Selasa, 12 Dec 2017
radarbromo
icon featured
Probolinggo

Produksi Bawang Merah Lebihi Target, Ini Rahasianya

Selasa, 10 Oct 2017 12:00 | editor : Muhammad Fahmi

bawang, bawang merah, biru lancor

KOMODITAS UNGGULAN: Aktivitas penjualan bawang merah di pasar bawang Dringu. Tahun ini produksi bawang merah di Kabupaten Probolinggo berhasil lampui target. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

DRINGU - Pertanian bawang merah di Kabupaten Probolinggo, benar-benar cukup produktif. Belum sampai akhir tahun, target produksi bawang merah yang ditetapkan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo sudah melampaui target.

Sepanjang 2017 ini, DKPP menarget dapat memproduksi bawang merah 54.880 ton. Namun, sejauh ini sudah terealisasi 60.399 ton. Artinya, produksi bawang merah itu sudah melebihi target meski belum tutup tahun.

Kepala DKPP Ahmad Hasyim Ashari mengatakan, selama ini pihaknya terus meningkatkan produksi bawang merah. Salah satunya dengan mengimbau para petani ketika masa tanam bawang merah menggunakan bibit berkualitas. Sebab, bibit berkualitas akan memperngaruhi produksi bawang.

“Selain itu, kami juga mengimbau warga untuk mengurangi pestisida kimia dan kembali ke pestisida organik. Sebab, jika menggunakan pestisida kimia tanah yang ditanami akan padat dan mengikat umbi bawang. Sehingga, tidak banyak membuahkan umbi,” ujarnya.

Bukan hanya imbauan yang dilakukan DKPP untuk meningkatkan produksi bawang merah. Tapi, juga memberikan bantuan berupa bibit bawang merah berkwalitas sebanyak 120 ton yang ditanam di lahan petani seluas 100 hektare.

“Kami juga memberikan bantuan kepada para petani berupa bibit bawang merah. Dengan bibit ini petani bisa memproduksi bawang merah melebihi target yang kami tentukan,” ujarnya.

Selain itu, menurut Hasyim, pihaknya juga memberikan bantuan berupa pupuk organik kepada petani bawang merah. Tujuannya, agar para petani mengurangi penggunaan pestisida kimia yang dapat merusak kegemburan tanah.

“Ada juga bantuan pupuk. Bantuan ini setara dengan uang Rp 4 miliar. Itu kami lakukan untuk mengurangi jumlah pemakaian pestisida kimia. Sehingga, mereka nanti menggunakan pestisida organik seperti yang dulu,” ujarnya.

(br/sid/mie/mie/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia