Jumat, 19 Jan 2018
radarbromo
icon featured
Features

Ini Dia Anggota Polri-TNI yang Jadi Pelatih Muaythai Kota Pasuruan

Selasa, 09 Jan 2018 09:45 | editor : Fandi Armanto

pelatih muaythai, polisi, polri, tni, tentara, beladiri, atlet

KOMPAK: Brigadir Salman (kiri) dan Sertu Nisful Laili saat berbaju dinas. (Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

KEKOMPAKAN Brigadir Salman Al Farisi, anggota Provos Polres Pasuruan Kota dan Sertu Nisful Laili, Komandan Howitzer Batalyon Marinir 11 Surabaya, patut diacungi jempol. Selain kompak menjadi abdi masyarakat dan abdi negara. Keduanya juga kompak mencetak atlet andal Muaythai Kota Pasuruan.

----------------

Pria berseragam cokelat itu tampak berjaga di ruang piket Provos Polres Pasuruan Kota. Dengan ramah, ia melayani warga yang datang mengadu. Begitulah keseharian Brigadir Salman Al Farisi. Sehari-harinya, ia dikenal sebagai anggota Provos Polres Pasuruan Kota.

Namun, siapa sangka, laki-laki bertubuh tegap ini juga seorang pelatih Muaythai di Sasana Keris Samudera Kota Pasuruan. Tak sedikit prestasi yang diraih oleh atlet Muaythai Kota Pasuruan ini, dari hasil kerja kerasnya.

“Saya tetaplah anggota Polri. Tapi, saya juga masih menyempatkan diri melatih anak didik saat malam hari di Gedung Wolu Kota Pasuruan. Dan, Alhamdulillah, cukup banyak prestasi yang sudah saya raih,” ungkapnya mengawali obrolan.

Salman –sapaan akrabnya – mengungkapkan, sejak kecil ia memang suka dengan olahraga bela diri. Bahkan, dirinya menguasai silat dan kempo walaupun hanya level dasar. Karena itu, pada 2013 silam, saat mengetahui ada sasana Muaythai di Kota Pasuruan, ia pun langsung mendaftar sebagai anggota.

Ia mengaku langsung nyaman dengan olahraga ini, sebab gerakannya sederhana dan mudah dipelajari. Sehingga, sangat cocok sebagai pertahanan baginya saat sedang bertugas.

Jalan hidupnya lantas berubah pada 2014. Saat itu, sasana sedang mengalami krisis pelatih. Ia pun diminta untuk menjadi pelatih fisik untuk mempersiapkan kontingen Jatim ke Liga Nasional di Subang. Rupanya, kepercayaan ini tidak disia-siakan. Ia mampu mempersembahkan kontingen Jatim menggondol 6 emas, 2 perak, dan 2 perunggu.

Keberhasilannya ini ternyata membuat sasana semakin mempercayainya. Ia lantas dipercaya sebagai pelatih fisik dan teknik pada 2017. Hasilnya, ia berhasil membawa Kota Pasuruan menjadi juara umum di ajang Piala Kapolri di Bogor dengan 7 emas.

“Alhamdulillah, saya dipercaya untuk menjadi pelatih. Padahal, saya ikut sasana hanya sebagai anggota. Ini berkat doa dan dukungan dari keluarga besar, teman, dan pimpinan saya di Polres Pasuruan Kota,” jelasnya.

Salman menyebut, latihan dilakukan sebanyak empat kali dalam seminggu di Gedung Wolu. Yakni, Senin, Rabu, dan Jumat sejak pukul 18.30 sampai 20.30, serta Minggu sejak pukul 06.00 sampai 09.00. Saat sedang berdinas, ia masih menyempatkan diri untuk melatih.

“Walaupun saat itu saya sedang giliran tugas jaga, tapi saya tidak pernah absen ke sasana. Kebetulan lokasi sasana tidak jauh dari polres. Tapi, selepas itu saya kembali berdinas. Ya, otomatis waktu dengan keluarga jauh berkurang,” terangnya.

Sementara itu, Sertu Nisful Laili mengaku terjun di olahraga Wushu sejak 2012. Kebetulan, ia termasuk salah seorang pendiri dan pemrakarsa olahraga Muaythai di Indonesia. Ia juga melatih Muaythai di Sasana Keris Samudera sebagai pelatih teknik.

Pria yang menjabat sebagai Komandan Howitzer Batalyon Marinir 11 Surabaya ini menyebut, Muaythai tidak sampai menguras waktunya. Sebab, ini dilakukan di luar jam kerja. Ia sendiri sudah lepas dinas sejak pukul 14.30 dan baru berangkat ke sasana untuk melatih setelah Magrib.

Menurutnya, berkecimpung di dunia Muaythai banyak sukanya. Karena ia memang sangat menyukai seni olahraga bela diri ini. Namun, ia berharap agar ada perhatian dari Pemkot Pasuruan untuk atlet yang berprestasi. Sebab, selama ini ia kerap menggunakan kocek pribadi saat mengikuti turnamen.

“Di sasana ada 20 atlet, namun selama ini perhatian dari pemkot masih minim. Kami tidak pernah menarik biaya pada atlet. Sebab, mayoritas dari kalangan tidak mampu. Makanya, saya dengan Mas Salman kerap patungan untuk biaya atlet bertanding,” katanya.

pelatih muaythai, polisi, polri, tni, tentara, beladiri, atlet

CETAK ATLET: Salman dan Nisful bersama anak didiknya. (Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

(br/riz/fun/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia