Selasa, 16 Jan 2018
radarbromo
icon featured
Features

Geliat Pasar Kaget di Kelurahan Kiduldalem, Pedagangnya Tertata Rapi

Selasa, 09 Jan 2018 14:35 | editor : Fandi Armanto

pedagang, pasar kaget, pasar dadakan, kiduldalem, pkl, pedagang kaki lima, pasar desa, pasar rakyat

RAMAI: Kawasan Kiduldalem yang ramai. Tempat ini memiliki potensi untuk kegiatan pasar rakyat. (Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

PASAR memang menjadi sentra ekonomi. Karena dari pasar, penjual dan pembeli bisa saling bertemu. Roda ekonomi pun berputar.

----------------

Pasar rakyat atau pasar kaget di Kiduldalem, Kecamatan Bangil, tidak digelar setiap hari. Keberadaan pasar setempat, hanya dilaksanakan saat momen-momen tertentu.

Biasanya, digelar beberapa bulan sekali. Pelaksanaannya, dilangsungkan selama tiga hari. Mulai hari Jumat, Sabtu, dan Minggu.

Menurut Lurah Kiduldalem, Kecamatan Bangil, Sudirman, kegiatan pasar rakyat dilangsungkan di jalan umum. Akses menuju Pasar Bangil, menjadi lokasi yang strategis untuk kegiatan itu dilangsungkan. Karena banyak hilir mudik kendaraan.

Memang, persoalan kemacetan tak jarang menjadi pekerjaan yang harus diselesaikan. Untuk mengatasi hal itu, pengaturan pedagang perlu dimaksimalkan.

“Caranya, pedagang diminta untuk lebih menepi. Tujuannya, kendaraan bisa mengakses jalur menuju Pasar Bangil,” sampai Sudirman.

Ia menjelaskan, pasar kaget di Kiduldalem, Kecamatan Bangil, memberi andil besar dalam mendorong roda ekonomi warga. Betapa tidak. Warga bisa memanfaatkan pasar dadakan itu, berjualan.

Aneka produk diperdagangkan. Mulai dari makanan, minuman, pakaian, dan berbagai kebutuhan lainnya. Pedagangnya pun rata-rata warga sekitar.

“Ini yang kami sebut  bisa mendongkrak ekonomi. Warga bisa ikut andil untuk berjualan. Jadi, tidak hanya menjadi penonton ataupun konsumen,” imbuhnya.

Hanya saja, diakuinya, keberadaan pasar rakyat itu, dilakukan saat momen-momen tertentu. Tidak bisa kontinyu setiap pekan misalnya. Hal ini, yang menjadi catatannya.

Pihaknya menginginkan agar keberadaan pasar dadakan itu, bisa lebih intensif dilakukan. Jika memang tak bisa dilangsungkan seminggu sekali, paling tidak bisa sebulan sekali.

Dengan begitu, nantinya tak hanya menjadi sentra perdagangan baru. Tapi, juga menjadi sarana wisata belanja di akhir pekan.

“Kami menginginkan agar keberadaan pasar rakyat itu, bisa lebih diintenskan pelaksanaannya. Makanya, kami akan komunikasikan dengan pihak-pihak yang terkait,” tuturnya.

(br/one/fun/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia