Selasa, 17 Oct 2017
radarbromo
icon featured
Features

Kondisi Terminal di Pasuruan-Probolinggo usai Diambil Alih Pusat

Senin, 09 Oct 2017 11:20 | editor : Fandi Armanto

terminal, terminal bayuangga, terminal sepi, terminal probolinggo

DIKELOLA PUSAT: Potret kondisi terakhir di terminal Bayuangga. (Ridhowati Saputri/Jawa Pos Radar Bromo)

Sejak Januari 2017, sejumlah terminal di Probolinggo-Pasuruan, resmi diambil alih Pemerintah Pusat. Secara otomatis, pemasukan dari terminal ke daerah kini tak ada. Bagaimana kondisi terminal-terminal itu setelah diambil alih?

------------

Ada tiga terminal di Probolinggo-Pasuruan yang kini pengelolaannya resmi diambil pemerintah pusat. Terminal itu adalah terminal Bayuangga di Kota Probolinggo; terminal Untung Suropati atau Blandongan (Kota Pasuruan) dan terminal Pandaan (Kabupaten Pasuruan).

Ketiga terminal itu sama-sama bertipe A. Diantara ketiga terminal itu, mungkin terminal Bayuangga dan Pandaan, yang paling ramai dari segi traffic kendaraan, utamanya bus yang masuk untuk mengangkut penumpang. Sementara di terminal Blandongan, hanya sedikit penumpang yang datang kesana. Sehingga kendaraan seperti bus, jarang mampir kesana.

Meski kini sudah diambil pusat, kondisi ketiga terminal ini rupanya belum ada perubahan signifikan di tiga terminal tersebut. Tambahan fasilitas umum, juga masih sama seperti ketika dikelola pemerintah daerah. Kebersihan di tiga terminal tersebut juga masih sering dikeluhkan oleh pengunjung.

Di terminal Bayuangga bahkan menjadi perhatian dari DPRD Kota Probolinggo, yang pekan ini mengunjungi Kementerian Perhubungan. Mereka kesana untuk mempertanyakan progres perawatan terminal usai peralihan ke Pemerintah Pusat.   

Hanya saja Budi Harjo, selalu Koordinator Terminal Bayuangga mengungkapkan banyak perubahan yang terjadi pada terminal Banyuangga setelah peralihan ke Pemerintah Pusat. Namun perubahan itu masih dalam bentuk keorganisasian terminal. Jika dahulu Unit Pelaksana Teknis, kini menjadi Sub Unit Terminal Tipe A Terminal Bayuangga.

“Sekarnag semua PNS disini tidak ada jabatan khusus. Kalau dulu saya sebagai kepala UPT, sekarang hanya sebagai koordinator,” ujarnya.

Begitu juga dengan kondisi terminal. Budi menilai, banyak berubah. Seperti jalan akses masuk terminal sudah diperbaiki oleh pemerintah pusat. “Memang tidak serta merta langsung berubah, karena untuk pengajuan perbaikan pun harus antre,” ujarnya.

Disinggung mengenai kondisi kebersihan, Budi Harjo memastikan bahwa kondisi terminal bersih. Fasilitas pun dilengkapi seperti ruang laktasi.

Hanya saja kondisi berbeda terjadi, saat Jawa Pos Radar Bromo mengunjungi terminal ini. Memasuki halaman depan terminal yang luas dan rindang, hanya ada sekitar 10 mobil yang parkir. Yang menjadi perhatian, daftar jadwal keberangkatan nampak kosong. Tidak ada jadwal tercantum tujuan keberangkatan bus.

Di dekat ruang tunggu penumpang terdapat jadwal keberangkatan bus khusus Patas yang ditempelkan dalam kotak kaca yang berdebu. Selain juga ada daftar tarif angkutan bus yang dibuat pada tahun 2008.

Terminal Bayuangga memang telah memiliki ruang laktasi yang ada di dekat ruang tunggu penumpang. Ruang tersebut awalnya diperuntukkan untuk ruangan khusus merokok.

Namun sayangnya bau pesing serta bau sampah basah terasa menyengat disebelah ruang laktasi. Hal yang sama juga dirasakan harian ini didepan warung-warung makan.

Ini juga diakui penumpang yang menunggu di ruang tunggu. “Seperti didekat pagar di seberang tempat pemberangkatan bus itu pesing. Saya diturunkan disana untuk oper bus ke Surabaya baunya menyengat,” ujar Marini,30, warga asal Malasan.

Hal yang sama juga dirasakan Juniarto,25, warga Desa Muneng, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo. Menurutnya kondisi diluar dan didalam terminal jauh berbeda.

Sementara itu Agus Rianto, salah satu pedagang makanan di Terminal memiliki pendapat yang berbeda. Dibandingkan dengan sebelum peralihan, kondisi kebersihan di terminal Bayuangga saat ini maish jauh lebih baik. “Tempat-tempat sampah disediakan dimana-mana untuk memudahkan pengunjung membuang sampah. Selain itu juga selalu ada petugas khusus untuk kebersihan,” ujarnya.

Hal serupa juga terjadi di terminal Blandongan. Terminal ini  kondisinya tetap sama, seperti ketika dikelola pemerintah daerah. Epinya terminal bahkan dikeluhkan sejumlah pedagang. Sedikitnya kendaraan yang stand by dan minimnya penumpang pun berdampak terhadap usaha dagang yang mereka jalani. Alhasil, penghasilan para pedagang pun tak menentu setiap harinya.

Keluhan itu diuraikan Supati, misalnya. Salah satu pedagang di terminal itu mengatakan bahwa penghasilannya menjadi tak menentu. Pasalnya, jumlah angkutan umum yang masuk ke terminal pun tak begitu banyak setiap harinya.

“Kalau sepi ya sepi. Kalaupun ramai itu karena ada bus kuning (bus jurusan Pasuruan-Mojokerto), lumayan banyak penumpangnya yang mampir,” jelas Supiati.

Sementara itu, Kasi Pengendalian dan Operasional Dishub Provinsi Jatim UPT LLAJ Probolinggo, M Chiesqiel mengatakan bahwa jumlah angkutan umum yang setiap harinya masuk ke terminal memang hanya puluhan. “Pada hari biasa, bus kuning ada sekitar 80 kendaraan yang masuk. Kalau angkutan umum jurusan Malang-Surabaya lebih sedikit jumlahnya. Perkiraan lebih dari 50 kendaraan. Peningkatan jumlahangkutan yang masuk itu pada hari besar, seperti Lebaran,” rincinya.

Namun Chiesqiel membantah apabila sedikitnya jumlah kendaran itu karena banyak angkutan yang tak masuk terminal. Menurut dia, tingkat pengawasan yang dilakukannya selama ini sudah cukup maksimal. “Kami terus mengawasi angkutan-angkutan agar masuk ke terminal. Dimana penumpang juga menunggu di terminal. Apalagi dengan giat operasi yang rutin kami lakukan itu, tujuannya untuk meningkatkan ketertiban angkutan,” tandasnya.

Sementara itu, kondisi yang nyaris sama juga terjadi di terminal Pandaan. Terminal ini juga ramai, saat-saat tertentu saja, seperti libur panjang. Selebihnya, bus utamanya jurusan Malang-Surabaya, memang masuk ke terminal ini.

Namun bus yang masuk kesana, tak ditarik retribusi. Karena sejak diambil alih pusat, perda sudah tidak berlaku lagi.

“Untuk tarif PNPB (penarikan negara bukan pajak) masih dalam pembahasan di pusat. Sekarang masih proses penggodokan. Setahu kami, info dari pusat (SK) segera turun,” kata Kriswanto, kepala Terminal Tipe A Pandaan beberapa waktu lalu.

Dengan begitu, bus dan angkutan penumpang umum lainnya sifatnya hanya melintas saja. Tanpa harus membayar PNPB. Sehingga otomatis pendapatan di lapangan, belum ada.

Walau belum ada retribusi, pengelola terminal tak merasa khawatir. Karena untuk operasional, tetap mendapatkan suntikan dana dari pusat.

terminal, terminal pandaan, terminal sepi

SEPI: Terminal Pandaan. (Rizal F. Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

(br/fun/put/tom/fun/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia