Senin, 23 Oct 2017
radarbromo
icon featured
Pasuruan

Mandi di Kali, Bapak Dua Anak Asal Lebak Diduga Hanyut

Kamis, 12 Oct 2017 15:05 | editor : Fandi Armanto

hanyut di kali

PANTAU SUNGAI: Warga Desa Lebak memantau kondisi sungai Lebak yang menjadi DAS sungai Rejoso, Kamis (12/10) pagi. Di sungai inilah Saifudin hanyut dan belum ditemukan hingga sore hari. (M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

WINONGAN – Warga Desa Lebak, Kecamatan Winongan, Kamis (12/10) dibuat heboh. Ini lantaran ada warga setempat, yang diduga terjatuh dan hanyut, saat mandi di sungai Lebak yang menjadi daerah aliran sungai (DAS) Rejoso. 

Warga yang diduga hanyut itu diketahui bernama Saifudin, 50, warga RT 1 RW 3 Dusun Gondang, desa setempat. Warga menduga Saifudin hanyut karena tiba-tiba menghilang saat sedang mandi di sungai sedalam 2 meteran. Apalagi, sehari sebelumnya, Saifudin juga sempat hanyut di lokasi yang sama, namun berhasil diselamatkan warga.

Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, insiden hanyutnya Saifudin terjadi sekitar pukul 09.00. Pagi itu Saifudin memang meminta untuk mandi di sungai Lebak. Mandi di sungai adalah sebuah kebiasaannya. Bahkan hampir setiap hari, Saifudin mandi di sungai yang sama.

tenggelam

BANTU PENCARIAN : Warga Desa Lebak menyisiri tepi sungai Lebak untuk mencari Saifudin yang tiba-tiba menghilang saat mandi di sungai setempat, Kamis (12/10). (M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Saat itu pihak keluarga sebenarnya keberatan. Karena sehari sebelumnya yakni Rabu (11/10), Saifudin sempat hanyut saat mandi di sungai. Beruntung waktu itu Saifudin berhasil diselamatkan warga, yang kebetulan juga sedang mandi di sungai.

Tak disangka keesokan harinya atau Kamis (12/10), Saifudin meminta lagi. Alasannya, kepalanya terasa pusing. Keluarga pun tak bisa menolak, karena khawatir, kalau ditolak, penyakit pusing yang sering melanda Saifudin, kambuh lagi. 

Singkatnya, Saifudin diperbolehkan keluarga. Hanya saja waktu itu Saifudin mendampingi. Bahkan warga sekitar, juga dipesani untuk ikut menjaga Saifudin. Selang beberapa menit kemudian, tiba-tiba Saifudin tak ditemukan di lokasi. Padahal waktu itu, banyak yang melihat.

Seketika itu juga keluarga dan warga sekitar, melakukan pencarian. Mereka menyusuri jembatan kecil, sampai memeriksa semak-semak di pinggir sungai. Namun upaya pencarian belum berhasil. Bahkan sampai berita ini diturunkan, puluhan warga masih melakukan pencarian.

Supardi, ayah Saifudin yang ditemui di lokasi kejadian, membenarkan insiden yang dialami anaknya. Menurut Supardi, Saifudin memang punya penyakit kambuhan. “Entah apa namanya, tapi dia (Saifudin) sering mengeluh sakit di kepala. Sudah beberapa tahun ini penyakitnya sering kambuh,” beber Supardi.

Saifudin, kata Supardi, juga punya kebiasaan mandi di sungai. Termasuk sebelum diduga hanyut Kamis pagi, Saifudin terus meminta agar diizinkan mandi di sungai. “Semula keluarga sempat khawatir, karena sehari sebelumnya, dia (Saifudin) sempat hanyut. Tapi berhasil diselamatkan sekitar 50 meter dari lokasi hanyut,” beber Supardi.

Karena itulah, saat Saifudin meminta untuk mandi di sungai lagi, keluarga tak bisa menolak. Keluarga khawatir, Saifudin marah dan penyakitnya kembali kambuh. Dengan pengawalan, akhirnya keluarga ikut mengantar ke sungai.

Di sungai, Saifudin yang sudah memiliki dua anak tersebut, mandi seperti biasa. Bahkan dia berenang-renang di sungai yang saat itu arusnya cukup kencang tersebut. Dan saat asyik berenang itulah, petaka terjadi. Tiba-tiba Saifudin menghilang, walau banyak warga memantaunya. 

(br/fun/ube/fun/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia