Selasa, 24 Apr 2018
radarbromo
icon-featured
Pasuruan

Banyak Remaja Ngelem, Ini yang Bisa Dilakukan Aparat

Sabtu, 13 Jan 2018 05:35 | editor : Fandi Armanto

ngelem, lem aibon, bocah ngelem, mabuk lem, kecanduan

MERESAHKAN: Sejumlah remaja menghirup lem di sekitar kawasan pelabuhan Pasuruan beberapa waktu lalu. (Dok. Jawa Pos Radar Bromo)

PANGGUNGREJO - Banyaknya remaja yang kedapatan ngelem (baca mengirup lem mengandung zat adiktif), ternyata bukan perkara baru. Sudah beberapa kali Dinas Satuan Polisi Pamong Praja melakukan razia dan mengamankan para pelakunya. Namun beberapa kali pula para pelakunya hanya bisa diberi pembinaan.

Bukan hanya pembinaan. Para pelaku yang terjaring razia, ada yang dikenai tindak pidana ringan. Namun mereka tidak bisa dikenai pidana. Sebab, lem bukanlah kategori narkoba (narkotika dan obat-obatan terlarang).

“Rata-rata yang terjaring razia adalah anak jalanan. Bahkan banyak yang usianya dibawah dewasa,” beber Nur Fadholi, Kabid trantib Dinas Satpol PP Kota Pasuruan.

Meski sudah beberapa kali terjaring, kata Nur Fadholi, rupanya penyalahgunaan lem ini bukannya semakin berkurang. Bahkan pernah, dia mengamankan pelaku, yang sudah beberapa kali terjaring.

“Kalau model yang seperti itu (lebih dari sekali terkena razia), baru kami kenai tipiring,” beber Nur Fadholi. Sementara bagi yang belum pernah, biasanya hanya didata dan diminta membuat surat pernyataan. Seringkali pula Satpol PP memanggil orang tua.

“Tapi kebanyakan, mereka yang terjaring bukanlah warga Kota Pasuruan. Ada yang dari luar, bahkan jauh. Tapi selama ini, rata-rata yang kami jaring, anak-anak jalanan baru,” beber Fadholi.

Alhasil, pihaknya hanya mendata sembari memberi imbauan. Supaya jangan lagi berbuat serupa. Data tersebut menjadi acuan Satpol PP. Dengan begitu, jika ada yang kembali terjaring razia, Satpol PP bisa menindak tipiring.

Seperti diberitakan sebelumnya, belakangan banyak ditemui remaja yang gemar ngelem di kawasan pelabuhan Pasuruan. Kebiasaan menyimpang itu dilakukan, lantaran mereka mencari sensasi untuk mabuk-mabukan, dengan menghirup lem.

Parahnya, aksi itu dilakukan di tempat umum. Secara vulgar pula. Bukan hanya remaja lelaki. Tetapi juga remaja perempuan. Saat ngelem, mereka juga tidak mempedulikan sekitar. Termasuk warga yang lalu-lalang.

Untuk meninimalisirnya, Satpol PP mengakui, hanya bisa mengantisipasi lewat patroli rutin. Aparat penegak perda pun mengimbau, agar masyarakat yang melihat dan merasa resah, bisa melapor ke Satpol PP. Sehingga Satpol PP bisa mengecek ke lokasi dan membubarkan kebiasaan menyimpang tersebut.

Namun Satpol PP tidak bisa menindak lebih jauh. Begitupula membatasi peredaran lem, yang sering disalahgunakan. “Bukan domain kami untuk membatasi. Apalagi, lem dijual bebas,” beber Fadholi.

Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan patroli. “Mungkin intensitas waktunya harus semakin sering. Jika biasanya kami menyisir sebulan sekali, mungkin saat ini harus dua kali. Ini akan kami upayakan,” beber Fadholi.

(br/fun/fun/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia