Selasa, 24 Apr 2018
radarbromo
icon featured
PERSIKAPRO

Songsong Musim Baru, Persikapro Cari Alternatif Kandang

Rabu, 20 Dec 2017 12:39 | editor : Muhammad Fahmi

SEWA: Penggawa Persikapro (jersey putih) di laga kandang Lig 3 musim lalu yang numpang di stadion Bayuangga, Probolinggo.

SEWA: Penggawa Persikapro (jersey putih) di laga kandang Lig 3 musim lalu yang numpang di stadion Bayuangga, Probolinggo. (Zainal Arifin/ Radar Bromo)

KRAKSAAN–Sepanjang musim kompetisi Liga 3 2017, Persikapro jadi tim yang tak pernah benar-benar merasakan bermain di kandang sendiri. Sebab, mereka belum memiliki stadion sendiri yang memenuhi syarat untuk berlaga di Liga 3. 

Stadion Gelora Merdeka (SGM) Kraksaan saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Lapangannya tak terawat. Selain itu, ruang ganti dan toiletnya pun tak berfungsi dengan baik. 

Walhasil, tim berjuluk Laskar Panji Laras itu harus menyewa ke tetangga, Kota Probolinggo saat memainkan laga home. Laskar Panji Laras menggunakan stadion Bayuangga saat berlaga di kandang. 

TAK LAYAK: Kondisi Stadion Gelora Merdeka Kraksaan yang mirip hutan.

TAK LAYAK: Kondisi Stadion Gelora Merdeka Kraksaan yang mirip hutan. (Arif Mashudi/ Radar Bromo)

Nah, situasi musim depan kemungkinan tak akan jauh berbeda. Sebab, rehab SGM Kraksaan belum diketahui kapan pelaksanaan dan rampungnya. 

Lantaran itu, masalah stadion yang jadi kandang Persikapro musim depan pun jadi perhatian ketua terpilih asosiasi PSSI Kabupaten Probolinggo, M Didik Mustadi. 

Menurutnya, sejauh ini ada beberapa alternatif untuk kandang Persikapro musim depan. Yakni tetap menyewa di stadion Bayuangga yang memenuhi syarat. Atau menyewa ke Stadion Abdurrahman Saleh Situbondo. 

Atau kalau ingin lebih berhemat, bisa memanfaatkan potensi lapangan yang ada. Yakni Mengoptimalkan lapangan Desa Bulang di Kecamatan Gending. 

Semua alternatif itu memiliki plus dan minus sendiri-sendiri. Untuk stadion Bayuangga, secara keseluruhan sangat layak untuk menggelar laga Liga Amatir. 

Kendalanya, biaya sewa yang tak murah. Selama musim lalu, untuk menggelar laga kandang, Persikapro harus merogoh kocek Rp 12 juta tiap kali laga. “Itu lengkap dengan perangkat pertandingannya,” kata Didik. 

Nah, alternatif sewa yang lebih murah adalah stadion Abdurrahman Saleh di Situbondo. Namun, jarak yang ditempuh lumayan jauh. Otomatis, menambah cost transportasi. 

Alternatif lain yang jauh lebih murah disebutkan Didik adalah mengoptimalkan potensi yang ada. Dijelaskannya, saat ini Kabupaten Probolinggo memiliki lapangan Bulang yang kondisinya memenuhi standar regional. 

Tekstur lapangannya disebutkan cukup baik. Selain itu, ukurannya 110 x 90 meter. Ukuran itu memenuhi standar regional 110 x 75 meter. “Lapangan Bulang memungkinkan, kalau dibenahi dengan beberapa pembangunan,” jelas Didik. Diantaranya dilengkapi ruang ganti pemain dan toilet.

Soal pembangunan itu, ada dua alternatif. Yakni dibangun pemerintah desa (pemdes) setempat atau dibangun dengan menggandeng swasta. 

Kepala Desa Bulang, Nur Hasan sendiri menjelaskan, rencana pembangunan lapangan setempat sudah ada di RPJMDes (rencana pembangunan jangka menengah desa). Namun, rencananya baru direalisasikan pada 2019 mendatang.

“Jika dibutuhkan Persikapro, kami sangat bersyukur. Bila mendesak, rencana pembangunan lapangan itu bisa dimajukan 2018. Tentunya dengan mekanisme yang berlaku, yakni dibahas bareng seluruh elemen desa lebih dulu. Kalau ada lampu hijau, bisa digarap. Kami optimistis,” jelasnya. 

Didik sendiri berharap, bisa memanfaatkan lapangan Bulang. “Kalau dari kami, memang diprioritaskan lapangan di wilayah sendiri. Sehingga, anak-anak bisa terbiasa main di lapangan sendiri. Selain itu, jauh lebih dekat. Rencananya, pada 20 Desember juga akan kami coba untuk kegiatan YTL Cup U 12,” terangnya. 

(br/hil/mie/mie/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia