Rabu, 17 Jan 2018
radarbromo
icon-featured
Cerpen

Katanya, Cinta Tak Perlu Dikatakan

Minggu, 07 Jan 2018 20:26 | editor : Radfan Faisal

cerpen, radar bromo, ruang publik

ILUSTRASI (Abdul Wahid/Jawa Pos Radar Bromo)

PADA bidang datar cermin itu, Mbok Sarmi seperti bisa melihat kecantikan masa mudanya yang baru saja lewat kemarin. Kedua pipinya masih gembul, hidungnya masih seperti tomat segar, dahi dan janggutnya kelihatan licin dan halus, kedua matanya seperti matahari yang baru saja terbit, dan terutama rambutnya yang masih hitam legam.

Setiap kali mampir di salon kecantikan Neng Diana, ia memang tak mau melewatkan cermin itu. Apalagi akhir-akhir ini, ketika kue tradisional bikinannya menjadi sesuatu yang paling digemari orang-orang.

“Khusus buat Mbok Sarmi nanti aku kasih harga khusus deh. Mbok Sarmi cukup bayar untuk biaya bahan permaknya saja, sementara jasa perawatannya aku gratiskan. Gimana, kurang enak apa, coba?” bujukan dari Neng Diana itulah yang kemudian membuatnya gundah.

Setelah detail harga dijelaskan, menurut kesaksian Mbok Sarmi, biaya bisa ditebus dengan dua pekan berpuasa penuh atas laba dagangan. Dan ia pun telah melihat bukti dengan mata kepala sendiri, Hajah Sufi dan Hajah Alimah adalah dua pelanggan salon yang umurnya sepantaran dengan Mbok Sarmi. Berkat perawatan ajaib dari salon Neng Diana, umur mereka tersamarkan lima belas tahun dari usia yang sebenarnya.

“Nanti dulu saja ya, Neng…,” kilah Mbok Sarmi santai.

Mikir apa lagi tho, Mbok? Bukankah katamu, si Udin sudah dapat pekerjaan, dan bisa bantu-bantu biaya kuliah adiknya?” Neng Diana gencar membujuk lantaran yakin bahwa Mbok Sarmi percaya dirinya memang masih kelihatan cantik.

“Pokoknya nanti dulu lah, Neng…”

“Apa Pak Sarmi ndak suka, Mbok Sarmi tampil cantik?”

“Ya bukannya begitu, Neng…,” tak melanjutkan kalimatnya.

“Justru apa?” desak Neng Diana.

Entah bagaimana, bidang datar cermin rias yang memantulkan pemandangan dalam salon itu tiba-tiba memunculkan potongan-potongan kisah kehidupan. Tentu saja Mak Sarmi hafal dengan potongan-potongan kisah itu. Hingga akhirnya ia pun memutuskan, “Besok saja deh, Neng. Biar aku pikir-pikir dulu…”

“Aku yakin kok, pasti Pak Sarmi bakal ikut senang kalau melihat Mbok Sarmi ayu kembali.”

“Hehehe…iya, Neng,” hanya tersenyum.

*    *    *


Ketika alarm dalam kepala membangunkan Mbok Sarmi di sepertiga malam akhir, perempuan itu sudah lupa dengan keinginannya kemarin pagi. Yang ada dalam kepalanya adalah beras, ketan, gaplek, dan jagung yang harus segera diolah menjadi beragam jajanan tradisional seperti gantilut, lemper, kawur, dan lain-lain.

“Carikan kayu yang kering, Pak. Lalu jangan lupa uleni adonan tepung ketannya,” perintah Mbok Sarmi kepada suaminya yang juga turut bangun. Selalu.

Dan lelaki itu menurut saja macam babu paling setia. Lantaran telah hafal dengan detail pekerjaan, Pak Sarmi pun tampak begitu cekatan, tanpa merasa terganggu dengan kepul asap atau tiga perapian yang mesti ia jaga nyala apinya di tengah-tengah obrolan serius yang dilontarkan istri.

“Nanik butuh duit lagi tho, Pak? Kemarin, berapa katanya? Lima juta?”

Hanya suara keretak api di perapian dan kayu-kayu yang dijejalkan yang menyahut sebagai jawaban. Seolah bilang bahwa segera menyelesaikan pekerjaan adalah lebih penting ketimbang berbincang-bincang.

“Sekolah zaman sekarang kok doyan duit banget ya, Pak?” sambil melilitkan kendit di perut.

“Mungkin ada benarnya juga, kalau orang-orang yang korupsi itu katanya sekolahnya tinggi-tinggi semua. Mungkin mereka cari ganti rugi biaya sekolahnya dulu. Biar impas. Ah, semoga anak-anak kita nanti enggak ada yang kayak begitu,” cerocos Mak Sarmi sambil memarut kelapa.

Ingatan perempuan itu tengah melayang ke anak sulungnya yang enam bulan silam resmi diangkat menjadi pegawai kabupaten. Dan sepekan lalu, anak lelakinya itu menyuruh Pak Sarmi berhenti mbecak.

Meski diam tak jawab, Pak Sarmi menolak. Keesokan harinya dan keesokan harinya lagi, lelaki itu tetap mbecak tanpa terlihat malas sedikit pun. Meskipun anak sulungnya itu mulai rutin mengulurkan uang setiap bulan.

Sejak saat itu kehidupan Mbok Sarmi memang terasa lebih ringan. Meski kedua anaknya yang kuliah jurusan keperawatan belum bisa mandiri secara finansial, ia sudah bisa menyisihkan sebagian penghasilan. Ia mulai bisa membeli jarik, kebaya, lipstik, minyak wangi, dan lain-lainnya tanpa melalui tukang kredit, seperti dulu lagi. Dan ia sangat bersyukur dengan hal itu.

*    *    *


Sore, adalah waktu bagi Mbok Sarmi untuk memberi jeda pada tubuhnya yang lelah. Setelah menghitung laba, memastikan bahan-bahan yang ia butuhkan untuk diolah menjadi aneka kue tradisional terbeli semua, dan menyiapkan menu makan malam sekaligus sarapan pagi, biasanya Mbok Sarmi akan leyeh-leyeh di lincak depan rumah sambil mengamati apa saja yang sedang dikerjakan Pak Sarmi yang enggan berdiam diri.

Mbok Sarmi jadi teringat masa-masa yang dulu, dulu sekali ketika anak-anak masih kecil-kecil. Di jeda waktu seperti ini, lelaki itulah yang begitu rajin menyuapi anak-anaknya. Tak peduli ledekan para tetangga yang mengatainya ‘keperempuan-perempuanan’. Kata lelakinya, rasanya justru menyenangkan. Mungkin lantaran itulah lelaki itu masih suka ‘menyuapi’ anak-anaknya dengan uang sampai sekarang, meski kadang mereka enggak butuh ‘suapan’.

Mbok ya disisihkan juga buat jaga-jaga kalau dirimu sakit tho, Pak.”

Lelaki itu tak jawab, seolah-olah ia benar-benar tak butuh uang. Bahkan saat ia akhirnya dikalahkan oleh sakit.

“Pergilah kerja sana. Aku doakan laris, biar besok aku bisa pergi ke Dokter Zakaria,” hampir selalu begitu jawabnya ketika Mbok Sarmi coba memanjakannya, seolah ia tak butuh dilayani.

Mbok Sarmi juga masih ingat dengan ucapan lelaki itu, “Orangtuaku sudah enggak ada sewaktu aku masih umur dua tahun. Rasanya sungguh enggak enak,” yang dijadikan alasan pembenar memanjakan anak. Dari situlah Mbok Sarmi belajar memahami dan mengerti lelakinya.

Lalu setelah sekian tahun, meski hanya bermula dari beberapa menit mencuri pandang, Mbok Sarmi tiba-tiba menyadari bahwa ternyata ia mulai takut jika kehilangan lelaki itu. Betapa ia ingin membuatnya bahagia, kapan pun ia butuh.

*    *    *


Simfoni jangkrik dan serangga malam mengabarkan bahwa malam itu tak sepenuhnya hening. Begitu juga dalam kamar itu, ada yang gelisah sejak ia membaringkan tubuhnya tadi.

“Mau aku pijiti, Pak?” ia menawarkan diri ketika melihat lelakinya tampak tak berdaya dihajar capek.

Ndak usah. Aku hanya mengantuk.”

Tapi tanpa diminta, Mbok Sarmi mengurut lekuk tulang belakang suaminya dengan lembut. Hingga lelaki itu tertidur. Meninggalkan Mbok Sarmi sendirian dikerubuti banyak pikiran.

Ia menatap lekat-lekat suaminya. Kadang ia benar-benar tak mengerti dengan tabiat lelakinya. Jelas-jelas seharian tadi ia mendapatkan pekerjaan yang merontokkan persendian, dari seorang tetangga yang pindah rumah. Ia harus memindahkan seluruh perabot rumah yang bisa diangkut dengan becak. Hingga lelakinya terjaga, kedua mata Mbok Sarmi belum juga kehilangan daya.

“Kau itu kenapa?” tanya Pak Sarmi ketika melihat Mbok Sarmi membuka sedikit kebaya bagian atas. Kebaya lusuh yang biasa ia pakai kala tidur.

Mbok Sarmi malah terus mencopoti kancing kebaya itu. Dan lalu mendekat ke tubuh lelakinya hingga batas tekanan.

“Umur sudah segini, kalau sering begituan, malah lebih capek ketimbang mbecak,” menguap, menghindar dari jerat mata Mbok Sarmi.

*    *    *


Masih seperti kemarin kemarin, pada bidang datar cermin itu, Mbok Sarmi masih bisa melihat jejak-jejak kecantikan masa mudanya. Kedua pipinya masih gembul, hidungnya masih seperti tomat segar, dahi dan janggutnya kelihatan licin dan halus, kedua matanya seperti matahari yang baru saja terbit, dan terutama rambutnya yang masih hitam legam. Tapi kemudian semua itu terbuyarkan oleh rayuan Neng Diana.

“Pasti joss, Mbok. Aku jamin. Rambutmu akan kembali hitam, kerut-merut wajahmu akan kembali mulus, dan terutama aroma tubuhmu. Aku yakin, cinta Pak Sarmi akan ‘bangun’ terus, hehehe…”

Mbok Sarmi memang sempat tersipu. Tapi riak wajahnya tiba-tiba kembali seperti semula begitu melihat bayang wajah Pak Sarmi dalam cermin—penuh uban, kantung mata yang menggantung, kerutan yang membentuk peta-peta absurd, dan terutama bias lelah seiring usia. Apakah ia akan tega meninggalkan wajah itu dalam ketuaan yang sendirian?

“Uangnya aku tagih kembali uang saja ya, Neng. Soalnya Nanik sedang butuh uang kuliah,” ujar Mbok Sarmi akhirnya.

“Bukannya sudah ditanggung kakaknya, Mbok? Meskipun sudah berumur, menumbuhkan cinta juga masih penting lho…”

Menghela napas, “Ah, buat kami sih, Neng, cinta itu tak butuh dipermak. Cinta tak perlu dikatakan, tapi cukup diperlihatkan dengan kepedulian dengan pasangan. Lihat itu para artis di tivi. Sekarang dia pamer cinta, tapi besoknya kok ribut-ribut ngurus perceraian,” geleng-geleng kepala.

Raut Neng Diana seketika kehilangan riang.*



Oleh: Adi Zamzam
Banyuputih, Kalinyamatan – Jepara, 2017

(br/jpk/rf/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia