Selasa, 23 Jan 2018
radarbromo
icon-featured
Cerpen

Perempuan Itu Mencuri Ingatanku

Minggu, 24 Dec 2017 14:00 | editor : Radfan Faisal

cerpen, Perempuan Itu Mencuri Ingatanku, radar bromo, ruang publik

ILUSTRASI (Abdul Wahid/Jawa Pos Radar Bromo)

LEPAS tengah malam, saya membelah jalan sendirian. Kecepatan motor tak terelakkan. Saya kadang berpikir, lampu-lampu kota begitu cepat berlari ke belakang.

“Segera sampaikan kepadanya. Cerita ini aku titipkan padamu. Aku, aku hanya percaya padamu.”

Itu yang saya ingat. Itu yang saya pegang. Itu yang menjadi amanah saya. Itu yang harus saya sampaikan, tentu saja.

Dan itu pula yang tersisa dari ingatan sebelum saya sampai di perempatan, sebelum tubuh ini terpelanting jauh dan merangsek di dalam gorong-gorong pinggiran jalan raya yang rupa-rupanya dalam perbaikan, sebelum gesekan aspal dan besi tua motor terdengar berderit, bahkan mungkin menimbulkan percikan api, sebelum sekilas terdengar ledakan dan malam menjadi semakin terang, sebelum saya menyadari bahwa mobil itu menginjak dalam-dalam pedal gas, lari, sebelum pandangan saya kemudian menjadi buram, lebih buram, dan pada akhirnya terang itu padam.

Saya tak sadarkan diri.

***

Perempuan bermata darah itu dengan berani membuka paksa mata sayu pemuda itu. Benda-benda tumpul sepertinya ia gunakan, apapun itu. Palu, linggis, besi sisa tiang bendera, dan semacamnya. Sebenarnya, ia bisa saja masuk secara baik-baik andai mata itu terbuka, andai pemuda tidak pingsan ketika itu.

“Bangsat! Mata macam apa ini? Rapat betul. Keparat!” Perempuan itu mengumpat habis-habisan seperti lupa bahwa di balik pintu masuk mata, di dalam rumah ingatan, ada rahasia luar biasa.

Tapi toh ia tetap berusaha membuka. Segenap tenaga ia kerahkan, semua peralatan apa pun itu ia manfaatkan, segala cara ia lakukan, seluruh upaya ia usahakan untuk membuka, masuk, melewati lorong-lorong gelap, untuk kemudian mengambil dan membawa pergi jauh-jauh ingatan permata itu.

Manusia manapun tidak pernah tahu asal perempuan itu. Semua memang paham, bahwa ia adalah pencuri paling ulung yang pernah ada di dunia. Semua ingatan yang berhasil ia curi, tidak mungkin bisa kembali. Bagaimanapun. Kecuali, kecuali perempuan itu berbaik hati mengembalikannya cuma-Cuma. Tetapi sungguh yang demikian itu sangat jarang ia lakukan. Tak terhitung sudah berapa jumlah ingatan yang telah ia sembunyikan. Begitu banyak, teramat banyak, dan tidak ada lagi yang lebih banyak, bahkan sungguh tidak ada angka yang bisa mewakili kata banyak itu.

“Kedatangannya tidak pernah diharapkan. Tetapi, keberadaannya adalah kepastian. Semua tahu itu dan semua paham.”

Malam itu, ia memang telah mengintai lama-lama penerima kisah rahasia itu. Pemuda itu hanyalah satu korban dari sekian ribu, ratus, bahkan milyar korban lain. Setiap kisah rahasia diceritakan, perempuan bermata darah itu selalu tahu, selalu mengerti apa yang akan diperbuat selanjutnya, selalu berhasil menjalankan misinya; membuat korbannya terpelanting, tersungkur, sampai kemudian tidak sadarkan diri, mencongkel mata dengan benda-benda tumpul, dan mengambil sesuatu yang tersimpan; ingatan.

“Pasti sudah diambil perempuan bermata darah itu,” begitu kata orang setiap kali melihat orang yang hilangan ingatan, setelah kecelakaan.

Mata perempuan itu sebenarnya sungguh-sungguh indah. Tidak tepat apabila orang-orang menyebut bahwa ia memiliki mata darah. Sungguh tidak tepat. Penyebutan bermata darah sebenarnya bermula dari setiap korban yang menjadi sasarannya. Setiap kali ia beraksi, seketika itu pula mata korbannya mengalirkan darah. Bila cairan merah itu mengalir, semua orang akan mengerti bahwa ada yang hilang dari ingatan si korban. Tentu. Perempuan itu masuk ke rumah ingatan melalui pintu mata. Dan setiap mata yang ia lalui pasti terkunci rapat. Perempuan itu kemudian membuka paksa, sangat amat memaksa, dengan cara apapun, sampai kemudian pintu itu terbuka dan korban menangis darah. Kau pun tentu tahu, tangisan itu menandakan sebuah ingatan permata yang raib.

Lantas, orang-orang menyebut “seorang perempuan dan korban dengan yang matanya berdarah.” Begitulah, orang-orang memang suka menyebut apa saja seenak lidah mereka. Tidak peduli apa istilah itu sebenarnya tepat atau tidak. Yang terpenting semua tahu, seorang perempuan dan korban dengan mata berdarah. Dan dengan mudahnya, mereka kemudian menyebut perempuan bermata darah.

“Alammak, apalah arti istilah yang tidak tepat bila semua orang telah mengerti.”

***

“Ini adalah cerita paling rasis, barangkali. Aku harap kau tidak membeberkannya kepada siapapun. Kau hanya perlu menyampaikannya pada sahabat terdekatmu yang benar-benar ingin petunjuk. Cerita ini sungguh bukan konsumsi publik, kau tahu.”

Begitu saya coba mengumpulkan sisa-sisa ingatan saya. Kata-kata itu saya temukan di antara serakan ingatan yang kocar-kacir dalam kepala saya. Sebenarnya banyak yang saya temukan, tetapi yang paling dekat dan paling berhubungan dengan perempuan itu adalah soal rasis.

Ketika itu, memang ada salah seorang kawan yang butuh bantuan. Saya kerap disodori dengan pertanyaan-pertanyaan seputar Tuhan. Tentu, saya menjawab sesuai dengan keyakinan agama yang saya anut. Kawan saya itu coba melogikakan sesuatu yang harusnya berhenti di keyakinan.

“Tuhanmu siapa, kenapa kau menyembahnya, kenapa kau harus menuruti segala perintahnya, apa alasanmu melakukan itu? kira-kira demikian deretan pertanyaan itu?”

“Agama itu soal keyakinan, bukan soala bagaimana!” Begitu jawab saya ketika itu.

Dan kau tahu, saya, saya baru bisa menjawab dengan tepat setelah mendengar dari pemilik cerita itu.

Sebenarnya, saya sadar bisa menjawab lebih dari itu, setidaknya saya yakin itu. Tetapi begitulah, semenjak kejadian malam itu, kepala saya selah menanggung beban berat bila harus mengingat-ingat lebih. Seperti ada luka yang tiba-tiba menganga bila saya harus memaksa membuka ingatan.

Lantas kawan saya itu menyodorkan beberapa pertanyaan soal cinta, hidup, dan prinsip-prinsip lain, tentu. Dan lagi-lagi kepala saya terasa pening bila mengingat detil-detil pertanyaan itu.

“Apa saya memiliki pasangan?” tanya saya pada wanita setengah baya yang biasa menemani saya di ruang serba putih ini.

“Mama akan menyuruhnya kemari,” begitu jawabnya.

“Cantikkah ia?”

Dan perempuan yang mendapuk diri sebagai mama itu hanya tersenyum.

“Berapa lama aku menjalin hubungan dengannya?”

“Kamu harus makan..”

***

Ruangan rumah sakit ini cukup silau. Saya pikir itu akibat cat putih yang rata membalut ruangan, serta kain-kain yang juga serba putih, ditambah penerang ruangan yang juga putih, hingga suasana di dalamnya jadi tampak lebih bercahaya. Saya melirik jam dinding. Jam tengah menunjuk angka satu. Di sofa, mama terlelap dalam keadaan duduk. Cukup banyak guratan usia yang saya lihat di wajah mama. Ia tampak begitu lelah, bahkan sesekali mendengkur. Dari wajah itu, saya bisa melihat sisa-sisa kecantikan masa mudanya.

Begitu hening ruangan itu, sampai-sampai detak jarum jam dan hembusan napas mama pun terdengar. Lalu, pintu berderit. Ada yang masuk. Saya mengalihkan perhatian ke sumber suara.

Seorang wanita yang begitu sempurna mendekat. Aku mengibaratkan dia sebagai bidadari, meski aku tidak pernah tahu macam apa bidadari itu. Rambut hitamnya yang lurus terurai, kulitnya yang bersih, wajahnya yang serasa madu, tatapan matanya yang bulat tapi tajam, jemari yang lentik, terbalut dalam tubhu yang teramat ideal di mata saya.

Ia lantas tersenyum, sementara warna merah di pipinya itu meyakinkanku, bahwa ia adalah perempuan paling sempurna yang pernah aku lihat. Ia semakin mendekat. Ia cukup tenang, setenang hawa di ruangan ini. Ia mendekatiku tanpa berkata. Langkahnya begitu pasti.

“Aku kembalikan ingatan yang hilang dari kepalamu. Kau tak perlu menghakimi siapa pun, termasuk aku,” katanya kemudian, begitu datar.

Benarkah ia perempuan bermata darah itu, aku membatin.

“Tak perlu berkata apapun!” selanya ketika aku coba membuka mulut.

Aku melirik mama, ia masih terlelap. Tetapi kemudian ia berbicara keras, “pergi perempuan bangsat!” Saya tahu mama mengigau. Matanya masih tertutup dan kerutan di wajahnya semakin tampak, tanda ia menahan sesuatu. “Pergi, jahanam!”

Sementara perempuan itu tetap tenang.

“Jangan hiraukan igauan orang lain!”

“Dia mamaku, bukan orang lain!” Kataku membela.

“Kau mengingatnya?”

“Begitu akunya.”

“Enyahlah, bedebah!” kata mama semakin hebat.

“Aku tidak ingin berdebat denganmu, ambillah yang telah menjadi hakmu. Jangan pernah menyalahkan orang lain atas sesuatu yang menimpa dirimu,” kata perempuan itu lantas pergi begitu saja.

Aku mulai melihat keringat dingin di pelipis mama. Napasnya mulai teratur.

***

Lantas beberapa hari setelah itu, saya menerima pesan dari kawan saya. Saya baca, lantas membalasnya;

“Tuhan saya bernama Allah. Itu disebutkan dalam buku sakral pedoman umatku, yang berumur ribuan tahun, tetapi masih utuh alias tidak mengalami perubahan. Aku menyembahnya karena memang dia memerintah dan memang sangat berhak disembah. Aku turuti itu sebab aku telah masuk dalam sistem buatannya, yakni agama. Kenapa saya masuk? Karena saya membutuhkan untuk masuk. Buku-buku filsafat, matematika, sastra, bahkan buku-buku sosial yang kaupinjamkan padaku ternyata tidak pernah mengatur hal-hal kecil dalam hidup saya, sebut saja berak misalnya, kencing, atau hal-hal kecil lain. Dari situ, saya mulai berpikir, ada hal lain dari diri saya yang perlu saya genapi, dan itu ada pada agama. Tentu saja saya harus segera mencari detil-detil kecil itu dari pedoman yang sudah ada.”

Selebihnya, saya tidak merasa perlu menyampaikan lebih banyak kepada kawan lama saya itu.

“Sore tadi Naia kemari mencarimu,” kata mama, sambil menyodorkan teh pintaku. “Ia menitipkan ini!” Mama menyodorkan sebuah bungkusan kecil. “Ia buru-buru!”

Segera aku chat Naia. Terima kasih kusampaikan. Ia berpesan, sampai jumpa di pesta besok. Jemput aku pukul 09.00. Ingat, jangan terlambat dan jangan lupa, begitu pintanya. Saya tersenyum.

Segera saya buka titipan itu. Sesuai pesanan, pikir saya; buku kecil untuk membantu mengingat, tentu saja.

Kecelakaan itu berdampak pada ingatan jangka pendekmu, kata mama selalu.

“Sabtu, 9 Juli, besok, pukul 09.00, pesta pernikahan Nano,” catatan perdana saya.



Oleh: M Arrijalul Mukhlisun
Asal Singosari, Malang. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di sejumlah media. Kumpulan cerpennya yang pertama, Akar Rumput, terbit 2015

(br/jpk/rf/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia