Rabu, 17 Jan 2018
radarbromo
icon-featured
Hukum & Kriminal

Poerwati, Koordinator Arisan Online Macet Kena 2 Tahun Penjara

Jumat, 12 Jan 2018 13:12 | editor : Muhammad Fahmi

TERJERAT ARISAN ONLINE: Poerwati saat dirilis di Mapolres Probolinggo Kota, September 2017.

TERJERAT ARISAN ONLINE: Poerwati saat dirilis di Mapolres Probolinggo Kota, September 2017. (Zainal Arifin/ Radar Bromo)

MAYANGAN–Kasus penipuan arisan online yang menyeret Poerwati, 36, mencapai klimaks. Rabu (10/1), perempuan tiga anak itu, divonis hukuman 2 tahun penjaran. 

Sidang putusan berlangsung 30 menit saja, pukul 13.00 - 13.30. Sidang dipimpin majelis hakim Hadi Sunoto dibantu Anton Saiful dan Lucy Ariesty. Hadir jaksa penuntut umum (JPU) Herman Hidayat. Sementara terdakwa, hadir sendirian tanpa penasihat hukum. 

Anton Saiful, majelis hakim dua yang juga humas PN Kota Probolinggo menerangkan, terdakwa menerima vonis yang ditetapkan majelis hakim. Sementara jaksa penuntut umum (JPU) masih pikir-pikir. 

Poerwati sendiri menurutnya, dituntut tiga tahun penjara oleh JPU. Namun, majelis hakim memutuskan hukuman lebih ringan. Yaitu, dua tahun. 

“Pertimbangannya, karena terdakwa tidak pernah masuk penjara dan memiliki anak. Lalu, kerugian dari kasus penipuan ini tidak terlalu banyak. Yaitu, Rp 5,5 juta. Dia juga berkelakuan baik selama persidangan. Karena itu, majelis hakim memutuskan lebih ringan dari tuntutan,” terang Anton. 

Meski demikian, ada hal yang memberatkan terdakwa. Yaitu, perbuatan terdakwa menurut Anton, menimbulkan kerugian bagi orang lain. Bahkan, telah meresahkan masyarakat.

Terpisah, JPU Herman Hidayat memastikan, pihaknya memang belum mengambil sikap. Apakah menerima vonis majelis hakim atau tidak. Namun, menurutnya, putusan sudah memenuhi dua pertiga dari tuntutan. 

“Sudah sesuai. Jadi, kalau terdakwa tak mengajukan banding, maka kami juga tak akan ajukan banding,” terangnya.

Diketahui, Poerwati, warga Pondok Gabriela, Kelurahan Curahgrinting, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, terlibat dugaan penipuan arisan online. Dia pun ditangkap Polresta, Selasa (5/9) tahun 2017 dini hari di Tulungagung. 

Modusnya, dia mengoordinasi arisan melalui media sosial, yakni facebook (FB). Ada 15 kelompok arisan yang dia koordinasi. Dengan rincian, 12 kelompok bulanan yang terdiri atas 7 - 13 peserta. Sisanya, 3 kelompok mingguan yang terdiri atas 10 - 40 peserta. 

Untuk pengundian dilakukan tiap bulan bagi yang bulanan dan tiap minggu bagi kelompok migguan. Besarnya iuran untuk tiap kelompok berbeda. Untuk bulanan, Rp 200 ribu - Rp 2 juta. Untuk mingguan, Rp 10 ribu - Rp 50 ribu.

Arisan dimulai pada Desember 2016. Namun, memasuki Agustus 2017, ada beberapa anggota yang tak mendapatkan arisan sampai jatuh tempo. Anggota pun mendatangi rumah terdakwa dan melaporkannya ke polresta. 

Ia mengaku, ada uang arisan yang digunakannya untuk kepentingan pribadi. Selain itu, lantaran banyak yang mutung setelah mendapatkan arisan, pihaknya harus memutar otak untuk nomboki yang giliran mendapatkan. 

(br/rpd/mie/mie/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia