Jumat, 19 Jan 2018
radarbromo
icon-featured
Probolinggo

Demo Tutup Jalan Pantura, Ibu-Ibu asal Tongas Ini Nekat Buka Baju

Jumat, 12 Jan 2018 16:27 | editor : Muhammad Fahmi

PROTES: Sutin, warga Klampok, Tongas yang nekat mencopot bajunya saat ikut aksi blokade pantura menuntut akses warga yang tergerus proyek tol Paspro dikembalikan.

PROTES: Sutin, warga Klampok, Tongas yang nekat mencopot bajunya saat ikut aksi blokade pantura menuntut akses warga yang tergerus proyek tol Paspro dikembalikan. (Zainal Arifin/ Radar Bromo)

TONGAS - Ada pemandangan unik saat sejumlah warga Desa Klampok, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo menggelar aksi menutup jalan raya pantura, Jumat pagi (12/1). Seorang ibu-ibu peserta aksi tiba-tiba mencopot bajunya.

Baju itu dikibas-kibaskan ke mobil petugas propam TNI AL yang memaksa mau melintas. “Kembalikan jalan kami...kembalikan jalan kami Pak,” pekik ibu-ibu yang mengenakan kerudung warna putih tersebut.

Ibu-ibu itu diketahui bernama Sutin. Sama seperti warga lainnya, Sutin menuntut agar pelaksana proyek jalan tol Pasuruan-Probolinggo (Paspro) mengembalikan akses jalan warga.

Aksi warga Klampok memblokade pantura merupakan puncak protes warga. Sebelumnya, warga setempat mendirikan tenda di sekitar lokasi proyek dan menginap beberapa hari.

Mereka meminta pelaksana proyek tol memenuhi tuntutannya untuk dibuatkan akses. Sebab, tanpa jalan yang diminta, mereka harus berputar jauh untuk beraktivitas tiap hari.

Terkait tuntutan warga itu, Camat Tongas Sugeng Wiyanto sebelumnya sudah menegaskan, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk memediasi keinginan warga.

Pada 5 Desember misalnya, ada mediasi di kantor kecamatan antara warga dengan PT Waskita, PPK, dan PT Trans Jawa. Bahkan, juga mengundang Muspika dan Forkopimda. Namun, tak ada titik temu saat itu. Warga bersikeras meminta jalan underpass. Sedangkan pihak jalan tol menjelaskan, tak mungkin membangun underpass.

Alasannya, karena di layout atau perencanaan, tidak ada. Jika memaksa dibuatkan underpass, akan mengganggu konstruksi jalan tol. Sebab, lokasi underpass yang diminta warga, dekat dengan jembatan. Jaraknya tak sampai 500 meter. Seandainya dibuat, ketinggian underpass minimal 7 meter. Namun, yang ada hanya 5 meter.

“Bahkan di lapangan, kami sampai mengukur langsung ketinggian untuk underpass. Dan hasilnya, tidak ada yang memenuhi syarat 7 meter. Maksimal hanya 5 meter,” kata camat.

Aksi blokade jalur pantura itu berlangsung sekitar sejam dan membuat arus lalu lintas macet panjang. Baik dari arah Pasuruan maupun arah Probolinggo.

(br/rpd/mie/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia