Rabu, 17 Jan 2018
radarbromo
icon featured
Features

Prihatin Populasi Berkurang, Pasutri Ini Budidayakan Edelweis

Rabu, 10 Jan 2018 12:48 | editor : Muhammad Fahmi

PECINTA LINGKUNGAN: Sunari menunjukkan edelweis yang dibudidayakannya.

PECINTA LINGKUNGAN: Sunari menunjukkan edelweis yang dibudidayakannya. (Rosyidi/ Radar Bromo)

Prihatin dengan bunga edelweis yang terus berkurang, pasangan suami-istri (pasutri), Sunari – Pujiati ini membudidayakan edelweis. Misinya, menyelamatkan bunga edelweis yang jumlahnya terus berkurang.

--------------------------------

KEBAKARAN hebat yang melanda wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tahun lalu, menghanguskan sedikitnya 76 hektare lahan di sana. Bunga edelweis yang tumbuh di sana pun musnah. 

POLIBAG: Budi daya eldeweis lewat polibag yang dikembangkan Sunari.

POLIBAG: Budi daya eldeweis lewat polibag yang dikembangkan Sunari. (Rosyidi/ Radar Bromo)

Kondisi itu membuat beberapa aktivis lingkungan, kemudian berupaya menyelamatkan edelweis. Salah satu caranya, melalui budi daya edelwais. Seperti yang dilakukan Sunari beserta istrinya, Pujiati, pasutri asal Desa Ngadisari, Sukapura.

Setiap hari, keduanya sibuk membudidayakan bunga yang biasa disebut bunga abadi itu. Saat ini, mereka telah memiliki sedikitnya 600 polibag edelweis. Semunya ditanam di lahan kosong yang ada di kiri-kanan rumah mereka di Sukapura. 

Sunari menyebut, budi daya yang dilakukannya, tidak sekadar untuk menjaga keberadaan edelweis. “Lebih dari itu, edelwais merupakan tanaman adat suku Tengger. Jadi, kami berusaha untuk menyelamatkan edelweis sebisa mungkin,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Cuwik itu mengaku, dirinya mulai belajar cara membudidaya edelweis sejak 3 bulan lalu. Tetapi, meskipun tergolong baru, ia berhasil membuat 600 polibag edelweis yang menurutnya gampang-gampang susah.

“Saya belajar kepada seorang kenalan yang bertugas di TNBTS. Karena waktu itu, saya tertarik melakukan budi daya di rumah. Kebetulan teman saya ini mau mengajari saya sampai bisa,” terangnya.

Tak begitu lama baginya belajar. Ketekunan dan keinginan yang tinggi untuk budi daya edelweis, membuatnya cepat mengerti. Setelah mengerti, Cuwik langsung praktik sambil mengajari istrinya, Pujiati untuk ikut melestarikan tanaman khas dataran tinggi itu. 

Kegiatannya pun kini bertambah. Jika sebelumnya hanya bertani di ladang, Cuwik kini membudidayakan edelweis di rumahnya. 

“Pertama saya mencoba hanya 12 bibit. Itu, bibit dari teman saya yang saya minta untuk ditanam di rumah. Dan, ternyata berhasil banyak seperti ini,” katanya.

Febriana Dwi Fitria Anjarani, anak keduanya, juga ikut dalam budi daya itu. Febriana mengaku, budi daya itu membuatnya belajar cara mencintai alam. Dia pun jadi lebih menghargai kekayaan lingkungannya.

“Awalnya saya mendukung. Kemudian, saya ikut budi daya juga. Dengan cara ini, berarti saya juga turun menjaga alam tempat saya dilahirkan,” tuturnya.

Selain memiliki 600 polibag yang ditanam di sekeliling rumah, Cuwik juga membudidayakan edelweis di sebelah timur SDN Ngadisari. Di tempat yang dikelola dengan temannya itu, ia memiliki 25 polibag. 

“Di SD itu juga ada. Di sana, saya tanam bareng dengan Mas Sandya Purnama. Ada sedikitnya 25 polibag. Kalau dijadikan bibit nanti 25 polibag itu jadi sekitar 4.000 bibit lebih,” tandasnya.

Meski bisa dibilang berhasil, motivasi pasangan Sunari dan Pujiati membudidaya edelweis, bukan untuk dijual. Melainkan akan ditebar ke habitatnya. Tujuannya, membantu pertumbuhan edelwais di alam bebas. Sehingga, tidak punah. Sebab, menurutnya, edelweis yang ada di Bromo jumlahnya terus berkurang. 

“Ini adalah bentuk pengabdian saya kepada alam. Bibit yang saya tanam ini akan saya sebar di habitat edelwais,” tuturnya.

Seandainya dijual pun, Cuwik menegaskan, penjualan yang dilakukannya harus diimbangi dengan pelestarian edelweis. “Yang penting kontribusi kami pada alam tidak terputus,” ujarnya.

Edelwais sendiri adalah tanaman yang ada setiap acara adat suku Tengger. Sehingga, keberadaannya di daerahnya sangat dibutuhkan. 

Oleh karena itu, ia mengajak semua masyarakat yang berada di Tengger untuk menjaga alam. Kalau perlu bersama-sama membudidaya dan mengembalikan edelweis. 

“Kalau tidak kami yang melakukannya, siapa lagi. Selain bisa dijual, ini bunga adat. Setiap kali ada acara adat di Tengger, bunga ini pasti ada. Jadi, bunga ini juga penting bagi kami,” jelas lelaki yang aktif sebagai anggota Komunitas Bromo Lover itu. 

(br/sid/mie/mie/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia