Rabu, 17 Jan 2018
radarbromo
icon-featured
Cerpen

Aku Dengan Kepergiannya

Minggu, 03 Dec 2017 13:05 | editor : Radfan Faisal

cerpen, aku dengan kepergiannya

ILUSTRASI (Abdul Wahid/Jawa Pos Radar Bromo)

Aku melihatmu berlari memendam kecewa yang mendalam, karena tak dapat mengerti inginmu. Tangismu menyiratkan kesedihan dan kesal yang membuatku hanya dapat memaku melihatmu berlalu dariku. Guratan amarah itu menyirat tegas di wajahmu dan tak ada lagi yang dapat kuperbuat untuk membayar rasa bersalah ini. Aku ingin abaikan semuanya dan menggenggam erat tanganmu dan berlari bersamaku. Namun, kakiku terjerembab dan harus berhenti.

***

“Sudah kubilang jangan mendekati Ratmi. Masih banyak gadis lain yang lebih baik darinya,” suara itu berasal dari pria tua itu sambil bersandar di antara dinding dan jendela yang terbuka di teras. Dia menggapit lembaran kertas sigaret dan menggulungnya dengan tembakau dan cengkih yang ia racik sendiri.

“Tapi kami saling mencintai, Mbah,” ujarku tanpa berusaha membantahnya.

“Cinta itu bisa berubah seiring berjalannya waktu,” imbuh kakek.

“Orang saling cinta kok dilarang toh, Mbah,” kata kakak perempuan yang duduk di sebelahku, menggendong anak laki-lakinya.

“Ratmi itu seorang janda dan punya dua anak yang sudah besar. Sedangkan Rian itu masih muda dan lajang. Baru menikah saja Rian sudah harus bingung mikir biaya sekolah anak Ratmi,” sergah Mbah yang rambutnya dipenuhi uban, namun masih terlihat kekar dengan batangan rokok berasap yang terus diisapnya.

“Tapi apa yang dibilang Mbahmu itu ada benarnya lho, Yan. Sebaiknya dipikirkan lagi keputusanmu untuk menikahi Ratmi,” sahut ibuku yang datang dari arah dapur membawa secangkir kopi permintaan kakek.

“Masalah ekonomi itu rumit setelah menikah. Menikah itu tidak hanya menyatukan dua hati seperti yang banyak orang katakan. Tapi juga menyambung hubungan baru dengan keluarga lain dan kamu harus beradaptasi dengan kebiasaan mereka,” ujar kakek memberikan nasehat.”Apalagi kamu baru lulus kuliah dan baru mengenal satu wanita saja sudah mengajaknya menikah,” imbuhnya.

Aku hanya diam tak berani mengeluarkan suara. Kakak perempuanku juga mulai memberikan wejangannya dan memberikan saran agar menuruti nasehat kakek. Karena merasa tak ada yang mengerti, aku pergi meninggalkan mereka.

***

“Aku mengerti, Mas. Usia kita terpaut cukup jauh. Akan banyak pihak yang tak akan menyutujui hubungan kita,” ucap Ratmi.

“Tapi, aku tak peduli. Aku tak mau dengar omongan orang lain. Yang menjalani hubungan ini kan kita, bukan mereka. Kita tak perlu dengarkan omongan mereka,” kataku meyakinkan Ratmi.

“Sebelum hubungan kita semakin jauh, sebaiknya kita berpisah sekarang saja, Mas,” kata Ratmi putus asa.

Aku mengingat ucapan Ratmi kala itu. Mengingatnya membuatku terenyuh dan merasa sangat berdosa.

Aku sangat mengagumi sikap Ratmi yang begitu tangguh sebagai orang tua tunggal bagi kedua anaknya yang baru menginjak sekolah dasar dan taman kanak-kanak. Ia tak pernah mengeluhkan masalah kehidupannya padaku. Malah memberikan semangat dan membuatku semakin dewasa bersikap.

Aku mengenal Ratmi ketika tak sengaja menumpahkan mangkuk baksonya saat jam istirahat kerja. Kami bekerja di tempat yang sama sebagai buruh pabrik. Dengan menraktirnya makan bakso, itulah cara kami berkenalan.

Mengingat perkataan kakek menjadikanku tak tenang melakukan banyak hal. Apa yang dapat kuperbuat untuk menyakinkan keluargaku. Sedang aku baru bekerja satu tahun ini dengan tanggungan motor cicilan dan terkadang masih meminta uang bensin pada ibu.

Melihat rumah tangga kakakku yang sering cekcok masalah ekonomi, membuatku ikut pusing. Utangnya berjibun dan suaminya hanya seorang tukang las.

Aku mengambil satu batang rokok dan membakarnya, menghisapnya dalam-dalam. Aku menatap langit yang begitu cerah dengan awan yang berjalan beriringan. Menghembuskan asap perlahan ke udara, seolah berada di langit. Lantas menghela napas panjang, karena merasa banyak beban.

Aku menarik tasku dan menuju halaman depan dan menaiki motor kemudian menarik gas, pergi.

****

“Mas. Aku dengar dari para tetangga kalau keluargamu tak menyutujui rencana pernikahan kita. Aku sudah menduga hal itu akan terjadi,” ujar Ratmi, ketika aku menemuinya di rumahnya.

“Memang sebaiknya kita tidak bertemu untuk saat ini,” kataku perlahan.

”Apa, Mas?” kata Ratmi tekejut dan mencoba menegaskan kembali ucapanku.

“Aku bingung Ratmi. Kelihatannya orang tuamu juga tidak begitu menyukaiku,” kataku merendahkan nada suaraku tanpa melihat wajah Ratmi.

“Mas kan pernah bilang jika kita yang menjalani hubungan ini, bukan mereka. Kita makan juga tidak minta mereka. Lantas kenapa kamu sekarang berubah, Mas?”

“Bukan begitu Ratmi. Kalau kita terus bertemu, keluargaku akan semakin mendesakku untuk memutuskan hubungan kita. Apalagi Mbahku. Beliau begitu tidak menyukai hubungan kita. Mbah itu orangnya keras kepala.”

“Aku sudah pernah bilang kan dulu untuk segera mengakhiri hubungan kita. Setelah semua terjadi, kamu dengan mudahnya berkata begitu. Aku kadung menaruh hati padamu dan yakin akan perasaanmu, Mas,” kata Ratmi mulai meneteskan air mata.

“Maafkan aku, Ratmi. Tapi apa yang bisa kuperbuat saat ini. Aku bingung,” ucapku lirih seraya memohon dan menggenggam tangan Ratmi.

“Pasti ada wanita lain,” tukasnya cepat.

“Apa maksud perkataanmu, Ratmi?” aku tersentak dan memandang wajahnya yang terus menangis.

***

Langit sore kali ini begitu jingga. Matahari seolah enggan segera mempercepat langkahnya, mungkin ia masih ingin memberikan terangnya. Aku duduk menekuk lutut menaruh satu tanganku di atas lutut yang lain dan bersandar di kursi dekat jendela di teras. Aku menunggu langit segera gelap dengan hanya mengisap batangan berasap ini. Sepulang kerja rasanya malas memasuki rumah.

“Ayah bisa mengerti perasaanmu. Akan tetapi apa yang dikatakan kakekmu itu memang benar. Kau harus mempersiapkan mentalmu menghadapi kehidupan baru, semua tak semudah kelihatannya. Kau harus yakin dengan hatimu dan berpikir lebih dewasa untuk mengambil tanggung jawab baru.”

“Ayah!” pekikku. Aku terkejut dan terdiam lama seraya menerka-nerka ucapan ayah. Ternyata aku bermimpi bertemu ayah.

”Rian. Ngapain kamu tidur di luar, segera masuk! Tidak baik Maghrib begini tidur,” teriak Ibu.

****

Enam bulan kemudian aku mendengar Ratmi menikah dengan seorang duda tak memiliki anak yang bekerja sebagai teknisi. Aku memang memutuskan untuk bekerja di luar kota dan mengatakan pada Ratmi akan kembali tiga tahun lagi. Jika aku kembali, aku akan segera meminangnya. Ternyata Ratmi tak yakin dengan ucapanku dan memilih menikah lebih dulu. Aku kecewa menerima kabar ini. Namun, mungkin ini adalah jalan kami untuk menggapai kebahagiaan masing-masing.



Oleh Indri Suryati. Tinggal di Purworejo, Pasuruan

(br/jpk/rf/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia