Minggu, 21 Jan 2018
radarbromo
icon featured
Features

Kastaman, Kades Ngadas Raih Penghargaan Berkat Program Pamsimas

Senin, 01 Jan 2018 12:35 | editor : Fandi Armanto

pamsimas, penghargaan, kastaman, kades ngadas

BANGGA: Kastaman (paling kanan) ketika menghadiri acara penghargaan program Pamsimas yang digelar 19 Desember silam. (Pemerintah Desa Ngadas for Jawa Pos Radar Bromo)

BERKAT program Pamsimas, Kastaman diundang pemerintah pusat. Kepala Desa Ngadas di Kecamatan Sukapura itu diganjar penghargaan Kementerian PU PR. Hanya ada 10 desa dari 3.000 desa di Indonesia yang menyabet penghargaan itu.

---------------

Penghargaan itu diberikan Kastaman pada 19 Desember silam. Pemerintah pusat tentu mengetahui bagaimana Kastaman dengan program penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas) yang dikelola desanya, mampu mengurangi kekeringan air. Bahkan, kini sebagian warga di Desa Sukapura, tak lagi kekurangan untuk kebutuhan air bersih.

Pamsimas di Desa Ngadas, Kecamatan Sukapura, sendiri berjalan sejak tahun 2015. Sebelum Pamsimas ada, Desa Sukapura selalu kesulitan air bersih. Tetapi, setelah dibangun dan air mengalir, sedikitnya 234 kepala keluarga (KK) di Dusun  Krajan I dan Krajan II RW, kini tak lagi harus membawa cangkul untuk menutupi kotoran saat buang air besar.

“Dahulu warga kami mengambil air minum menempuh jarak dua kilo ke jurang. Bahkan, jalannya menanjak dengan kemiringan 60 derajat atau tinggi 150 meter. Kalau musim kemarau sampai tiga kilometer panjangnya,” terang Kastaman menceritakan, bagaimana sulitnya warga di Desa Sukapura kesulitan akan air bersih.

Pamsimas di desanya, juga memudahkan warga. Air yang disalurkan memalui pipa, bahkan sudah dilengkapi dengan memakai meteran air. Layaknya perusahaan daerah air minum, warga kini hanya tinggal memutar keran, bila ingin air.

“Harga per kubiknya Rp 3 ribu. Program Pamsimas kami masukkan ke BUMDes. Sehingga, masuk kepada Pendapatan Asli Desa (PADes). Kami senang karena penduduk dapat menikmati air minum dengan mudah dengan harga yang murah,” terangnya. Pengelolaannya juga profesional.

Jauh sebelum itu, ada duka yang harus dilewati Kastaman. Yaitu, saat pencarian sumber mata air yang memakan waktu tidak sedikit. Butuh enam bulan dengan berkeliling hutan mendapat sumber air dengan nama sumber Gentong tersebut. (baja : Jawa Pos Edisi 1 Desember)

Dia mengulas balik soal bagaimana sulitnya dia mencari sumber mata air untuk mencukupi kebutuhan warga. Pihaknya yang merupakan kepala desa dari kalangan orang lemah secara ekonomi, sempat bingung mencari dana untuk pembangunan di desanya. Sementara, masyarakat tidak mengetahui soal itu. Apalagi, pembangunan sumber air, tentu memakan biaya yang tidak sedikit.

Tanpa berpikir panjang meluangkan waktu mencari sumber mata air. “Akhirnya pencariannya berbuah hasil. Saya menemukan sumber mata air di Gunung Gentong, sebelah timur safana. Adapun jaraknya sejauh 15 kilometer. Air di sini sulit ditemukan. Seperti mencari jarum di tumpukan jerami,” terangnya.

Sampai suatu ketika, melalui semedi sehingga mendapat wangsit berupa mimpi. Dalam mimpinya, ada sesepuh yakni Mbah Joko Kuncung, yang menunjukkan bahwa air bisa di dapat di kawasan Gentong. Sebuah kawasan perbukitan di desa setempat. Dari wangsit itulah, akhirnya dia menemukan sumber air. Dan sumber air tersebut yang kini menyalurkan air bersih, termasuk ke Desa Jetak.

“Adanya sumber air tersebut sangat menyenangkan dan menguntungkan bagi warga kami. Setidaknya, kami tidak terbebani lagi mencari air sejauh tiga kilometer,” katanya.

Alhasil, program Pamsimas yang nyata dapat memenuhi kebutuhan air minum dan sanitasi sehari-hari bagi warga, sangat didukung warga. Sekarang, air minum lebih mudah didapat.

Kini meski sudah berjalan hampir tiga tahun, warga tetap menjaga sumber air bersih tersebut. Adapun upaya pemeliharaan program pamsimas tersebut ke depan dengan dilakukan pengembangan.

Dengam masuknya PADes dari Pamsimas, desa juga diuntungkan. Nantinya kinerja-kinerja di desa nanti bisa ditunjang dari PADes, sehingga suatu saat menjadi desa mandiri. Kami berharap ke depan lebih semangat lagi melaksanakan pembangunan di desa setempat menjadi lebih baik lagi,” terangnya.

Tradisi gotong royong di suku Tengger yang masih kuat, menjadi nilai tambah untuk pengelolaannya. Bukan hanya ketika Pamsimas, pertama kali dibangun. Tapi, saat ada pembangunan lainnya. Masyarakat desa, jadi kian percaya dengan pemerintahan di bawah Kastaman.

Untuk itulah ketika dia mendapat penghargaan dari Kementerian PU PR, Kastaman sangat antusias. Itu, menjadi bukti bahwa pemerintah di pusat, ikut memperhatikan desa seperti Sukapura. Pemerintah pusat ingin menjadikan Desa Sukapura, sebagai contoh desa yang berhasil dengan program dari pusat.

“Saya sampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat dan daerah dengan dana yang diberikan. Sehingga, mempermudah pembangunan di desa kami,” beber Kastaman. Berkat pengelolaan keuangan yang baik, Pemkab Probolinggo juga mengganjar desa ini sebagai desa pengelola dana desa terbaik di Kabupaten Probolinggo yang diberikan Bupati.

Terpisah Camat Sukapura Yulius Christian mengatakan pelibatan masyarakat sangat tinggi dengan program Pamsimas di Desa Ngadas. Warga bergotong royong membangun proyek  air bersih tersebut. Inilah yang menjadikan pemerintah pusat, memberikan penghargaan kepada Kastaman.

“Gotong royong masyrarakat tersebut mendapat apresiasi dari Kemendes. Dana Desa juga berhasil membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Kini di tiap rumah sudah ada air bersih. Tinggal muter keran. Bahkan sudah diatur dengan meteran. Sebelumnya warga mencari ke jurang sedalam 150 meter,” terangnya.

(br/hil/fun/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia