Pencipta. Wajahnya memutih seketika memberi isyarat bahwa ia memilih kehidupan baru, bahkan senyum meninggalkan jejak dibibir tipisnya. Dia tersenyum untuk terakhir kali ia persembahkan kepada seluruh sanak kerabat dalam ruang kumuh itu.

Penyesalan datang saat semuanya sudah terjadi, saat semua hanya tinggal kenangan. Ia hanya bisa menangis dalam kepiluan mendalam, menatap sosok lelaki yang tak pernah lengah memperhatikan, menasehati serta menyayanginya. Kesabaran selalu terlihat dalam wajah tirusnya dan tak pernah sekalipun melepas amarah saat dirinya begitu kejam menghujami hatinya dengan luka-luka akibat perbuatannya.

Matanya ia edarkan ke seluruh ruangan sempit itu. Menatap mata sembab lantaran kepergian sesosok lelaki yang selalu menunggunya di serambi depan, yang telah ia sita waktu istirahatnya demi menunggu ketidak pastiannya pulang dari berkelana, hanya menunggu dirinya bermain dengan iblis laknat yang membutakan mata batinnya. Mereka berhak menghujat, bahkan menghakiminya sedemikian rupa. Dirinya memang pantas disalahkan.

Dan penyesalan itu datang disaat semuanya telah terlambat, penyesalan itu rupanya tidak akan membawanya kembali, hanya menyisakan kenangan pahit yang selalu ia toreh luka dalam hatinya. Ya Allah, aku menyesal. Hamba mohon, tempatkan bapakku disurgaMu...

###

Kenangan november 2017


Oleh: Bintang Meza, Tinggal di Desa Talkandang, Kecamatan Kotaanyar, Kabupaten Probolinggo

(br/jpk/mie/mie/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia